RADARSOLO.COM – Masuknya sejumlah pemain asing asal Serbia ke skuad Persis Solo pada bursa transfer paruh musim BRI Super League 2025/2026 langsung memantik perhatian publik sepak bola di Kota Solo. Tiga nama yang merapat—Vukasin Vranes (kiper), Dusan Mijic (bek), dan Miroslav Maricic (gelandang)—terbilang benar-benar “asing di telinga”, lantaran belum pernah merasakan atmosfer sepak bola Indonesia.
Meski minim rekam jejak di Tanah Air, kehadiran trio Serbia itu otomatis membawa ekspektasi besar. Publik Solo Raya berharap Persis tidak kembali “membeli kucing dalam karung”, mengingat pengalaman perekrutan pemain asing pada musim-musim sebelumnya yang tak selalu berujung manis.
Kedatangan pemain asing tentu diharapkan menjadi solusi instan untuk mendongkrak performa tim yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi. Tak heran jika publik kemudian berspekulasi soal sosok di balik layar perekrutan tersebut.
Nama pelatih kepala Milomir Seslija dan Yahya Alkatiri -kabarkan akan menjabat sebagai Direktur Olahraga Persis Solo- yang kerap disebut memiliki peran besar dalam perekrutan di bursa transfer kali ini.
Milomir Seslija, atau akrab disapa Milo, dikenal memiliki jaringan luas di kawasan Eropa Timur. Pelatih asal Bosnia itu juga dinilai memahami karakter pemain Balkan yang identik dengan fisik kuat, disiplin tinggi, serta mental kompetitif.
Di sisi lain, bergabungnya Yahya Alkatiri ke dalam manajemen disebut-sebut membawa arah baru dalam peremajaan skuad Laskar Sambernyawa, mengingat dia berpengalaman saat menjadi manajer Persebaya Surabaya.
Namun, isu tersebut ditepis langsung oleh Direktur Utama Persis Solo Ginda Ferachtriawan. Dia menegaskan bahwa proses perekrutan pemain asing dilakukan secara kolektif dan profesional, bukan berdasarkan rekomendasi individu tertentu.
“Tidak. Jadi bisa saya sampaikan bahwa sekarang itu Mas Rimbo selaku komisaris dan owner-owner lain melakukan diskusi. Kita semua berdiskusi dalam pemilihan pemain mana yang bisa kita ambil dan mana yang tidak,” ujar Ginda kepada Jawa Pos Radar Solo.
Menurutnya, tim pelatih memang dilibatkan untuk memberikan masukan sesuai kebutuhan taktik. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen melalui proses evaluasi menyeluruh, termasuk menimbang kualitas pemain dan kecocokan nilai kontrak.
“Tidak ada titipan dari Coach Milo (Sapaan akrab Milomis Seslija) ataupun Mas Yahya Alkatiri. Jadi jangan dicocok-cocokin,” tegas Ginda.
Ginda juga menegaskan bahwa manajemen Persis belajar dari pengalaman masa lalu agar tak kembali gagal dalam perekrutan pemain asing, termasuk berkaca pada kasus Mateo Kocijan yang sempat menuai sorotan.
“Yang ada kita belajar dari pengalaman tahun kemarin sampai hari ini. Banyak juga yang tanya lewat media sosial. Ojo kapusan brosus maneh,” ucapnya.
Dengan bursa transfer paruh musim yang masih terbuka hingga Februari mendatang, peluang Persis untuk kembali menambah kekuatan skuad masih terbuka lebar. Namun, manajemen memastikan setiap langkah akan dilakukan secara terukur dan hati-hati agar pemain yang datang benar-benar sesuai kebutuhan tim dan mampu memberi dampak langsung.
Kini, tantangan Persis Solo bukan sekadar soal komposisi pemain, tetapi juga bagaimana seluruh elemen—pemain, pelatih, manajemen, dan suporter—mampu bersatu menghadapi tekanan di paruh kedua musim. Dukungan penuh dari tribun Stadion Manahan diharapkan menjadi energi tambahan bagi Laskar Sambernyawa untuk bangkit, menjauh dari zona degradasi, dan kembali menunjukkan performa terbaik di laga-laga krusial BRI Super League 2025/2026. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy