RADARSOLO.COM – Dokter tim Persis Solo, dr. Iwan Wahyu Utomo, membeberkan kronologis lengkap cedera serius yang dialami bek senior Laskar Sambernyawa, Rian Miziar, saat menjalani sesi latihan tim di Lapangan Pusporenggo, Boyolali, Jumat pekan lalu (17/1/2026).
Insiden tersebut terjadi pada sesi game internal tim, ketika Rian Miziar terlibat benturan keras dengan salah satu rekan setimnya. Identitas pemain yang bertabrakan sengaja dirahasiakan karena keduanya sama-sama mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
“Kejadiannya saat latihan permainan. Mas Rian bertabrakan dengan salah satu pemain Persis. Namanya memang kami samarkan karena yang bersangkutan juga trauma. Baik yang ditabrak maupun yang menabrak sama-sama sedih,” ujar dr. Iwan kepada Jawa Pos Radar Solo.
Benturan terjadi dalam situasi yang cukup fatal. Rian berada dalam posisi sliding akibat lapangan yang licin, sementara pemain lain melakukan gerakan balik badan.
Dalam momen tersebut, rahang atau pipi kanan Rian berbenturan langsung dengan lutut pemain lain.
“Benturannya sangat keras. Posisi Mas Rian jatuh sliding, sementara pemain lain balik badan. Rahang kanan Mas Rian langsung mengenai lutut. Terdengar bunyi keras dan Mas Rian sempat seperti tidak sadarkan diri,” jelasnya.
Tim medis yang selalu siaga di sisi lapangan langsung menghampiri Rian sesaat setelah kejadian. Beruntung, hanya dalam hitungan detik Rian kembali membuka mata dan bisa berkomunikasi, meski kondisinya cukup mengkhawatirkan.
“Beberapa detik kemudian dia membuka mata. Tapi memang ada pendarahan cukup banyak di dalam mulut. Setelah kami cek, rahangnya ternyata patah di dua titik, sehingga posisi gigi tampak tidak simetris,” kata dr. Iwan.
Meski tidak bisa berbicara dengan jelas akibat cedera rahang, Rian masih dapat merespons dengan baik. Tim medis segera membersihkan darah di dalam mulut dan menstabilkan kondisi pemain.
“Dia tidak merasa pusing, tidak mual, tidak muntah. Sekitar 10 menit kemudian bisa duduk, ganti baju, dan langsung kami larikan ke Rumah Sakit JIH Solo karena fasilitasnya lengkap dan paling cepat dijangkau,” imbuhnya.
Setibanya di rumah sakit, Rian langsung menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari CT scan kepala, rontgen thorax, hingga pemeriksaan rahang.
“Hasil CT scan normal, tidak ada pendarahan di kepala. Thorax juga normal. Tapi di rontgen rahang terlihat patah di dua tempat, satu di bagian depan rahang kanan dan satu lagi di bawah telinga kanan. Secara medis disebut fraktur mandibula,” jelas dr. Iwan.
Insiden tersebut terjadi pada hari Jumat, dan operasi langsung dilakukan Sabtu pagi pukul 11.00 WIB. Hasil operasi dinyatakan berjalan lancar dengan hasil yang baik.
“Operasi berjalan bagus. Untuk pemulihan awal sebenarnya cukup cepat. Dua minggu kontrol, lalu evaluasi. Setelah itu latihan bicara dan fisioterapi untuk menggerakkan rahang agar kembali normal,” terangnya.
Namun demikian, peluang Rian untuk segera kembali merumput belum bisa dipastikan. Cedera rahang membuatnya mengalami keterbatasan dalam mengonsumsi makanan, yang berpengaruh langsung pada kondisi fisik dan performa.
“Mungkin banyak yang berpikir ini cuma rahang, bukan kaki. Tapi dengan kondisi hanya bisa makan bubur sementara waktu, jelas berpengaruh pada fisik dan kebugaran. Untuk kembali ke level performa terbaik, pasti butuh waktu lebih lama,” ungkap dr. Iwan.
Selain fisik, faktor trauma mental juga menjadi perhatian utama tim medis. Menurut dr. Iwan, insiden tersebut nyaris fatal dan meninggalkan dampak psikologis bagi kedua pemain yang terlibat.
“Cedera ini jelas menimbulkan trauma. Baik Mas Rian maupun pemain yang menabrak akan trauma sekali. Perasaan itu sangat kental karena kejadiannya cukup fatal. Tapi ini murni sepak bola, tidak ada yang salah,” tegasnya.
Meski secara teori Rian bisa kembali berlatih dalam waktu satu hingga dua bulan, faktor trauma menjadi variabel yang sulit diprediksi.
“Trauma itu datang dan sembuhnya tidak bisa dipastikan. Semua tergantung kesiapan pemain. Jadi kami masih menunggu perkembangan dan hasil konsultasi lanjutan dengan dokter operator,” tambahnya.
Terkait pendampingan psikologis, Persis Solo memutuskan tidak memberikan penanganan formal. Status Rian sebagai pemain paling senior dan bermental kuat menjadi pertimbangan utama.
“Kami tidak memakai psikolog secara resmi. Rian pemain berpengalaman dan mentalnya sangat kuat. Setelah operasi, hampir semua pemain menjenguk dan memberi dukungan. Itu sudah sangat membantu,” pungkas dr. Iwan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy