RADARSOLO.COM - Keluhan soal adaptasi kembali mewarnai langkah Persis Solo setelah gagal memetik kemenangan di kandang sendiri.
Dalam laga pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Manahan, Laskar Sambernyawa harus puas berbagi angka dengan Madura United.
Pertandingan yang berjalan ketat itu ditutup lewat gol dramatis Dusan Mijic pada menit akhir—setidaknya menyelamatkan Persis dari kekalahan di hadapan ribuan pendukungnya.
Meski terhindar dari hasil minor, performa kandang Persis masih jauh dari kata ideal. Hingga pekan ke-21, Manahan belum sepenuhnya menjelma menjadi lumbung poin bagi tim kebanggaan Kota Bengawan.
Sorotan pun mengarah kepada para pemain asing anyar yang tampak belum sepenuhnya menemukan ritme terbaik.
Cuaca Solo yang panas dengan tingkat kelembapan tinggi menjadi tantangan tersendiri.
Para legiun asing yang baru pertama kali merasakan atmosfer kompetisi Indonesia terlihat masih berjuang beradaptasi, terutama saat bertanding pada sore hari.
Pelatih kepala Persis, Milomir Seslija, tidak menampik faktor itu.
Dia menyebut jadwal kickoff sore cukup menyulitkan pemain-pemain barunya yang datang dari Eropa.
“Tidak mudah untuk pemain-pemain saya bermain di jam sore, khususnya untuk pemain baru yang berasal dari Eropa,” ucap Milo (sapaan akrab Milomir Seslija).
Menurutnya, perbedaan iklim dan intensitas cuaca membuat adaptasi berlangsung lebih berat dari perkiraan.
Namun, datangnya bulan Ramadan memberi angin segar bagi Persis. Perubahan jadwal pertandingan ke malam hari dinilai menjadi momentum penting bagi proses penyesuaian para pemain asing.
“Tapi sekarang, terima kasih Tuhan, bulan Ramadan telah datang dan kita akan bermain jam 7 malam. Semuanya akan berjalan lebih baik,” tegasnya.
Bagi Milo, bertanding pada malam hari jauh lebih ideal. Kondisi udara yang lebih bersahabat diharapkan membuat para pemain lebih nyaman dan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Meski begitu, Milo mengakui proses adaptasi tidak berjalan seragam. Ia mencontohkan Dejan Tumbas sebagai pemain yang lebih cepat menyesuaikan diri.
Sementara itu, Andrei Alba terlihat masih kewalahan di beberapa momen pertandingan.
“Itulah fakta bahwa mungkin secara fisik semua pemain belum dalam kondisi terbaiknya, belum siap,” jelas Milo.
Di tengah upaya menjauh dari zona degradasi, Milo menegaskan bahwa masalah adaptasi tidak boleh dijadikan alasan. Pemain diminta mempercepat penyesuaian demi kepentingan tim.
“Ini adalah masalah bagi kami karena beberapa pemain baru ini hanya latihan sebentar. Kemudian langsung bermain dan mereka harus beradaptasi lagi dengan cepat,” ujarnya.
Ramadan pun akan dimanfaatkan sebagai fase evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fisik pemain. Tim pelatih berencana melakukan pengecekan mendetail untuk memastikan seluruh skuad siap tempur.
“Kalau bisa masuk ke daftar susunan pemain, ya nanti di Ramadan kita akan main evaluasi karena kita akan mengecek fisik semua pemain. Harusnya setelah Ramadan atau mencapai Ramadan kita lebih siap dan kita harus lebih beradaptasi dengan cepat,” pungkas Milo.
Bagi Persis, Ramadan bukan sekadar perubahan waktu bertanding. Bulan suci ini diharapkan menjadi titik balik—momen yang membantu para pemain asing mempercepat adaptasi dan mengangkat performa tim yang masih bergulat di papan bawah klasemen. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy