RADARSOLO.COM – Terpuruk di zona degradasi pada paruh pertama BRI Super League 2025/2026, Persis Solo akhirnya bergerak cepat melakukan pembenahan.
Turunnya sang owner, Kaesang Pangarep, yang langsung bertemu perwakilan suporter dan menonton Persis Solo latihan menjadi sinyal awal perubahan besar buat tim ini.
Tak berhenti di situ, manajemen Laskar Sambernyawa juga mulai menyusun langkah konkret di sektor pemain.
Rumor yang beredar, Persis Solo berencana melakukan perombakan besar-besaran dengan mendatangkan 12 pemain baru, terdiri dari 5 pemain asing dan 7 pemain lokal.
Langkah ini memanaskan bursa transfer sekaligus memunculkan spekulasi besar di kalangan publik sepak bola nasional.
Sejumlah nama tenar mulai dikaitkan dengan klub kebanggaan warga Solo tersebut. Mulai dari Stefano Lilipaly, Febri Hariyadi, Terens Puhiri, Nilson Junior, Marin Ljubičić, hingga nama terbaru Maicon Sousa disebut-sebut masuk dalam radar Persis Solo.
Gerak cepat manajemen ini mendapat respons dari kelompok suporter. Salah satu perwakilan Ultras 1923, Beto, menilai langkah awal manajemen sebagai sinyal positif.
Namun, ia menegaskan pentingnya keterlibatan langsung owner dalam setiap keputusan strategis klub.
Menurutnya, pembelian pemain pada periode sebelumnya dinilai minim kontrol dari pemilik klub, sehingga berdampak pada kerugian, baik dari sisi performa tim maupun finansial.
“Cukup baik dengan gerak cepat manajemen, yang kami harap benar-benar dipantau langsung oleh owner. Karena dari beberapa pembelian yang gagal, kami rasa cukup merugikan tim, baik secara performa maupun finansial,” ujar Beto kepada Jawa Pos Radar Solo.
Terkait aktivitas transfer, Ultras 1923 mengaku tidak ingin mencampuri urusan teknis. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pelatih dan manajemen soal siapa pemain yang akan didatangkan atau dilepas.
Namun, Beto menekankan satu hal penting: transfer pemain harus sesuai kebutuhan tim dan tidak dipaksakan.
“Untuk teknis siapa yang datang atau pergi, itu bukan ranah kami. Tapi kalau semua sesuai kebutuhan pelatih dan tidak dipaksakan, kami yakin tim akan berjalan lebih baik dibanding awal musim kemarin,” ujarnya.
Meski tidak mempermasalahkan perombakan skuad, kritik utama Ultras 1923 justru mengarah pada sektor manajemen, khususnya marketing dan finance.
Menurut mereka, dua sektor tersebut membutuhkan pembenahan serius.
Beto menilai, manajemen gagal memaksimalkan nama besar Persis Solo untuk menarik sponsor baru. Proses pencarian sponsor dianggap berjalan lambat dan tidak optimal.
“Kalau ditanya bagian manajemen yang perlu dibenahi, menurut kami marketing dan finance. Marketing karena gagal ‘menjual’ nama besar Persis untuk mendatangkan sponsor, dan finance karena dinilai kurang baik dalam pengelolaan, terutama saat mendatangkan pemain dengan harga yang terkesan overprice,” tegasnya.
Masalah sponsor memang menjadi tantangan tersendiri bagi Persis Solo di awal musim 2025/2026. Klub harus menghadapi masa transisi sponsor utama.
Jika musim lalu Persis disokong Free Fire, musim ini sponsor utama berganti ke Call of Duty Mobile, sementara Bank Aladin tetap bertahan sebagai sponsor.
Selain itu, Persis Solo juga sempat menghadapi kendala finansial lain, seperti keterlambatan kompensasi dari federasi yang berdampak pada pembayaran gaji pemain.
Kondisi ini disinyalir turut memengaruhi stabilitas tim dan performa klub pada paruh pertama BRI Super League 2025/2026.
Kini, dengan keterlibatan langsung owner dan rencana perombakan besar, publik menanti apakah langkah Persis Solo ini benar-benar mampu membawa Laskar Sambernyawa keluar dari zona merah. (hj/nik)