Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Cara Persis Solo Menjaga Tubuh Pemain Tetap Bugar Selama Menjalani Bulan Puasa

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Kamis, 19 Februari 2026 | 19:05 WIB
BERSIAP: Persis Solo Vukasin Vranes (jersey ungu) bersama rekan-rekananya memberi salam kepada pemain Madura United.   
BERSIAP: Persis Solo Vukasin Vranes (jersey ungu) bersama rekan-rekananya memberi salam kepada pemain Madura United.  

RADARSOLO.COM – Menjaga tubuh tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi para pemain Persis Solo.

Ritme latihan dan pertandingan yang tetap berjalan memaksa pemain beradaptasi dengan cepat. Kondisi fisik harus tetap prima meski asupan makanan dan cairan terbatas di siang hari.

Apalagi, Persis Solo dituntut meraih angka penuh dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026 sepanjang Ramadan ini.

Laskar Sambernyawa masih berada di zona degradasi dan menempati peringkat terbawah klasemen sementara. Situasi tersebut membuat setiap laga bernilai krusial.

Dalam situasi tersebut, ada tiga aspek utama yang menjadi perhatian tim medis dan pelatih, yakni nutrisi, hidrasi, dan waktu tidur. Ketiganya saling berkaitan dan memengaruhi performa pemain di lapangan. Kesalahan dalam satu aspek saja bisa berdampak pada daya tahan dan fokus bertanding.

Dokter tim Persis Solo dr. Iwan Wahyu Utomo menyoroti tantangan tambahan berupa jadwal pertandingan malam hari.

Menurutnya, waktu bermain sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik pemain. Perbedaan jam kickoff menghadirkan konsekuensi pada ritme biologis tubuh.

“Waktu bermain tersebut pastinya mempengaruhi kondisi fisik dari pemain. Memang berbeda ya, waktu bermain di sore hari dan malam hari seperti di jam 7 dan 9, yang akan larut sampai jam setengah 11 baru selesai,” ujarnya.

Dia menjelaskan, laga yang berakhir mendekati pukul 23.00 membuat waktu pemulihan ikut mundur.

Pemain masih harus menjalani pendinginan dan makan malam sebelum beristirahat. Dampaknya, jam tidur berkurang dan siklus istirahat terganggu.

“Sehingga kita penyesuaiannya, jadwal dan kebugaran itu tentunya akan sangat berbeda. Saya mengusulkan untuk sementara ini, latihan sama di malam hari,” tambahnya.

Selain penyesuaian jadwal, perhatian besar juga diberikan pada asupan nutrisi saat sahur. Sahur menjadi fondasi cadangan energi pemain sepanjang hari. Tanpa komposisi yang tepat, risiko kelelahan dan gangguan kesehatan meningkat.

“Kemudian untuk sahur, yang diperlukan untuk pemain adalah mereka harus punya cadangan energi untuk puasa. Imunitas juga harus dijaga dan mencegah kelaparan. Untuk pemain karena mereka atlet, jadi setelah puasa mereka tidak boleh tidak sahur, terus jadi sakit asam lambung contohnya, lalu daya tahan tubuh menurun terkena flu dan sebagainya,” jelasnya.

Dia menegaskan, gangguan kesehatan seperti asam lambung atau flu akan berdampak langsung pada performa tim. Karena itu, menu sahur harus mengandung karbohidrat sebagai sumber energi utama. Protein dan lemak sehat juga dibutuhkan untuk menopang aktivitas selama berpuasa.

“Itu sangat mempengaruhi performanya di klub dan tim. Jadi untuk menu sahur itu dianjurkan tetap mengkonsumsi karbohidrat sebagai sumber kalori dan membuat atlet merasa kenyang lebih lama. Selain karbohidrat, protein dan lemak sebagai sumber energi untuk beraktivitas selama pemain berpuasa. Ada beberapa makanan yang perlu dihindari seperti makanan tinggi kadar garamnya, kemudian kafein, terlalu pedas sampai terlalu manis,” tegasnya.

Menurut dr. Iwan, makanan tinggi garam dan kafein dapat memicu dehidrasi serta rasa haus berlebih. Makanan terlalu pedas atau manis juga berpotensi mempercepat rasa lapar. Kondisi tersebut tentu tidak ideal bagi pemain yang harus menjaga stamina seharian.

“Makanan-makanan tersebut akan memberatkan tubuh dan merangsang untuk cepat lapar. Mungkin para pemain bisa memperbanyak konsumsi buah-buahan sebagai sumber karbohidrat. Selain buah-buahan, roti gandum, oat, kemudian sereal, kalau bisa ya beras merah,” paparnya.

Untuk sumber protein, dia merekomendasikan telur, yoghurt, susu, keju, daging tanpa lemak, ikan, serta dada ayam.

Lemak sehat dapat diperoleh dari kacang-kacangan dan biji-bijian. Penggunaan minyak zaitun pada salad juga dianjurkan sebagai pilihan yang lebih sehat.

“Untuk protein seperti telur, yoghurt, susu, keju, daging merah bukan kulit dan jeroan, ada ikan, ada ayam di bagian dada. Untuk lemak bisa konsumsi kacang-kacangan, dan biji-bijian. Makanan salad dianjurkan penggunaan minyak zaitun atau olive oil, itu menu yang ideal untuk para pemain dan kita persiapkan di bulan Ramadhan ini,” pungkasnya.

Pengaturan nutrisi di bulan Ramadan jelas menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain Persis yang menjalankan ibadah puasa. Namun, dengan manajemen nutrisi, hidrasi, dan tidur yang disiplin, performa diharapkan tetap stabil.

Ujian sesungguhnya akan terlihat saat Persis menghadapi PSBS Biak di Stadion Manahan pada Sabtu (21/2), ketika stamina dan mental diuji dalam laga penting penyelamatan posisi klasemen. (hj/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#puasa #persis solo #Ramadan