RADARSOLO.COM – Suporter kerap disebut sebagai pemain ke-12 dalam sepak bola. Namun pada laga Persiharjo Sukoharjo melawan Persikama Kabupaten Magelang di leg kedua babak 16 besar Liga 4 Jawa Tengah di Stadion Gelora Merdeka (28/1/2026, dukungan itu justru datang dengan cara berbeda.
Bukan dari tribun stadion, melainkan dari luar pagar arena pertandingan.
Tokoh penggerak Sukoharjo Fans, Murwendy Tanomo, menyampaikan sikap tersebut dalam keterangan pers pada Selasa (27/1/2026) malam.
Dengan nada tenang namun menyentil, dia menegaskan bahwa dukungan terhadap Persiharjo tetap ada, meski tidak diberikan dari dalam stadion.
Menurut Murwendy, laga di Stadion Gelora Merdeka ini, tetap akan menjadi momen penting bagi suporter.
Namun, minimnya komunikasi dan ruang dialog terkait dukungan, atraksi, maupun ekspresi suporter, membuat Sukoharjo Fans memilih mengambil sikap berbeda.
“Besok (28/1/2026) kami tetap mendukung Persiharjo Sukoharjo melawan Persikama, tetapi dukungannya dari luar stadion,” ujar Murwendy dengan nada satir.
Dia menegaskan, langkah tersebut bukan bentuk provokasi. Namun, kondisi yang ada membuat suporter merasa harus menyesuaikan diri dengan berbagai batasan.
Murwendy juga menyinggung narasi stadion ramah anak, ramah perempuan, hingga ramah balita yang selama ini digaungkan.
Menurutnya, upaya suporter Persiharjo untuk bertransformasi secara lebih modern justru kerap berbenturan dengan larangan-larangan.
“Karena itu kami memutuskan mendukung dari luar Stadion Gelora Merdeka. Ini buntut dari banyaknya protes atau keberatan dari pihak otoritas pengelola sepak bola di Kabupaten Sukoharjo,” katanya.
Murwendy menegaskan, Sukoharjo Fans akan tetap setia mengawal perjalanan Persiharjo Sukoharjo. Namun realitas yang dirasakan, suporter justru tidak diberi ruang berekspresi dan tidak dilibatkan dalam diskusi terkait arah dan kemajuan klub.
“Kami merasa kurang diajak bersinergi. Padahal suporter adalah bagian yang tidak terpisahkan dari klub,” ucapnya.
Pilihan mendukung dari luar stadion menjadi simbol sikap Sukoharjo Fans. Loyalitas tetap terjaga, namun ada pesan yang ingin disampaikan: suara suporter dan ruang ekspresi juga layak dihargai.
Bagi komunitas ini, sepak bola bukan sekadar sebelas pemain di lapangan, tetapi juga mereka yang setia berdiri di belakang tim, meski kali ini harus dari luar pagar stadion.
Dikonfirmasi terpisah, Komisaris PT Garuda Mabar, Machmud Luthfi Husain yang menaungi Persiharjo, menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi suporter untuk masuk stadibag
“Tidak ada larangan,” ujarnya singkat melalui aplikasi pesan.
Machmud menilai informasi yang beredar kemungkinan besar merupakan miskomunikasi.
Dia menegaskan Persiharjo sangat membutuhkan dukungan penuh dari Sukoharjo Fans dan seluruh masyarakat Sukoharjo, baik untuk mendongkrak mental pemain, menekan mental lawan, maupun ikut mengawasi jalannya pertandingan.
Ia juga menjelaskan bahwa PSSI memang memberlakukan sanksi tegas berupa denda hingga puluhan juta rupiah jika terjadi pelanggaran suporter.
Di antaranya pemasangan spanduk atau banner bernada menghina, provokatif, berbau politik dan SARA, serta yel-yel yang mengandung unsur rasisme dan diskriminasi.
“Selama hal-hal itu tidak terjadi, maka tidak ada sanksi. Ayo kita dukung Persiharjo supaya menang dengan barokah dan bisa lolos ke perempat final,” pungkasnya. (kwl/nik)