RADARSOLO.COM - Pada 6 Januari 2005, Agung Setyobudi akhirnya mengambil keputusan besar dalam kariernya: bergabung dengan Persis Solo. Kehadirannya langsung memberi suntikan motivasi bagi skuad Laskar Sambernyawa yang saat itu tengah berjuang bangkit di kasta ketiga sepak bola Indonesia.
Nama Agung Setyobudi bukan sosok asing di jagat sepak bola nasional. Dia merupakan salah satu pemain paling disegani pada era 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Kariernya bersinar bersama Arseto Solo, klub legendaris yang menjadi simbol kekuatan sepak bola Jawa Tengah kala itu.
Setelah Arseto bubar pada 1998, Agung memutuskan bergabung dengan PSIS Semarang. Keputusan itu langsung membuahkan hasil manis.
Baca Juga: 9 Laga Penentuan! Persis Solo Gaspol Usai TC, Milo: Harus 110 Persen!
Di tengah kondisi finansial PSIS yang kritis pasca krisis moneter 1998, Agung sukses mengantarkan Laskar Mahesa Jenar menjadi juara Liga Indonesia musim 1998/1999. Pada partai final, PSIS mengalahkan Persebaya Surabaya—sebuah pencapaian monumental di tengah keterbatasan.
Karier Agung bersama PSIS terbilang panjang dan stabil. Tak hanya di level klub, namanya juga harum bersama Tim Nasional Indonesia. Ia tercatat lebih dari satu dekade membela Merah Putih, menjadi salah satu pilar penting di lini belakang.
Namun, perjalanan panjang itu sempat terhenti oleh tragedi cedera. Momen paling menyedihkan dalam karier Agung terjadi pada Piala Asia 2004 saat Indonesia menghadapi Bahrain.
Baca Juga: Ada catatan Besar Usai Laskar Sambernyawa Jalani TC di Jogja, Ini Kata Pelatih Persis Solo
Dia mengalami cedera lutut parah disertai saraf tulang belakang terjepit. Cedera tersebut membuatnya harus menepi hampir setahun penuh dan absen panjang pada periode 2004–2005.
Usai masa pemulihan, Agung memilih jalan pulang. Setelah malang melintang bersama klub-klub besar seperti Arseto Solo, PSIS Semarang, hingga Persebaya Surabaya, ia akhirnya memutuskan bergabung dengan Persis Solo—klub tanah kelahirannya.
Padahal, saat itu Agung juga diminati Persigo Gorontalo. Namun, status Persis yang masih bermain di Divisi II 2005 (kasta ketiga) tak menyurutkan niatnya.
Debut Agung berseragam Persis Solo terjadi dalam laga uji coba melawan Diklat Salatiga di Stadion Manahan—yang kala itu masih bernama Stadion Sriwedari—pada Februari 2005. Persis menang 2-0, dan kehadiran Agung langsung memberi aura kepercayaan diri bagi tim.
“Sudah lama saya ingin main di Solo agar dekat dengan keluarga. Bersyukur kondisi saya masih mampu. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Nanti kalau sudah tua tentu terlambat,” ujar Agung kala itu.
Menariknya, Agung memberikan satu syarat kepada manajemen Persis Solo sebelum resmi bergabung: pekerjaan di luar sepak bola sebagai bekal setelah pensiun. Permintaan itu disetujui. Agung kemudian ditempatkan sebagai pegawai PDAM Kota Surakarta—profesi yang hingga kini masih dijalaninya.
“Kadang ada warga yang mengenali saya saat sedang mengecek PDAM,” tutur Agung sambil tersenyum, mengenang momen tersebut beberapa tahun lalu.
Baca Juga: TC di Jogja Jadi Ajang "Reset: Tim: Persis Solo Benahi Mental dan Cara Bermain
Meski masa baktinya di Persis tidak terlalu panjang, kontribusi Agung sangat signifikan. Pada Divisi II 2005, Persis Solo sukses promosi ke Divisi I. Musim berikutnya, Divisi I 2006, Persis bahkan melaju hingga partai final dan menjadi runner-up setelah kalah dari Persebaya Surabaya di Kediri. Meski gagal juara, Persis tetap meraih tiket promosi ke Divisi Utama—kasta tertinggi saat itu.
“Melawan Persebaya di final itu penuh kenangan,” kenang Agung.
Baca Juga: Ini Alasan Persis Solo Resmi Ajukan Banding Soal Sanksi Sadisnya
Di Divisi Utama 2007, Agung kembali menunjukkan perannya sebagai pemimpin. Persis Solo finis di posisi ke-11 Grup Timur dari 34 pertandingan, dengan catatan 12 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 15 kekalahan, serta mengoleksi 43 poin dengan selisih gol imbang 43-43.
Sayangnya, posisi tersebut belum cukup untuk mengamankan tempat di kasta tertinggi setelah terjadi restrukturisasi liga pada musim berikutnya.
Baca Juga: Ini Alasan Persis Solo Resmi Ajukan Banding Soal Sanksi Sadisnya
Usai kompetisi Divisi Utama 2007, Agung Setyobudi memutuskan gantung sepatu dan fokus sebagai pegawai PDAM. Namun, kecintaannya pada Persis tak pernah padam. Dia kemudian diminta bergabung dalam jajaran kepelatihan.
Pada era 2010-an, Agung aktif melatih Persis Solo junior di ajang Piala Soeratin. Dia juga menjadi asisten pelatih Persis senior pada periode 2010–2014, mendampingi sejumlah pelatih kepala seperti Didik Listyantoro, Widyantoro, hingga Aris Budi Sulistyo.
Saat kompetisi nasional vakum akibat pembekuan PSSI, Agung sempat dipercaya menjadi pelatih kepala Persis Solo dalam ajang tarkam Plumbon Cup 2015 di Tawangmangu. Hasilnya, Persis keluar sebagai juara.
Sempat kembali menjadi asisten pelatih di ISC B 2016, Agung akhirnya memilih benar-benar menepi dari dunia kepelatihan dan kembali fokus menjalani tugasnya sebagai pegawai PDAM—peran sederhana yang ia jalani dengan kebanggaan yang sama seperti saat membela Persis di lapangan hijau. (nik)
Editor : Niko auglandy