RADARSOLO.COM – Atmosfer panas laga Pegadaian Championship 2025/2026 (Liga 2) antara Persiku Kudus melawan Persipura Jayapura kini berbuntut panjang. Insiden rasisme yang dilakukan oknum suporter saat pertandingan di Stadion Wergu Wetan pada 30 Januari 2026 berujung sanksi tegas dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Dalam pertandingan tersebut, oknum suporter Persiku Kudus terbukti melontarkan ucapan dan teriakan bernada rasis kepada tim tamu. Rekaman video yang beredar di media sosial memperdengarkan kalimat-kalimat berkonotasi rasis yang diarahkan kepada pemain Persipura.
Video itu menjadi salah satu bahan pertimbangan Komdis dalam memutuskan perkara.
Dalam dokumen Fakta dan Pertimbangan Hukum, Komdis PSSI menyatakan tindakan tersebut melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025. Pelanggaran dinilai sah dan meyakinkan berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki.
Merujuk Pasal 60 ayat (2) juncto Pasal 13 ayat (2) Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, Persiku dijatuhi sanksi larangan menyelenggarakan pertandingan dengan penonton selama satu laga saat berstatus sebagai tuan rumah. Sanksi itu berlaku sejak keputusan diterbitkan dan akan diterapkan pada laga kandang terdekat.
Tak hanya itu, klub berjuluk Macan Muria tersebut juga dikenai denda sebesar Rp 250 juta.
Imbasnya langsung terasa. Laga kandang Persiku pada 21 Februari melawan Persela Lamongan diputuskan digelar di Stadion Sriwedari, Kota Solo. Pertandingan tersebut dipastikan berlangsung tanpa kehadiran penonton.
Manajemen Persiku pun mengeluarkan pernyataan resmi. “Mohon untuk pendukung Persiku Kudus tidak datang ke Stadion Sriwedari. Mari bersama membantu tim ini agar tak terkena denda/sanksi tambahan. Sementara dukung lewat layar kaca dan jangan lupa doanya ya,” tulis pernyataan resmi Persiku Kudus.
Di sisi lain, Direktur PT Relasi Sport Muria Indonesia, Abdul Fuad Amirul Adha, menyayangkan tindakan diskriminatif tersebut. Ia menilai aksi rasisme itu mencoreng sportivitas dan merugikan klub secara finansial maupun moral.
”Klub baru saja menerima surat denda dari federasi akibat tindakan rasis di pertandingan terakhir. Setiap rupiah denda yang dibayarkan adalah kerugian bagi masa depan klub,” katanya.
Menurutnya, tindakan diskriminatif dan rasisme bukan hanya berdampak pada keuangan tim, tetapi juga merusak citra serta nama baik suporter Persiku. Lebih jauh lagi, rasisme melukai rasa kemanusiaan dan nilai persatuan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sepak bola.
Fuad mengingatkan suporter agar lebih cerdas dan selektif dalam bertindak. Dukungan, tegasnya, harus diberikan dengan lantang namun tetap bermartabat.
”Jika mencintai klub ini, jaga lisan dan sikapmu. Stop rasisme, biaya denda ini mahal, tetapi harga diri klub jauh lebih berharga,” pungkasnya. (gal/JPG/nik)
Editor : Niko auglandy