RADARSOLO.COM - Laga Pegadaian Championship 2025/2026 antara PSPS Pekanbaru dan Adhyaksa FC Banten di Stadion Kaharuddin Nasution, Jumat (23/1/2026), berakhir dengan tensi tinggi, baik di dalam maupun luar lapangan.
Pertandingan yang disaksikan 7.523 penonton itu sejatinya berjalan ketat dan berimbang, sebelum akhirnya ditutup dengan skor 1-1.
PSPS memulai pertandingan dengan percaya diri. Dukungan suporter tuan rumah menjadi energi tambahan ketika Asir membuka keunggulan cepat pada menit ke-11 lewat penyelesaian yang memaksimalkan kemelut di depan gawang Adhyaksa FC Banten.
Namun, menjelang babak pertama usai, tim tamu mendapatkan hadiah penalti.
Makan Konate yang maju sebagai eksekutor tak menyia-nyiakan peluang dan menuntaskan tugasnya dengan dingin pada menit ke-45.
Skor imbang 1-1 bertahan hingga turun minum dan tetap tak berubah hingga pertandingan selesai.
Meski laga berlangsung intens, kedua tim juga mencatat daftar pelanggaran.
Dari kubu PSPS, Muhammad Reza Kusuma dan Vieri Donny Ariyanto menerima kartu kuning pada menit ke-33 dan 38.
Sementara Adhyaksa FC Banten mengoleksi empat kartu kuning yang masing-masing diberikan kepada Roy Sandy, Galuh Aryanata, Adilson Gancho da Silva, dan Rahmad Dandy Sonriza.
Sayangnya, tensi pertandingan merembet ke luar lapangan. Seusai laga, situasi di tribun memanas.
Menurut laporan resmi, sejumlah suporter PSPS Pekanbaru melakukan tindakan tidak pantas—mulai dari nyanyian bernada hinaan kepada perangkat pertandingan, aksi meludahi anggota tim Adhyaksa FC Banten, hingga pelemparan ke arah bus tim tamu.
Tidak berhenti di situ, pelemparan kemasan air minum ke arah perangkat pertandingan dari Tribun Barat juga tercatat dalam insiden yang sama.
Komite Disiplin PSSI yang menggelar sidang pada 28 Januari 2026 pun menjatuhkan dua sanksi untuk PSPS Pekanbaru.
Pertama, larangan menggelar pertandingan dengan penonton selama satu laga kandang dan denda Rp15 juta. Kedua, tambahan denda Rp15 juta untuk insiden pelemparan kemasan air minum ke arah perangkat pertandingan.
Bagi PSPS, hasil imbang 1-1 mungkin masih bisa diterima. Namun, hukuman beruntun dari Komdis menjadi tamparan keras bagi manajemen agar memperketat pengawasan suporter dan memastikan atmosfer stadion tetap aman serta sportif. (nik)
Editor : Niko auglandy