Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Atlet Mengeluh Menu Tuan Rumah, Indonesia Buka Dapur Sendiri di ASEAN Para Games Thailand

Niko auglandy • Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:45 WIB
Suasana dapur untuk mempersiapkan makanan atlet Indonesia di ajang ASEAN Para Games, Thailand.
Suasana dapur untuk mempersiapkan makanan atlet Indonesia di ajang ASEAN Para Games, Thailand.

RADARSOLO.COM – Kontingen Indonesia tak mau ambil risiko soal urusan perut atlet jelang ASEAN Para Games 2025. Demi menjamin asupan nutrisi tetap terjaga, National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) mengoperasikan dapur khusus selama persiapan hingga pelaksanaan ajang multievent tersebut.

Dapur umum ini beroperasi di Chayada Garden House & Resort Hotel, Nakhon Ratchasima, dan melayani kebutuhan konsumsi atlet serta ofisial Indonesia sepanjang 20–26 Januari 2026.

Langkah ini diambil menyusul sejumlah kendala konsumsi yang dialami atlet, khususnya terkait kecocokan menu dari pihak penyelenggara.

Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Rima Ferdianto mengungkapkan, pengoperasian dapur khusus berangkat dari pengalaman di sejumlah event internasional sebelumnya. Banyak atlet mengeluhkan menu tuan rumah yang kurang sesuai dengan kebutuhan nutrisi maupun selera atlet Indonesia.

“Tujuan utama kami tentu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi atlet. Dari pengalaman event-event sebelumnya, banyak atlet yang kurang cocok dengan masakan tuan rumah. Itu bisa berpengaruh pada kondisi fisik dan performa,” ujar Rima, Sabtu (17/1/2026).

Masalah konsumsi bahkan ditemukan di beberapa venue cabang olahraga. Dari tujuh cabor yang berlaga di lokasi berbeda, kualitas makanan tidak sepenuhnya merata. Kondisi itu memicu keluhan atlet dan membuat tim NPC Indonesia bergerak cepat.

“Ada beberapa venue yang kualitas makanannya kurang layak dibandingkan venue lain. Keluhan atlet cukup banyak. Karena itu, dapur umum yang awalnya hanya untuk makan siang, akhirnya kami operasikan juga untuk sarapan,” jelas Rima.

Setiap pagi, dapur khusus ini menyiapkan 300 porsi sarapan, sementara 600 porsi lainnya disediakan untuk makan siang. Total, sekitar 900 porsi makanan diproduksi setiap hari demi memastikan kebutuhan energi atlet tetap tercukupi.

“Kami khawatir jika asupan nutrisi pagi hari tidak optimal, dampaknya akan terasa saat atlet bertanding,” imbuhnya.

Urusan kebersihan dan ketepatan waktu menjadi perhatian utama. Head Chef kontingen Indonesia Muhammad Shaban Farooq menjelaskan, seluruh proses pengolahan makanan dilakukan dengan standar ketat demi menjamin higienitas dan keamanan konsumsi.

“Setiap staf wajib menggunakan masker, sarung tangan, dan penutup kepala. Daging mentah dan matang juga harus dipisahkan untuk mencegah kontaminasi,” ujar chef asal Pakistan tersebut.

Shaban juga memastikan bahan makanan disimpan sesuai standar. Daging yang dibeli sehari sebelumnya disimpan dalam suhu ideal di freezer agar kualitasnya tetap terjaga hingga diolah.
Selain kebersihan, tantangan terbesar adalah ketepatan waktu.

Produksi ratusan porsi makanan, termasuk proses pengemasan, harus selesai sesuai jadwal distribusi ke masing-masing cabang olahraga.

“Menyiapkan konsumsi untuk lebih dari 500 orang tentu soal waktu menjadi tantangan utama. Kami harus sangat disiplin,” katanya.

Isu halal juga menjadi perhatian serius. Shaban menegaskan, seluruh bahan makanan yang digunakan telah melalui proses seleksi ketat dan dipastikan sesuai standar halal.

“Untuk daging sapi dan ayam, kami hanya membeli dari toko bersertifikat halal. Produk makanan beku pun harus berlabel halal. Ini hal yang tidak bisa ditawar,” tetangnya. 

Pada ASEAN Para Games 2025, Indonesia menurunkan 290 atlet yang akan bertanding di 18 cabang olahraga. Kontingen Merah Putih membidik target ambisius: 82 emas, 77 perak, dan 77 perunggu. (nik) 

 



Editor : Niko auglandy
#Indoensia #ASEAN Para Games #thailand #apg