RADARSOLO.COM – Perombakan besar-besaran di kubu Persis Solo masih berlanjut pada paruh kedua BRI Super League 2025/2026.
Setelah kedatangan Cleyton Silva dan Andrei Alba, Laskar Sambernyawa kembali menambah amunisi asing dari Brasil.
Kali ini, Persis resmi menggaet gelandang serang asal Negeri Samba lagi, yakni Dimitri Lima. Dia hadir untuk memperkuat kreativitas permainan di sektor tengah.
Kedatangan Dimitri menjadi penegasan bahwa manajemen Persis Solo tidak ingin berlama-lama berada di papan bawah klasemen.
Performa inkonsisten sepanjang putaran pertama membuat tim membutuhkan sosok kreator baru yang mampu menjembatani lini tengah dan lini depan.
Pemain berusia 25 tahun itu datang dengan rekam jejak menarik. Sebelum merapat ke Tanah Air, Dimitri memperkuat Hwaseong FC di K-League 2, kompetisi yang terkenal dengan tempo tinggi dan tuntutan fisik kuat.
Pengalaman itu dianggap cukup untuk membuatnya cepat beradaptasi di kerasnya atmosfer sepak bola Indonesia.
Usai diperkenalkan secara resmi, Dimitri mengaku siap bekerja keras untuk membantu Persis keluar dari tekanan. Ia menekankan pentingnya kekompakan dan berjanji mengikuti arahan pelatih.
“Tujuan saya adalah mengerahkan kemampuan sebaik mungkin untuk klub ini. Saya akan mengikuti taktik pelatih dan membantu rekan-rekan setim semaksimal mungkin. Semoga kehadiran saya bisa membantu klub keluar dari posisi yang kurang baik,” ujar Dimitri.
Menariknya, Dimitri bukan pemain asing biasa. Ia pernah memperkuat Timnas Brasil U-17, kelompok usia elite yang menjadi fondasi banyak bintang dunia. Bahkan, ia satu angkatan dengan Rodrygo Goes, yang kini menjadi andalan Real Madrid.
Keduanya pernah tampil bersama dalam tiga laga uji coba internasional.
Selain bermain satu tim dengan Rodrygo, Dimitri juga pernah menghadapi calon bintang besar lainnya pada level usia muda, seperti Phil Foden, Jadon Sancho, Sven Botman, hingga Marc Guehi.
Pengalaman menghadapi pemain top sejak dini itulah yang membentuk mental bertandingnya hingga kini.
Meski kariernya tidak melesat secepat Rodrygo, Dimitri memilih jalur berbeda. Ia merantau ke Asia dan mengembangkan diri di kompetisi yang menuntut adaptasi tinggi seperti K-League 2.
Pada musim 2025 bersama Hwaseong, ia mencatat 26 penampilan dengan total 1.033 menit bermain. Mayoritas tampil sebagai pemain pengganti, Dimitri menjadi sosok yang diandalkan untuk mengubah tempo permainan.
Dari sisi kontribusi ofensif, ia mencetak 1 gol dan 1 assist. Angka itu memang tidak mencolok, namun perannya lebih banyak sebagai pengatur serangan dan pembuka ruang.
Statistiknya cukup stabil: 9,7 umpan akurat per laga, akurasi 76 persen, serta 0,5 umpan kunci setiap pertandingan.
Dalam urusan dribel, Dimitri mencatat rata-rata 1,5 dribel sukses dengan tingkat keberhasilan 72 persen—karakter yang dibutuhkan Persis untuk menembus pertahanan lawan.
Manajemen Persis menilai Dimitri sebagai perpaduan antara pengalaman usia muda internasional dan kematangan bermain di level profesional Asia.
Latar belakang pernah satu generasi dengan Rodrygo menjadi nilai tambah, terutama soal mental dan fondasi teknik.
Tantangan sesungguhnya kini ada di depan mata: membuktikan kualitas itu di lapangan Manahan. Publik Pasoepati berharap Dimitri bisa menjadi motor kreativitas baru, sekaligus bagian penting dari misi besar Persis Solo untuk bangkit dan bertahan di sisa musim ini. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy