RADARSOLO.COM – Keputusan manajemen Persis Solo melepas dua pemain kunci, Sho Yamamoto dan Kodai Tanaka, dengan status pinjaman hingga akhir musim memantik gelombang reaksi dari suporter. Tanpa adanya indikasi cedera maupun penurunan performa, langkah tersebut dinilai cukup mengejutkan. Apalagi keduanya masih menjadi bagian penting dalam skema permainan Laskar Sambernyawa.
Sho Yamamoto dikenal sebagai motor lini tengah Persis musim ini. Gelandang asal Jepang itu tampil konsisten dalam 15 pertandingan dan menjadi pengatur ritme permainan tim. Perannya dalam menjaga keseimbangan lini tengah membuatnya kerap menjadi pilihan utama.
Di sisi lain, Kodai Tanaka merupakan tumpuan di lini depan. Ia sempat menjadi top skor sementara Persis sebelum akhirnya dilepas. Produktivitas dan mobilitasnya membuat publik sulit memahami keputusan peminjaman tersebut.
Kehilangan dua pemain kunci secara bersamaan tentu memunculkan tanda tanya. Terlebih, situasi terjadi saat Persis masih berjuang menjauh dari zona degradasi. Stabilitas tim menjadi isu sensitif di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Situasi makin diperumit dengan batalnya proses registrasi Clayton Silva. Pemain asal Brasil yang diproyeksikan menggantikan Kodai Tanaka itu tidak memenuhi regulasi administrasi. Akibatnya, Persis kehilangan opsi tambahan di lini depan.
Reaksi suporter pun bermunculan di media sosial. Kolom komentar akun resmi Persis Solo dipenuhi nada kecewa hingga sindiran. Sebagian mempertanyakan arah kebijakan transfer manajemen.
“Pilih kapusan brosur Brasil timbang mempertahankan pemain sing gelem lari sana sini (Lebih memilih tertipu pemain Brasil daripada mempertahankan pemain yang mau lari sana-sini),” tulis salah satu suporter. Ungkapan tersebut mencerminkan kekecewaan atas keputusan yang dinilai berisiko terhadap performa tim.
Perwakilan Ultras 1923, Beto, menyikapi situasi dengan lebih tenang. Ia tidak secara eksplisit menyalahkan atau membela manajemen. Namun jawabannya menyiratkan realitas yang dihadapi suporter.
“Pemain silih berganti kok, yang abadi cuma suporter,” ujarnya sambil tersenyum.
Kalimat tersebut menjadi refleksi bahwa dinamika skuad adalah bagian dari sepak bola profesional, sementara loyalitas pendukung tetap konstan.
Sebelumnya, manajemen Persis memang telah mewanti-wanti bahwa dinamika transfer bisa terjadi sewaktu-waktu. Dalam wawancara lampau, Direktur Persis, Ginda Ferachtriawan, menegaskan bahwa setiap keputusan pemain akan melalui evaluasi teknis. Ia menyebut perubahan dalam skuad merupakan konsekuensi dari kebutuhan kompetitif tim.
“Kami melakukan evaluasi menyeluruh. Semua keputusan tentu melalui pertimbangan tim pelatih dan kebutuhan taktikal. Target kami jelas, memperbaiki performa dan menjauh dari zona degradasi,” ujar Ginda kala itu.
Kini, di tengah pro dan kontra yang berkembang, publik Solo menunggu satu hal paling konkret: apakah keputusan tersebut mampu menghadirkan dampak positif dalam perolehan poin di sisa musim kompetisi. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy