RADARSOLO.COM - Paruh kedua BRI Super League 2025/2026 menghadirkan dinamika tersendiri dengan hadirnya sejumlah pemain jebolan kompetisi India yang memilih hijrah ke Indonesia. Situasi tak menentu yang sempat melanda Indian Super League membuat banyak pemain asing mencari kepastian karier di negara lain, termasuk di kompetisi domestik Tanah Air.
Awalnya, liga di India dijadwalkan bergulir pada Oktober 2025. Namun rencana tersebut tertunda akibat belum adanya sponsor pengganti, sehingga memicu ketidakpastian jadwal dan bahkan memunculkan spekulasi kompetisi tidak akan berjalan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pemain asing untuk mencari klub baru, dengan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.
Beberapa nama yang merapat di Indonesia Super League seperti Alaeddine Ajarie dengan status pinjaman bersama Persija, Jon Toral (Persik Kediri), Borja Herrera (Persijap Jepara), Iker Guarrotxena (Persijap Jepara), Carlos Franca (Persijap Jepara), Tiri (Persijap Jepara), Noah Sadaoui (Dewa United), Dusan Lagator (PSM Makassar), dan Andrei Alba (Persis Solo).
Selama paruh kedua Super League bergulir, para pemain asing jebolan Liga India ini tampil cukup mengesankan, salah satunya adalah Andrei Alba yang bermain untuk Persis Solo.
Bergabung di bursa transfer paruh kedua, Alba diharapkan mampu membawa perubahan performa Laskar Sambernyawa yang terseok-seok di dasar klasemen sementara.
Hanya dengan waktu persiapan yang cukup singkat, Andrei Alba berhasil mencuri perhatian publik Manahan dengan penampilannya yang cukup solid. Ketika ditanya apa yang membedakan kompetisi di India dan Indonesia? Andrei Alba menjawab bahwa di Indonesia persaingannya jauh lebih tinggi dibandingkan liga yang ia jalani di India.
Menurutnya salah satu faktor utama persaingan Indonesia lebih kompetitif adalah sistem pembinaan pemain lokal. Dia menilai pemain Indonesia memiliki bakat yang lebih terasah karena didukung struktur akademi yang lebih jelas sejak usia muda.
"Saya pikir liga di sini lebih kompetitif dan memiliki kualitas yang sedikit lebih baik. Pemain lokal lebih berbakat karena di India banyak pemain lokal yang tidak memiliki struktur pembinaan melalui akademi usia muda sebelumnya," ucap Andrei Alba kepada tim Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Mengenal Tongue Swallowing, Kondisi Darurat yang Dialami Kiper Persis Solo Muhammad Riyandi
Selain itu, Alba juga menyoroti kondisi kompetisi di India musim ini yang sempat mengalami ketidakpastian. Permasalahan administratif, kontrak, serta kesepakatan sponsor membuat liga mengalami penundaan yang berdampak pada stabilitas tim dan pemain.
Situasi tersebut memicu banyak pemain untuk mencari klub yang menawarkan kepastian kompitisi, termasuk dirinya yang akhirnya memilih melanjutkan karier di Indonesia.
"Dan khusus tahun ini, Indian Super League mengalami beberapa masalah administratif, kontrak, serta kesepakatan antara sponsor liga, yang sangat menunda dimulainya kompetisi dan menimbulkan ketidakpastian soal awal musim," ucapnya.
"Hal itu membuat banyak pemain yang memiliki tawaran lain memilih pergi dan mencari sesuatu yang lebih pasti,” tandasnya menambahkan.
Sempat mengalami ketidakpastian, Liga India sendiri akhirnya kembali bergulir pada 14 Februari 2026 yang akan diikuti 14 tim. Sementara itu untuk Indonesia Super League baru akan kembali bergulir di bulan April setelah libur lebaran berakhir.
Pasca libur lebaran, Persis Solo dihadapkan pada tantangan berat untuk bertahan di kasta tertinggi. Dengan sembilan laga tersisa, Laskar Sambernyawa juga harus menjalani hukuman tanpa penonton dalam lima pertandingan kandang. Situasi tersebut membuat perjuangan tim asal Solo semakin tidak mudah.
Kini, konsistensi performa menjadi kunci bagi Persis untuk mengamankan posisi dan menghindari degradasi di sisa musim. Mampukah Laskar Sambernyawa melewati tekanan tersebut dan memastikan tempat di liga musim depan? (hj/nik)
Editor : Niko auglandy