RADARSOLO.COM – Persis Solo berupaya memecah puasa kemenangan kandang saat menjamu Madura United pada pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026. Laga ini bukan sekadar pertandingan biasa bagi Laskar Sambernyawa. Ada beban ekspektasi besar yang mengiringi langkah mereka di Stadion Manahan.
Sorotan publik tertuju pada keputusan ekstrem manajemen yang melakukan perombakan besar-besaran di pertengahan musim.
Sebanyak 17 pemain anyar didatangkan untuk mengganti mayoritas komposisi skuad sebelumnya. Langkah tersebut jarang terjadi dalam kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional.
Perombakan masif di tengah musim tentu menyimpan risiko tinggi. Adaptasi taktik, pembentukan chemistry, hingga penyesuaian karakter bermain menjadi tantangan yang tidak ringan. Terlebih, waktu persiapan yang tersedia relatif singkat.
Situasi itu memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi permainan tim. Perubahan komposisi pemain dalam jumlah signifikan berpotensi mengganggu stabilitas performa. Namun, manajemen dan tim pelatih tampaknya memilih mengambil risiko demi menyelamatkan musim.
Pelatih kepala Persis Solo Milomir Seslija menegaskan, langkah tersebut bukan tanpa alasan. Evaluasi menyeluruh telah dilakukan sebelum keputusan diambil. Hasil analisis menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam skuad lama.
Dia juga mengungkapkan bahwa komunikasi internal telah dilakukan dengan para pemain. Dari hasil pembicaraan tersebut, tim pelatih menilai tidak ada kesatuan visi dalam skuad sebelumnya. Kondisi itu membuat tim sulit berkembang di tengah tekanan kompetisi.
“Kami sudah menganalisis, kami tidak bisa menciptakan peluang, tidak meraih kemenangan, kebobolan banyak gol, atmosfer antara pemain tidak bagus. Para pemain terjebak di zona nyaman dan tidak termotivasi,” ujar Milomir Seslija dalam konferensi pers jelang pertandingan.
Meski demikian, langkah ini tetap menyimpan konsekuensi. Integrasi pemain baru dalam jumlah besar membutuhkan kepemimpinan kuat dan sistem yang jelas. Tanpa itu, potensi justru bisa berubah menjadi masalah baru.
Milo -sapaan akrab Milomir Seslija- mengaku optimistis dengan kualitas para rekrutan anyar, khususnya pemain asing. Ia menilai mereka menunjukkan profesionalisme sejak hari pertama bergabung. Sikap tersebut dinilai menjadi modal penting dalam proses adaptasi cepat.
Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak semua pemain asing mampu langsung menyatu.
Dia mencontohkan pernah memiliki pemain dari Eropa yang membutuhkan waktu hingga lima hari hanya untuk menyesuaikan diri. Adaptasi budaya, makanan, hingga perbedaan waktu sering menjadi kendala klasik.
Lebih jauh, Milo juga menyoroti mentalitas pantang menyerah yang diperlihatkan para pemain baru. Dalam beberapa pertandingan awal, mereka tetap berjuang meski situasi tim belum sepenuhnya stabil. Hal itu menjadi indikator positif bagi proses pembangunan ulang skuad.
“Namun para pemain ini turun dari pesawat, langsung latihan dengan intensitas tinggi dan menjalani pertandingan. Kita bisa lihat bagaimana mereka bertanding dan masalahnya mereka tidak menyerah. Itu yang sangat saya apresiasi,” pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy