RADARSOLO.COM – Persis Solo akhirnya resmi menerima sanksi dari operator kompetisi buntut aksi penyalaan flare oleh oknum suporter saat laga kandang di Stadion Manahan. Klub berjuluk Laskar Sambernyawa itu dijatuhi sanksi denda sebesar Rp 250 juta.
Direktur Utama Persis Solo Ginda Ferachtriawan mengatakan, keputusan sanksi tersebut telah diterima manajemen sejak pekan lalu. Menurutnya, sanksi yang dijatuhkan hanya berupa denda tanpa hukuman tambahan lainnya.
“Informasinya, kalau tidak salah minggu lalu kami sudah menerima keputusan. Sanksinya denda sebesar Rp 250 juta. Hanya itu saja,” kata Ginda, Rabu (21/1).
Ginda menyebut, Persis terhindar dari sanksi tambahan lantaran dalam pertandingan tersebut tidak terjadi kericuhan maupun gangguan keamanan yang serius.
“Kami sebelumnya juga sudah sampaikan, setelah pertandingan tidak ada kericuhan. Jadi kami tidak kena sanksi tambahan,” jelasnya.
Meski hanya berupa denda, Ginda mengakui nilai sanksi tersebut cukup besar dan menjadi beban tambahan bagi klub. Terlebih, Persis saat ini masih membutuhkan anggaran untuk melakukan pembenahan dan perombakan skuad.
“Kalau dilihat dari nilainya, sanksi ini cukup berat juga. Rp 250 juta itu bukan angka kecil. Jelas jadi beban tambahan, apalagi Persis masih ingin merombak beberapa pemain,” ungkapnya.
Manajemen Persis memastikan denda tersebut telah diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, Ginda menegaskan kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
“Pada prinsipnya dendanya sudah. Sudah terbayar. Tapi ini jadi evaluasi besar untuk kami semua,” tegasnya.
Terkait antisipasi ke depan, Ginda menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi dengan kelompok suporter. Ia menegaskan Persis tidak melarang suporter menyampaikan aspirasi maupun kritik, selama dilakukan dengan cara yang sesuai aturan.
“Kami mau sampaikan ke teman-teman suporter, aksi apa pun silakan dilakukan sepanjang sesuai ketentuan. Mau menyampaikan kritik, mau aksi, silakan,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut penyalaan flare sejatinya bisa dilakukan, namun di tempat yang tidak melanggar regulasi pertandingan.
“Menyalakan flare beberapa kali itu kami izinkan, tapi di tempat lain, bukan di stadion. Artinya ke depan, kalau mau aksi atau menyampaikan saran, koordinasinya harus benar-benar baik supaya kejadian seperti kemarin bisa dihindari,” jelas Ginda.
Ginda juga mengingatkan bahwa Persis masih berada dalam pengawasan operator liga. Ia menilai pengulangan kejadian serupa bisa berujung pada sanksi yang lebih berat.
“Ke depan kita masih diawasi. Jangan sampai kejadian ini terulang. Kami butuh dukungan suporter, tapi dukungan yang bersinergi, yang mengarah ke kemenangan dan kebaikan tim,” tegasnya.
Untuk pengamanan laga-laga berikutnya, manajemen memastikan pengawasan akan diperketat. Meski tidak secara spesifik menambah jumlah personel, upaya sosialisasi dan pengamanan berlapis akan ditingkatkan.
“Pengamanan akan kami perketat. Yang utama adalah sosialisasi. Edukasi ke suporter itu penting,” katanya.
Ginda menilai, banyaknya flare yang sempat diamankan petugas menunjukkan aksi tersebut memang direncanakan. Bukan sekadar kelolosan akibat lemahnya pemeriksaan.
“Kalau cuma satu dua flare, bisa dianggap kelolosan atau kurang ketat. Tapi kemarin jumlahnya banyak. Artinya memang ada niat aksi, dan berbagai cara dicoba untuk memasukkan flare. Sebagian lolos, sebagian tidak,” ungkapnya.
Dari hasil evaluasi sementara, manajemen bersama panpel dan aparat keamanan masih menelusuri jalur masuk flare ke dalam stadion. Salah satu dugaan, flare diselundupkan dengan berbagai modus.
“Mungkin dibawa dalam bentuk makanan, atau lewat penonton tertentu, mungkin juga lewat penonton perempuan yang penggeledahannya tidak seketat laki-laki. Tapi ini masih evaluasi,” ujarnya.
Menurut Ginda, pemeriksaan penonton juga memiliki tantangan tersendiri. Jika dilakukan terlalu detail, dikhawatirkan justru menghambat arus masuk penonton yang ingin segera menyaksikan pertandingan.
“Kalau terlalu teliti juga akan memakan waktu, sementara semua ingin cepat masuk stadion. Ini yang harus kita cari titik tengahnya,” jelasnya.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa penyampaian kritik maupun aksi tetap diperbolehkan selama sesuai aturan. Ia mencontohkan sikap suporter saat ada aksi pelemparan botol di tribun.
“Kalau itu bentuk kritik atau saran, silakan. Tapi sesuai ketentuan. Kemarin kan kelihatan, ada yang lempar botol, langsung diamankan. Bahkan sebelum petugas turun, sudah ditegur dan diamankan oleh suporter sendiri,” ujarnya. (atn/bun)
Editor : Niko auglandy