RADARSOLO.COM - Babak semifinal Liga 4 Jawa Tengah 2025–2026 bukan hanya menyajikan persaingan sengit di lapangan, tetapi juga menyisakan catatan kelam di luar pertandingan. Sepanjang fase empat besar, total 11.578 penonton tercatat hadir memberikan dukungan langsung di stadion.
Laga leg kedua antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak.
Sebanyak 5.830 suporter memadati Stadion Krida Rembang pada 12 Februari 2026.
Angka tersebut melampaui tiga laga semifinal lainnya, yakni Persibangga Purbalingga vs Persiharjo Sukoharjo (4.023 penonton), Persiharjo Sukoharjo vs Persibangga (1.197 penonton), serta Persak Kebumen vs PSIR Rembang (528 penonton).
Namun, atmosfer yang semestinya menjadi pesta sepak bola justru berubah menjadi kericuhan. Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 0-2 untuk Persak Kebumen atas tuan rumah PSIR Rembang itu diwarnai insiden chaos. Suporter masuk ke dalam stadion, wasit mendapat intimidasi, bahkan menjadi korban dalam kericuhan tersebut.
Baca Juga: Drama 4 Gol di Gresik, Persik Kediri vs PSIM Jogja Berakhir Penuh Drama: Vidal Cetak Gol Indah
Pelaksana Tugas Ketua PSSI Jawa Tengah, Ahmad Riyadh , menyayangkan keras insiden yang terjadi pada laga semifinal leg kedua tersebut.
Dia menegaskan bahwa pertandingan penting yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan fair play, serta mematuhi Regulasi Kompetisi dan Kode Disiplin PSSI, justru berubah menjadi kebrutalan massal, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Baca Juga: Hasil Akhir Persis Solo vs Madura United, dan Klasemen Sementara Liga 1: Kutukan Belum Juga Berakhir
“Berkaitan dengan penerapan Regulasi Kompetisi dan Kode Disiplin sepakbola, Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Tengah, akan memutuskan sanksi atas kejadian ini sesuai regulasi diberikan kepada Tim (Klub) dan individu (pemain, ofisial) yang terlibat. Serta hukuman kepada Panitia Pelaksana Pertandingan (Panpel) atas buruknya penyelenggaraan pertandingan hingga terjadi hal yang demikian,” ucap Ahmad Riyadh dilansir dari laman resmi PSSI Jateng.
Baca Juga: Perombakan Ekstrem Persis Solo Dipertanyakan, Milomir Seslija Sentil Mentalitas Skuad Lama
Menurutnya, peristiwa tersebut sangat memalukan dan merusak citra serta marwah sepak bola nasional. Karena itu, PSSI Jawa Tengah tidak hanya akan menegakkan regulasi internal sepak bola, tetapi juga memproses persoalan ini melalui jalur hukum sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Ia memastikan Komite Disiplin tengah bekerja cepat untuk mengusut kejadian tersebut.
Dia mengakui Komdis PSSI Jawa Tengah sedang melakukan sidang untuk memastikan penerapan sanksi yang diberikan, sesuai dengan fakta yang ada dan data yang telah dikumpulkan serta saksi-saksi yang dimintai keterangan.
PSSI Jateng berharap putusan sanksi maksimal dapat diberikan, mengingat kejadian tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran berat.
"Dengan harapan kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali di waktu mendatang, sebab hal tersebut bukan saja mencoreng nama sepakbola Jawa Tengah, tetapi lebih dari itu hal ini menjadi citra buruk persepakbolaan secara nasional,” kata Ahmad Riyadh.
Baca Juga: Perombakan Ekstrem Persis Solo Dipertanyakan, Milomir Seslija Sentil Mentalitas Skuad Lama
Sebagai langkah lanjutan, PSSI Jawa Tengah juga langsung melakukan analisis dan evaluasi menyeluruh, termasuk pada sistem kompetisi yang digunakan. Selama ini, Liga 4 Jawa Tengah menerapkan sistem home and away dalam kompetisi amatir. Namun, model tersebut dinilai memiliki kelemahan dalam aspek penyelenggaraan.
Dia mengakui evaluasi yang telah dilakukan Asprov PSSI jateng termasuk dalam hal sistem kompetisi yang dijalankan.
Jika selama ini kompetisi amatir yang dilaksanakan di Jawa Tengah selalu menggunakan system Home and Away, namun selalu memiliki kelemahan pada aspek penyelenggaraan.
Dimana banyak pelanggaran terjadi berawal dari tidak terpenuhinya aspek ini dengan baik, serta pelaksanaan regulasi yang buruk.
PSSI Jateng akan membicarakan menggunakan sistem Centralized atau Home Tournament. Tentu dengan harapan dalam segi pelaksanaan dapat lebih mudah terkontrol. Tetapi semua akan dimusyawarahkan kepada seluruh klub anggota.
"Seperti diketahui, selama penyelenggaraan Kompetisi Liga 4 Jawa Tengah tahun 2025/2026 yang digulirkan sejak awal tahun ini, Komite Disiplin PSSI Jawa Tengah telah menerbitkan putusan (lebih dari 90 putusan) bagi Klub maupun Pemain dan Ofisial. Jadi sesungguhnya kami sangat serius mengawal Regulasi Kompetisi dan Kode Disiplin PSSI dalam penerapannya sebagaimana seharusnya,” pungkasnya.
Insiden di Rembang menjadi alarm keras bagi sepak bola Jawa Tengah. Di tengah tingginya animo penonton dan geliat kompetisi yang terus tumbuh, keamanan dan profesionalisme penyelenggaraan tak boleh lagi dikompromikan. (nik)
Editor : Niko auglandy