RADARSOLO.COM – Lini depan Persis Solo kini memasuki fase yang tak biasa. Jika pada awal musim Laskar Sambernyawa sempat dipusingkan minimnya opsi penyerang, kini situasinya berbalik drastis. Stok melimpah justru menghadirkan dilema baru bagi tim pelatih.
Gambaran itu terlihat saat Persis menjamu Madura United pada pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026, Jumat (13/2/2026). Dalam daftar susunan pemain (DSP), ada nama-nama sektor depan yang harus menepi.
Komposisi ini menegaskan bahwa persaingan di lini serang sedang berada pada titik paling ketat. Bukan karena cedera atau krisis pemain.
Justru sebaliknya, opsi yang terlalu banyak membuat tidak semua bisa terakomodasi. Regulasi pemain asing menjadi pagar pembatas yang tak bisa dinegosiasikan.
Dari total 11 pemain asing yang dimiliki Persis, hanya sembilan yang dapat masuk DSP. Bahkan, hanya tujuh yang bisa tampil bersamaan di lapangan.
Artinya, dua nama asing pasti tersisih setiap pertandingan. Kondisi tersebut otomatis mempersempit ruang bagi lini serang. Apalagi saat ini setidaknya ada lima penyerang yang bersaing memperebutkan tempat utama.
Sebagai gambaran, Persis Solo terbiasa memainkan pola 4-3-3. Di posisi winger kiri ada tiga nama berebut tempat, yakni Irfan Jauhari, Yabes Roni dan amunisi baru asal Brasil yang belum jalani debutnya, yakni Jefferson Cariosa.
Di posisi winger kanan ada nama-nama lokal, seperti Althaf Indie, Ikhwan Tanamal, dan winger pinjaman dari Persib Bandung, Febri Hariyadi.
Yang menarik di striker tengah, hilangnya Kodai Tanaka, Persis kini memiliki banyak nama. Hanya Arkhan Kaka yang masih bertahan, sisanya nama-nama baru seperti Septian Bagaskara, Abu Kamara, Roman Paparyga, Dejan Tumbas, dan Bruno Gomes.
Jika winger pinjaman Persib Bandung Febri Hariyadi sudah bergabung dan siap tampil. Pelatih Persis Solo Milomir Seslija tak menutup mata terhadap situasi ini. Dia menyebut regulasi membuatnya harus lebih selektif dalam menentukan komposisi. Keputusan bukan sekadar soal kualitas individu, tetapi keseimbangan tim secara keseluruhan.
“Berapa banyak pemain yang bisa masuk daftar susunan pemain? Sembilan, kita tidak bisa memasukkan 10 pemain. Dan saat ini kita harus menyesuaikan kondisi pemain,” ujar Milo -sapaan akrab Milomir Seslija-, usai laga.
Menurutnya, banyaknya opsi di lini depan bukan berarti semuanya dapat dimainkan bersamaan. Struktur permainan tetap menjadi prioritas. Ia tak ingin komposisi terlalu berat di depan tetapi rapuh di sektor lain. “Kami tidak bisa memainkan semuanya dan harus memilih 2 dari 11 pemain kita,” tegasnya.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Pada paruh awal musim, Persis sempat mendapat sorotan karena kurang tajam dan minim variasi serangan. Kini, ketika opsi bertambah, tantangan bergeser pada manajemen rotasi dan konsistensi.
Penumpukan pemain depan memang menghadirkan fleksibilitas taktik. Namun, terlalu sering mengganti komposisi juga berisiko mengganggu chemistry. Sinkronisasi antar pemain membutuhkan stabilitas, bukan sekadar pergantian nama.
Belum lagi faktor kebugaran yang belum sepenuhnya optimal. Beberapa pemain baru masih dalam tahap adaptasi setelah bergabung. Kondisi ini turut memengaruhi keputusan teknis tim pelatih.
“Kita melakukannya dengan baik hari ini, tapi memang ada pemain yang mungkin secara fisik belum di kondisi terbaiknya. Itu fakta,” jelas Milomir.
Dia juga menekankan bahwa seleksi pemain sepenuhnya berbasis performa latihan. Tidak ada ruang untuk keputusan emosional atau tekanan eksternal. Semua ditentukan melalui data dan simulasi pertandingan.
“Pemain yang masuk susunan adalah pemain yang saya lihat di sesi latihan dan simulasi pertandingan,” tandasnya.
Dengan potensi tambahan amunisi dalam waktu dekat, persaingan di lini depan dipastikan makin panas. Rotasi akan menjadi bagian dari strategi, bukan sekadar opsi darurat. Tak ada posisi yang benar-benar aman.
Kini tantangan terbesar ada pada produktivitas. Stok penyerang yang melimpah harus sejalan dengan ketajaman di depan gawang. Jika tidak, kepadatan lini serang hanya akan menjadi angka statistik tanpa pengaruh nyata di papan skor. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy