RADARSOLO.COM – Sanksi berat dijatuhkan kepada Persis Solo setelah keputusan Komite Disiplin PSSI terkait insiden yang terjadi dalam pertandingan tandang melawan Persijap Jepara beberapa waktu lalu.
Akibat keputusan tersebut, Laskar Sambernyawa harus menjalani lima pertandingan kandang tanpa kehadiran penonton di Stadion Manahan.
Larangan tersebut akan berlaku pada lima laga kandang Persis kedepan, yakni saat menjamu Semen Padang pada 12 April, kemudian menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC pada 22 April, dilanjutkan laga melawan Persebaya Surabaya pada 9 Mei, serta menghadapi Dewa United pada 16 Mei.
Satu pertandingan tanpa penonton lainnya akan dijalani pada awal musim kompetisi mendatang.
Selain larangan menggelar pertandingan dengan penonton, Persis juga dijatuhi sejumlah denda. Komdis menilai terjadi pelanggaran disiplin terkait kerusuhan yang melibatkan suporter kedua tim, termasuk aksi saling lempar serta perusakan fasilitas stadion pada laga tersebut.
Presiden DPP Pasoepati Djodi Purnomo mengatakan, pihaknya menghormati dan menerima keputusan yang telah dijatuhkan oleh federasi.
Meski demikian, dia menilai narasi yang berkembang selama ini belum sepenuhnya menggambarkan situasi yang terjadi di lapangan.
“Kalau tanggapan kami sebenarnya kami bukan berantem. Karena kemarin kami itu sebenarnya sebagai korban. Walaupun narasi yang dikembangkan oleh pihak Jepara maupun federasi menganggap kami yang melakukan kegiatan yang kurang pantas,” ujarnya.
Menurut Djodi, para suporter Persis datang ke Jepara dengan cara yang resmi dan mengikuti prosedur yang berlaku.
Mereka membeli tiket pertandingan secara sah serta mematuhi pengaturan parkir yang telah disiapkan oleh panitia pelaksana bersama aparat keamanan setempat.
Namun dalam perjalanan pertandingan, situasi di tribun memanas dan berujung kericuhan. Meski demikian, pihaknya tetap memilih untuk menghormati keputusan Komdis PSSI sebagai bagian dari komitmen menjaga kondusivitas sepak bola nasional.
“Kami akan menerima segala sanksi yang dijatuhkan. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan panitia pelaksana, manajemen Persis, serta pihak keamanan dari Polresta Surakarta agar tetap bisa memberikan dukungan kepada tim dengan cara yang tertib,” katanya.
Djodi menegaskan bahwa sanksi tersebut tidak akan menyurutkan semangat Pasoepati untuk mendukung tim kebanggaan Kota Solo. Meski tidak bisa masuk ke stadion, mereka tetap berupaya memberikan dukungan dari luar Stadion Manahan.
“Kami tetap berharap bisa mengawal tim kebanggaan kami. Walaupun mendukungnya hanya dari luar stadion dan tidak terlihat langsung oleh para pemain, harapan kami suara kami tetap bisa didengar oleh para pemain agar mereka lebih termotivasi untuk memenangkan setiap pertandingan,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Pasoepati juga berencana menyusun pola dukungan yang terkoordinasi. Salah satunya dengan membagikan flyer atau imbauan kepada para suporter mengenai cara memberikan dukungan yang tetap tertib selama masa sanksi berlangsung.
“Kami akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan manajemen, panpel, maupun pihak keamanan Polresta Solo. Jika diperbolehkan memberikan dukungan dari luar stadion, kami akan segera menyebarkan flyer kepada teman-teman suporter agar tetap memberikan dukungan dari luar stadion demi mengangkat mental pemain,” terangnya.
Namun apabila dukungan di sekitar stadion tidak diizinkan, Pasoepati juga telah menyiapkan sejumlah alternatif kegiatan untuk tetap membersamai Persis.
“Kalau nanti tidak diperkenankan, kami akan tetap membersamai para punggawa Persis Solo dengan cara lain. Misalnya mengawal keberangkatan maupun kepulangan tim dari mess, atau menggelar nonton bareng di lokasi yang tidak jauh dari stadion,” imbuhnya.
Djodi juga memaparkan kronologi kejadian yang terjadi di Jepara.
Dia menyebut sejak awal pertandingan sebenarnya berjalan cukup kondusif. Bahkan suporter kedua tim sempat saling berinteraksi dengan chant atau psywar yang masih dalam batas wajar.
Namun situasi mulai memanas pada menit ke-82 pertandingan.
Saat itu, kelompok suporter tuan rumah mulai melontarkan psywar kepada pendukung Persis yang berada di tribun tamu. Chant tersebut kemudian dibalas oleh suporter Solo.
Tidak lama kemudian, suasana berubah tegang setelah sebuah petasan tiba-tiba dilemparkan dari luar tribun ke arah kelompok suporter Persis.
“Dari situ mulai terjadi lempar-lemparan cup air minum. Kemudian dari pihak Jepara membalas dengan lemparan batu sehingga kondisi semakin tidak terkendali,” ungkap Djodi.
Dia menambahkan bahwa para suporter Persis yang hadir di stadion merupakan tamu resmi yang membeli tiket pertandingan. Bahkan pengaturan parkir kendaraan rombongan suporter Solo sejak awal telah disediakan oleh pihak kepolisian setempat.
“Kami datang sebagai tamu resmi yang membeli tiket, bukan diberikan secara cuma-cuma. Dari awal kantong parkir juga sudah disiapkan oleh Polres Jepara,” katanya.
Sebagai bentuk evaluasi, Pasoepati mengaku telah menggelar pertemuan dengan berbagai elemen suporter di Solo untuk menjadikan kejadian di Jepara sebagai pelajaran bersama.
“Kami sudah bertemu lintas elemen suporter Solo agar kejadian di Jepara ini menjadi pelajaran dan tidak boleh terulang kembali. Kami akan terus berbenah demi kebaikan suporter maupun tim Persis Solo agar tidak menimbulkan kerugian bagi klub,” tegasnya.
Dia juga menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolresta Surakarta untuk memperkuat komitmen menjaga keamanan dan nama baik Kota Solo.
Sementara itu, salah seorang suporter Persis Solo, Beto menilai keputusan sanksi tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan, terutama terkait penerapannya pada laga kandang.
“Kalau aku menyoroti dua hal. Yang pertama soal hukumannya. Posisi teman-teman kemarin itu away, tapi hukumannya justru dijalankan di laga home. Itu cukup tidak biasa,” ujarnya.
Menurutnya, dalam sejumlah kasus sebelumnya, apabila terjadi insiden dalam pertandingan kandang maka tim tuan rumah yang menjalani laga tanpa penonton. Sedangkan tim tamu biasanya hanya dikenai denda atau sanksi administratif lainnya.
Selain itu, Beto juga menyoroti kebijakan larangan suporter tandang yang dinilai belum diimbangi dengan upaya mencari solusi yang lebih komprehensif dari federasi.
Dia menilai federasi seharusnya dapat mempelajari sistem pengamanan suporter di berbagai liga luar negeri yang dinilai lebih terstruktur dalam mengatur kehadiran suporter tim tamu.
“Kenapa federasi tidak belajar dari bagaimana liga-liga luar mengelola supporter away. Di sana ada parameter tribun, akses masuk khusus, sampai sistem pengawalan yang jelas. Bahkan untuk supporter yang sangat fanatik pun tetap bisa diatur dengan sistem keamanan yang baik,” katanya.
Menurutnya, di Indonesia kebijakan yang sering diambil justru berupa pelarangan tanpa diikuti solusi yang jelas untuk jangka panjang.
“Yang diandalkan hanya pelarangannya, tapi tidak memberi solusi yang lebih baik untuk ke depannya,” ujarnya.
Beto juga menilai sanksi tersebut cukup berat bagi Persis yang saat ini tengah menunjukkan tren performa yang meningkat di kompetisi.
“Apalagi sekarang grafik permainan Persis sedang meningkat dan masih ada beberapa laga home penting. Tanpa penonton tentu sangat memberatkan bagi tim,” katanya.
Meski demikian, ia berharap manajemen Persis mempertimbangkan langkah banding terhadap keputusan tersebut dengan mengacu pada fakta bahwa lokasi kejadian bukan berada di Stadion Manahan.
“Kalau kejadiannya di Manahan mungkin masih masuk akal. Tapi ini kan kejadiannya di tempat away. Jadi harapannya tim berani mengambil langkah banding,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy