RADARSOLO.COM - Di tengah inkonsistensi performa Persis Solo, sang pelatih kepala, Milomir Seslija akhirnya membeberkan persoalan yang tak terlihat publik.
Bukan semata soal taktik atau strategi, melainkan persoalan administratif dan regulasi transfer yang membuat rencana tim berantakan.
Dalam forum bersama suporter pada Kamis (26/2/2026), dia menjelaskan duduk perkara yang selama ini menjadi tanda tanya.
Sorotan menguat setelah Persis Solo kerap kehilangan momentum di babak kedua.
Pergantian pemain dinilai jadi titik lemah yang membuat permainan menurun drastis. Namun Milo menyebut, ada konteks besar yang melatarbelakanginya.
“Namun pertanyaanya cukup bagus, kenapa tim bisa kalah setelah pergantian? Itu karena 3 pemain baru saja datang. Bruno dan Febri datang sebelum tiga pertandingan terakhir karena masalah terkait regulasi, atau visa dan sebagainya,” ungkapnya pada suporter yang hadir dalam forum tersebut.
Dia menegaskan bahwa beberapa pemain yang masuk bukan dalam kondisi siap tempur sepenuhnya.
Proses administrasi yang panjang membuat mereka terlambat bergabung. Alhasil, chemistry belum terbentuk dan kebugaran belum maksimal saat diturunkan.
Masalah tak berhenti di situ. Milo mengungkap bahwa Persis sebenarnya sudah mengincar satu penyerang tajam dan satu playmaker berkualitas tinggi. Namun keduanya gagal merapat karena terkendala urusan visa dan batas waktu pendaftaran pemain.
“Sangat sulit mendapatkan pemain secara gratis di bulan Desember karena masih terikat kontrak dan di musim panas sangat mudah untuk mendapatkan pemain,” jelasnya.
Dia mengaku telah menghubungi banyak pemain dengan ambisi besar. Bukan pemain yang datang semata-mata karena uang, melainkan yang lapar akan prestasi. Namun situasi Laskar Sambernyawa yang sedang terpuruk justru menjadi penghalang.
“Saya sudah menghubungi banyak pemain bagus dengan rasa lapar akan kesuksesan dan bukan karena uang. Namun mereka takut untuk datang ke Persis Solo karena tim sedang dalam fase buruk, mereka memilih untuk pergi ke Persib Bandung karena ingin menjadi juara. Itulah kenapa saya mencari pemain yang ingin menunjukkan diri mereka,” tegasnya.
Pernyataan itu membuka realitas pahit bahwa daya tarik klub tengah menurun.
Di saat tim papan atas seperti Persib Bandung lebih menjanjikan peluang juara, Persis Solo harus bekerja dua kali lebih keras meyakinkan targetnya.
Situasi kompetitif liga ikut memengaruhi keputusan para pemain.
Dari sisi manajemen, Direktur Olaharaga klub, Yahya Alkatiri turut memberikan penjelasan.
Dia menegaskan bahwa proses visa untuk beberapa negara memang tidak sederhana. Terutama untuk pemain dari negara-negara Afrika, prosesnya bisa memakan waktu panjang.
“Visa itu di negara ini ada aturan, ada beberapa negara yang ketika masuk ke Indonesia ada proses yang sangat panjang. Kebetulan kemarin seperti yang dikatakan coach Milo, beberapa negara yang dipilih itu seperti negara-negara Afrika untuk masuk ke sini itu ada proses panjang. Proses tersebut tidak akan cukup waktu jika kita kejar di pertengahan musim,” jelas Yahya.
Dia menambahkan bahwa perekrutan pemain dengan proses visa panjang idealnya dilakukan di awal musim. Ketika dilakukan di tengah kompetisi, waktu menjadi musuh utama. Akibatnya, opsi yang tersedia semakin terbatas.
Selain itu, ada persoalan regulasi kuota pemain asing. Persis saat ini memiliki 11 pemain asing yang sudah berada di Indonesia.
Namun regulasi hanya memperbolehkan sembilan didaftarkan dalam daftar pertandingan dengan tujuh yang bisa bermain dan dua di bangku cadangan.
“Lalu kedua masalah terkait 11 pemain asing, posisi mereka sudah ada di Indonesia dan siap untuk bermain tapi masalahnya adalah yang boleh didaftarkan di pertandingan cuma 9 dengan 7 bermain di lapangan dan 2 cadangan,” ujar Yahya.
Dia menegaskan bahwa seluruh pemain asing memiliki standar kualitas yang relatif setara. Namun keputusan siapa yang bermain sepenuhnya berada di ranah teknis pelatih. Manajemen tidak ikut campur dalam pemilihan starting eleven.
“Kalau menanyakan kenapa Jefferson kok belum main, ini tidak main, terus terang itu keputusannya masalah teknis dan bukan wilayah manajemen,” tandasnya.
Situasi ini menggambarkan kompleksitas problem Persis musim ini. Bukan hanya persoalan performa di lapangan, tetapi juga kombinasi antara regulasi, administrasi, timing transfer, hingga psikologi pasar pemain.
Di tengah tekanan suporter, Milo dan manajemen kini dituntut membuktikan bahwa kendala tersebut bukan alasan dan laga menghadapi Persik Kediri (1/3) dan Persijap Jepara (5/3) akan jadi penentuan hidup dan mati bahwa Laskar Sambernyawa apakah bertahan di Super League pada musim depan atau tidak.(hj/nik)
Editor : Niko auglandy