RADARSOLO.COM – Persaingan papan bawah BRI Super League 2025/2026 semakin memanas menjelang akhir musim. Persis Solo kini berada dalam situasi krusial untuk bertahan di kasta tertinggi musim depan.
Dengan menyisakan sembilan pertandingan, Laskar Sambernyawa dihadapkan pada jalur terjal.
Hampir seluruh lawan yang akan dihadapi memiliki statistik yang lebih stabil, baik dari sisi produktivitas gol maupun kekuatan pertahanan.
Sepanjang musim ini, Persis mencatat rata-rata 1,1 gol per laga dan kebobolan 1,8 gol—angka yang menjadi alarm jelang fase penentuan.
Kondisi tersebut membuat setiap pertandingan tersisa layaknya final bagi Persis Solo. Tidak ada ruang untuk kesalahan jika ingin keluar dari ancaman degradasi.
Di atas kertas, dua laga yang bisa dimaksimalkan untuk meraih poin penuh adalah saat menghadapi PSM Makassar dan Semen Padang FC.
PSM yang kini berada di papan tengah memang bukan lawan mudah. Tim berjuluk Juku Eja itu mencatat rata-rata 1,2 gol per laga dan kebobolan 1,4 gol—lebih solid dibanding Persis. Namun, peluang tetap terbuka jika Persis mampu mengontrol tempo, mengingat rata-rata penguasaan bola mereka mencapai 49,4 persen.
Sementara itu, menghadapi Semen Padang bisa menjadi peluang emas. Tim asal Sumatra Barat tersebut hanya mencetak rata-rata 0,8 gol per laga, terendah di antara calon lawan Persis.
Meski demikian, pertahanan mereka cukup disiplin dengan beberapa catatan nirbobol, sehingga efektivitas serangan menjadi kunci.
Menghadapi Arema FC juga membuka peluang tersendiri, terutama karena Singo Edan tengah berada dalam tren kurang stabil. Namun, catatan pertemuan tidak berpihak kepada Persis.
Dalam delapan pertemuan terakhir, Persis belum pernah menang atas Arema dan hanya mampu meraih empat hasil imbang.
Selain itu, Arema memiliki produktivitas 1,4 gol per laga, dengan ketajaman penyerang Dalberto yang sudah mengoleksi 14 gol dan empat assist musim ini.
Setelah menghadapi tim-tim yang relatif selevel, Persis harus bersiap menghadapi lawan papan atas. Peluang meraih poin tentu semakin berat, sehingga laga kandang menjadi momen krusial.
Beberapa pertandingan kandang yang harus dimaksimalkan antara lain saat menjamu Bhayangkara FC, Persebaya Surabaya, dan Dewa United FC. Namun situasi tidak sepenuhnya menguntungkan karena Persis harus menjalani sanksi tanpa penonton dalam lima laga kandang.
Absennya dukungan suporter tentu menjadi kehilangan besar bagi Laskar Sambernyawa dalam upaya mengamankan poin penting.
Kapten Persis, Andrei Alba, menegaskan timnya tidak ingin terbebani dengan situasi tersebut.
Dia memilih fokus menjaga konsistensi performa, terutama di tengah jeda singkat libur Lebaran.
Menurutnya, tidak ada persiapan khusus menghadapi tim papan atas. Yang terpenting adalah memahami situasi dan memaksimalkan setiap pertandingan.
“Kami akan memiliki jeda singkat, tidak lebih dari itu, dan kami akan terus berlatih. Kami tahu risikonya. Tidak ada yang spesial, kami harus tetap fokus. Ada sembilan final bagi kami dan kami harus berusaha meraih poin maksimal,” ujarnya.
Dengan kondisi yang ada, peluang Persis Solo bertahan di Super League masih terbuka. Namun, kunci utamanya ada pada konsistensi dan kemampuan memanfaatkan setiap laga, terutama saat menghadapi tim-tim yang secara kekuatan relatif seimbang. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy