RADARSOLO.COM – Waktu bermain menjadi perhatian utama tim medis Persis Solo memasuki fase pertandingan di bulan Ramadan. Jadwal kickoff malam dinilai membawa konsekuensi fisik yang tidak sederhana bagi pemain.
Terlebih, laga bisa berakhir mendekati pukul 23.00 WIB dan menggeser ritme istirahat.
Situasi tersebut memunculkan evaluasi khusus dari tim medis. Mereka menilai perbedaan jam bertanding akan memengaruhi kesiapan fisik secara menyeluruh. Adaptasi pun harus dilakukan sejak awal agar performa tetap stabil.
Dokter tim Persis Solo dr. Iwan Wahyu Utomo menilai perbedaan waktu bermain memberikan dampak signifikan terhadap kondisi tubuh atlet.
Dia membandingkan pertandingan sore dengan laga malam yang lebih larut. Menurutnya, ritme fisik jelas tidak sama.
“Waktu bermain tersebut pastinya mempengaruhi kondisi fisik dari pemain,” ujarnya.
Dia menjelaskan, perbedaan jam pertandingan akan memengaruhi kesiapan otot, stamina, hingga fokus pemain di lapangan. Tubuh memiliki siklus biologis atau ritme sirkadian yang berbeda antara sore dan malam hari. Karena itu, respons fisik tidak bisa disamaratakan.
“Memang berbeda. Waktu bermain di sore hari dan malam hari seperti di jam 7 dan 9, yang akan larut sampai jam setengah 11 baru selesai,” lanjutnya.
Menurutnya, laga yang berakhir lebih larut membuat waktu pemulihan semakin mundur. Pemain tetap membutuhkan sesi pendinginan dan pemulihan otot sebelum benar-benar beristirahat. Kondisi ini berdampak langsung pada durasi tidur dan kualitas recovery.
Dia menambahkan, dalam konteks Ramadan, tantangan tersebut menjadi berlipat. Pola makan dan hidrasi yang berubah saat puasa membuat manajemen energi harus dihitung lebih detail.
Kombinasi jam bermain dan kondisi biologis pemain menjadi perhatian serius.
Tak hanya soal jam pertandingan, faktor cuaca juga menjadi variabel penting. Dia menekankan bahwa kondisi hujan dan tingkat kelembapan tinggi bisa memperberat beban fisik pemain.
Lingkungan yang lembap membuat tubuh bekerja lebih keras menjaga stabilitas suhu.
“Itu sangat berpengaruh, apalagi kalau cuaca hujan, kemudian lebih lembab, itu akan sangat berpengaruh pada level fitness pemain,” ujarnya.
Dalam kondisi lembap, proses penguapan keringat tidak berlangsung optimal. Akibatnya, tubuh lebih cepat mengalami kelelahan dan kehilangan efisiensi energi. Risiko kram serta penurunan daya tahan pun meningkat apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Melihat kompleksitas tersebut, tim medis mengusulkan langkah penyesuaian. Adaptasi tidak hanya menyangkut jadwal, tetapi juga manajemen kebugaran secara keseluruhan. Ritme latihan harus selaras dengan waktu pertandingan agar tubuh terbiasa dengan intensitas di jam yang sama.
“Sehingga kita penyesuaiannya, jadwal dan kebugaran itu tentunya akan sangat berbeda. Saya mengusulkan untuk sementara ini, latihan sama di malam hari,” pungkasnya.
Di lain sisi, laga melawan PSBS Biak pada Sabtu (21/2/2026) di Stadion Manahan, Solo, pun menjadi momentum pembuktian. Pertandingan tersebut menjadi laga pembuka Persis di bulan Ramadan sekaligus ujian ketahanan fisik pemain yang menjalankan ibadah puasa. Manajemen stamina dan adaptasi waktu bermain akan benar-benar diuji di hadapan publik sendiri. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy