RADARSOLO.COM — Persis Solo ibarat tim yang mengganti kulitnya dua kali dalam semusim. Putaran kedua baru berjalan tiga laga, namun perubahan wajah Laskar Sambernyawa sudah menjadi sorotan nasional.
Bukan hanya karena performa yang mulai membaik, tetapi juga karena jumlah pemain baru yang mereka datangkan—yang ternyata lebih banyak daripada poin yang berhasil dikumpulkan hingga pekan ke-20.
Dari dua kekalahan tipis 0-1 melawan dua pemuncak klasemen, Persib Bandung dan Borneo FC, serta hasil seri di Derby Mataram kontra PSIM Jogja, muncul satu benang merah: Persis mulai menunjukkan perbaikan.
Kehadiran pemain baru membuat kedalaman skuad meningkat signifikan. Meski belum semua debut dan belum semua diperkenalkan ke publik, beberapa nama yang turun sudah menampilkan performa menjanjikan.
Namun satu hal yang sulit dipungkiri: perombakan besar-besaran ini menyeret Persis ke dalam label yang paling dihindari manajemen—cuci gudang. Sebab faktanya, seluruh pemain asing dari putaran pertama dilepas atau dipinjamkan.
Beberapa pemain lokal ikut terdepak. Total, 17 pemain baru masuk di skuad Persis Solo di putaran kedua ini. Sebuah angka yang melonjak drastis dan langsung menjadi bahan perbincangan.
Direktur Persis Ginda Ferachtriawan menyebut tidak ingin tim dianggap melakukan langkah ekstrem.
“Saya tidak mau seperti tim lain, misalnya kayak Semen Padang yang mengatakan mau cuci gudang. Ya, tidak semudah itu menurut saya. Kami butuh chemistry dan maunya semangat baru dan memberikan yang terbaik,” ujar Ginda kala itu.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Sampai hari ini, Persis sudah resmi mendaftarkan 11 pemain asing baru, di luar nama Clayton da Silva yang gagal registrasi dan kemudian dipinjamkan ke PSMS Medan.
Empat pemain baru berasal dari Serbia: Vukasin Vranes, Dusan Mijic, Miroslav Maricic, dan Dejan Tumbas (didatangkan dari Persebaya).
Empat lainnya dari Brasil: Jefferson Ferreira, Andrei Alba, Dimitri Lima, dan Bruno Gomes yang sudah direkrut dari Semen Padang namun belum diperkenalkan ke publik. Tiga tambahan adalah Luca Dumancic (Kroasia), Roman Paparyha (Ukraina), dan Abu Kamara (Liberia).
“Saya ingin mengatakan kepada teman-teman saya, kita telah berubah. Kita memiliki banyak pertandingan di kandang dan harus menang. Kita harus memberikan segalanya, karena klub ini sangat berharga,” jelas Abu Kamara.
Ironisnya, jumlah 17 pemain baru tersebut lebih banyak dari total poin Persis sejauh ini. Dalam 20 pertandingan, Eky Taufik dkk baru mengumpulkan 11 poin—hasil dari 2 kemenangan, 5 imbang, dan 13 kekalahan. Mereka terdampar di dasar klasemen, menjadikan misi kebangkitan para pemain anyar sebagai pekerjaan besar yang tidak bisa ditunda.
Sementara itu, Persis juga aktif melakukan pergerakan keluar. Setelah meminjamkan Ibrahim Sanjaya ke PSIS Semarang, klub kembali meminjamkan Yulfikar Mansyur ke Kendal Tornado FC.
Dengan sisa musim yang kian menipis, langkah-langkah agresif di bursa transfer ini menjadi taruhan terbesar Laskar Sambernyawa: apakah perombakan besar ini bisa menyelamatkan mereka dari jurang degradasi, atau justru menjadi catatan kelam yang dikenang publik sebagai musim paling penuh kegelisahan dalam sejarah Persis?
“Berdasarkan klasemen saat ini (Persis jadi juru kunci, Red), saya di sini untuk membantu klub menjadi lebih baik. Saya datang untuk memperjuangkan klub tetap berada di Liga ini. Karena hal ini sangat penting bagi saya dan untuk klub,” tegas Kamara. (hj/nik)
PEMAIN BARU PERSIS SOLO
KIPER
- 54-VULKASIN VRANES (Serbia)
BELAKANG
- 6-LUCA DUMANCIC (Serbia)
- 32-KADEK RADITYA (Pinjaman Persebaya Surabaya)
- 44-DUSAN MIJIC (Serbia)
- 13-ALEKVAN DJIN (eks Persela Lamongan)
- 56-ALFRIYANTO NICO (Pinjaman Persija Jakarta)
TENGAH
- 5-ANDREI ALBA (Brasil)
- 88-MIROSLAV MARICIC (Serbia)
- 10-DIMITRI LIMA (Brasil)
DEPAN
- 11-YABES RONI (Pinjaman Bali United)
- 18-FEBRI HARYADI (Pinjaman Persib Bandung)
- 4-ABU KAMARA (Liberia)
- 99-ROMAN PAPARYHA (Ukraina)
- 19-DEJAN TUMBAS (Serbia)
- 97-SEPTIAN BAGASKARA (Pinjaman Dewa United)
- 9-BRUNO GOMES (Brasil)
- 77-JEFFERSON FERREIRA (Brasil)