RADARSOLO.COM - Ferroviario, juara bertahan Liga Distrik Lourenço Marques—ibu kota Mozambik yang masih berstatus koloni Portugis pada dekade 1950-an—melakukan tur Asia pada akhir 1955 hingga awal 1956. Dalam arsip surat kabar lawas, klub ini kerap hanya disebut sederhana sebagai “Mozambik”, tanpa penyebutan nama klub secara lengkap, padahal yang dimaksus adalah Ferroviário yang tengah jalani tur ke Indonesia
Redaktur Olahraga Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy Urdiyan dalam penelusudan sejarah dari arsip koran lawas yang terbit di 1950an, didapat informasi bahwa Tur Asia menjadi ajang uji kekuatan Ferroviário menghadapi sejumlah tim regional di Asia Timur dan Asia Tenggara.
Rangkaian laga diawali di Hong Kong, tempat Ferroviário langsung dihadapkan pada lawan-lawan tangguh.
Baca Juga: 9 Laga Penentuan! Persis Solo Gaspol Usai TC, Milo: Harus 110 Persen!
Pada 3 Desember 1955, Ferroviário harus mengakui keunggulan Hong Kong All dengan skor 1-2, setelah tertinggal 1-2 di babak pertama. Sehari berselang, mereka bangkit dan menahan imbang Hong Kong Selection 1-1.
Namun, hasil kurang memuaskan kembali didapat saat menghadapi Gabungan Chinese Hong Kong yang berakhir dengan kekalahan 0-3 pada 7 Desember 1955.
Selepas dari Hong Kong, performa Ferroviário mulai membaik. Di Makau, mereka mencatat kemenangan meyakinkan 3-1. Tur kemudian berlanjut ke Saigon, di mana Ferroviário menjalani tiga laga beruntun. Dua pertandingan pertama berakhir tanpa gol, sebelum akhirnya ditutup dengan hasil imbang 1-1 pada laga ketiga.
Baca Juga: Ada catatan Besar Usai Laskar Sambernyawa Jalani TC di Jogja, Ini Kata Pelatih Persis Solo
Rangkaian hasil ini menjadi pemanasan penting bagi Ferroviário sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia, yang kelak menjadi salah satu etape paling bersejarah dalam tur Asia mereka.
Ferroviário Tiba di Jakarta, Timnas Indonesia Tahan Imbang 2-2 di Stadion Ikada
Klub Ferroviário asal Mozambik resmi menginjakkan kaki di Jakarta pada 22 Desember 1955. Rombongan juara bertahan Liga Distrik Lourenço Marques itu tiba melalui penerbangan dari Bangkok, melanjutkan rangkaian tur Asia yang mereka jalani sejak awal Desember.
Laga pertama Ferroviário di Indonesia langsung menyita perhatian publik sepak bola Tanah Air. Bertempat di Stadion Ikada, Jakarta—yang kini menjadi kawasan Monumen Nasional—Ferroviário menantang Tim Nasional Indonesia pada 24 Desember 1955.
Pertandingan berlangsung sengit dan berakhir imbang 2-2, setelah Ferroviário unggul lebih dulu 2-1 di babak pertama.
Timnas Indonesia menurunkan skuad terbaiknya dengan Saelan (Makassar) di bawah mistar, didukung Rashid (Medan), Dia Tjiang (Jakarta), dan Ramlan (Medan) di lini belakang. Lini tengah diisi Kiat Sek dan Liong Hew, sementara sektor depan dipercayakan kepada Witarsa, Poa Sian Liong, Ramli, Djamiat, dan Hamdani. Pada menit ke-20, San Liong masuk menggantikan Poa Sian Liong.
Baca Juga: TC di Jogja Jadi Ajang "Reset: Tim: Persis Solo Benahi Mental dan Cara Bermain
Sementara itu, Ferroviário menurunkan Da Conceição sebagai penjaga gawang, dengan barisan pemain seperti Pontes, Franco, Onofre, Hernani da Silva, Campelo, Do Vale, Senra, Pires, Low, dan Teixeira. Pada awal babak kedua, Campelo ditarik keluar dan digantikan C. Ferreira.
Ferroviário tampil agresif sejak awal. Mereka membuka keunggulan lewat gol Campelo pada menit ke-8, sebelum menggandakan skor melalui Pires pada menit ke-30. Tim tamu unggul 2-0 dan sempat mengendalikan tempo permainan.
Namun, Timnas Indonesia menunjukkan daya juang tinggi. Ramli memperkecil ketertinggalan pada menit ke-38, menjaga asa tuan rumah tetap hidup hingga turun minum.
Kebangkitan Indonesia berlanjut di babak kedua. Pada menit ke-53, Djamiat sukses memaksimalkan peluang dan mengubah skor menjadi 2-2. Setelah itu, kedua tim saling melancarkan serangan, namun tak ada gol tambahan tercipta hingga wasit meniup peluit panjang.
Baca Juga: TC di Jogja Jadi Ajang "Reset: Tim: Persis Solo Benahi Mental dan Cara Bermain
Hasil imbang ini menjadi catatan penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Timnas mampu menahan laju klub Afrika yang saat itu dikenal tangguh dan sarat pengalaman internasional, sekaligus menandai awal rangkaian laga Ferroviário yang penuh warna selama tur mereka di Indonesia.
Dibungkam di Bandung, Ferroviário Mulai Merasakan Kerasnya Tur Indonesia
Usai menahan imbang Timnas Indonesia di Jakarta, langkah Ferroviário berlanjut ke Kota Kembang. Stadion Sidolig, Bandung menjadi panggung berikutnya dalam tur Asia klub asal Mozambik tersebut pada 25 Desember 1955.
Di hadapan sekitar 8.000 penonton, Ferroviário ditantang PSSI Harapan—tim yang dihuni para pemain muda terbaik Indonesia yang diproyeksikan menjadi tulang punggung tim nasional di masa depan. Pertandingan yang dipimpin wasit Wensveen asal Jakarta itu berakhir mengejutkan: PSSI Harapan menang telak 4-1, setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama.
Sejak awal laga, duel berlangsung ketat. PSSI Harapan menurunkan komposisi pemain lintas daerah. Sutarto asal Solo dipercaya mengawal lini belakang sejak menit pertama.
Dia didampingi Paidjo (Malang) dan Saelan (Jakarta). Lini tengah diperkuat Rukma (Bandung) dan Marjoso (Pati), sementara sektor serang diisi nama-nama seperti Ramlan (Surabaya), Ade (Bandung), Kian An (Semarang), Sukiran (Semarang), Sahetapy (Surabaya), dan Arsjan (Medan).
Di babak kedua, pelatih PSSI Harapan menambah tenaga segar dengan memasukkan Jusran (Semarang) dan Omo (Bandung). Keputusan itu terbukti krusial.
Baca Juga: NAM ABP Surakarta Segera Finalisasi 18 Pemain Jelang Debut di Women Pro Futsal League
Ferroviário sempat membuka asa lebih dulu. Lewat serangan terorganisasi, Teixeira mencetak gol pada menit ke-68 dan membawa tim tamu unggul 1-0. Namun keunggulan itu justru memantik kebangkitan PSSI Harapan.
Hanya lima menit berselang, Sukiran menyamakan kedudukan pada menit ke-73. Setelah itu, PSSI Harapan tampil menggila. Jusran mencetak dua gol beruntun, termasuk pada menit ke-88, sebelum Rukma menutup pesta gol lewat gol keempat pada menit ke-89.
Dalam waktu singkat, Ferroviário runtuh di bawah tekanan intens dan stamina para pemain muda Indonesia.
Kemenangan ini menjadi bukti kualitas generasi emas sepak bola Indonesia kala itu—pemain-pemain yang kelak menghiasi skuad Timnas senior.
Petualangan Berlanjut ke Sumatera dan Jawa Timur
Setelah menyelesaikan rangkaian laga di Jakarta dan Bandung, tur Ferroviário asal Mozambik pada 1955–1956 berlanjut ke Pulau Sumatera. Kota Padang menjadi tujuan berikutnya. Namun, lawatan ke Ranah Minang justru berakhir pahit bagi tim tamu.
Pada 28 Desember 1955, Ferroviário bertandang ke Padang untuk menghadapi PSP Padang. Hasilnya di luar dugaan. Klub tamu dibuat tak berkutik dan harus menyerah telak 1-5, setelah lebih dulu tertinggal 0-2 di babak pertama.
PSP Padang langsung tampil agresif sejak awal laga. Gol pembuka tercipta pada menit ke-15, memecah kebuntuan sekaligus membakar semangat tuan rumah. Tekanan berlanjut hingga akhirnya Arifin menggandakan keunggulan PSP lewat golnya pada menit ke-36. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, dominasi PSP Padang semakin tak terbendung. Nong memperlebar jarak menjadi 3-0 pada menit ke-54. Hanya berselang dua menit, Arifin kembali mencatatkan namanya di papan skor untuk membawa PSP unggul 4-0 pada menit ke-56.
Ferroviário yang terus tertekan kesulitan mengembangkan permainan. Menjelang akhir laga, Nazarwin menambah penderitaan tim tamu lewat gol kelima PSP pada menit ke-87.
Ferroviário baru mampu mencetak gol hiburan di menit ke-90, mengubah skor akhir menjadi 5-1 untuk kemenangan telak PSP Padang.
Dalam pertandingan tersebut, PSP Padang menurunkan Amir sebagai penjaga gawang sebelum digantikan Zainuddin pada menit ke-75. Sementara Ferroviário kembali harus menelan kekalahan besar dalam rangkaian tur mereka di Indonesia.
Kekalahan di Padang ini menjadi salah satu hasil terburuk Ferroviário selama tur Asia 1955–1956, sekaligus menegaskan kekuatan klub-klub lokal Indonesia dalam menghadapi tim asing pada era tersebut.
Kalahkan Persebaya 3-2 dalam Laga Dramatis
Tim asal Mozambik, Ferroviário, yang tengah menjalani tur ke Indonesia pada 1955–1956, benar-benar menunjukkan totalitas dan semangat juang tinggi. Setelah menaklukkan Jakarta dan Bandung, serta melakoni laga berat di Padang, tim ini melanjutkan perjalanan ke Surabaya, Jawa Timur.
Pada 31 Desember 1955, Ferroviário menghadapi Persebaya Surabaya, yang pada saat itu masih bernama Persibaja, di Stadion Tambaksari. Laga berjalan menegangkan sejak menit awal. Persibaja sempat unggul 2-0 lebih dulu melalui brace Sukiran, membuat pendukung tuan rumah bergemuruh di tribun.
Baca Juga: Permohonan E-KTP Membeludak, Klaim Stok Blangko Aman
Namun, Ferroviário tak mau menyerah begitu saja. Memasuki babak kedua, serangan balik tim tamu mulai efektif. Pires menjadi bintang lapangan dengan aksi spektakulernya. Pemain asal Mozambik itu sukses mencetak hat-trick, mengubah keadaan menjadi 3-2 untuk keunggulan Ferroviário.
Kemenangan ini bukan sekadar angka di papan skor, tapi juga bukti mental baja Ferroviário yang mampu bangkit dari ketertinggalan, menghadapi tekanan tuan rumah, dan mencuri kemenangan dramatis di Surabaya.
Pertandingan ini menegaskan bahwa meskipun datang dari benua lain, Ferroviário siap memberikan perlawanan sengit dan menjadikan setiap laga tur di Indonesia sebagai panggung adu ketangguhan.
Ferroviário Pukau Masyarakat di Yang Memadati Sriwedari
Usai melakoni rangkaian laga panjang di Jakarta, Bandung, Padang, hingga Surabaya, klub asal Mozambik Ferroviário akhirnya menggeser perjalanan turnya ke Stadion Sriwedari, Kota Solo pada 1 Januari 1956.
Dalam pertandingan tersebut, Timnas Indonesia B harus mengakui keunggulan Ferroviário dengan skor 2-4, setelah babak pertama berakhir imbang 1-1.
Timnas Indonesia B menurunkan komposisi pemain dari berbagai daerah. Djudju asal Padang dipercaya mengawal gawang.
Lini belakang diisi Latandang (Makassar), Idris (Padang), Rukma (Bandung), Marjoso (Pati), dan Willy (Padang). Sementara sektor serang mengandalkan Sjamsuddin (Medan), Kian An (Semarang), San Liong (Surabaya), serta Anwar Daulay (Medan).
Baca Juga: Tanggal 3 April 2026 Tanggal Merah, Ada Hari Libur Apa? Siap-Siap Nikmati Long Weekend Pekan Ini
Di babak kedua, pelatih memasukkan Lateko (Bandung) dan Danu (Semarang) untuk menambah daya gedor.
Pertandingan berjalan seimbang sejak awal. Timnas Indonesia B membuka keunggulan lebih dulu lewat gol Sjamsuddin pada menit ke-17. Namun, Ferroviário mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-30 melalui Viani, sehingga skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Ferroviário tampil lebih efektif. Amaral membawa tim tamu berbalik unggul pada menit ke-60. Timnas Indonesia B sempat bangkit ketika Anwar Daulay mencetak gol penyeimbang pada menit ke-70. Harapan publik Sriwedari kembali menyala.
Namun, keunggulan mental dan ketajaman Ferroviário menjadi pembeda. Mereka mengambil alih kendali permainan dan menambah dua gol lewat pemain pengganti, yang memastikan kemenangan 4-2 bagi klub asal Mozambik tersebut.
Catatan Java Bode: Finishing Jadi Pembeda
Koran berbahasa Belanda Java Bode edisi 2 Januari 1956 mencatat laga ini sebagai kemenangan kedua Ferroviário selama tur di Indonesia. Dalam laporannya disebutkan, kedua tim bermain relatif seimbang, terutama di babak pertama.
Namun, penyelesaian akhir Ferroviário dinilai jauh lebih baik dibanding Timnas Indonesia B. Java Bode menyoroti solidnya kerja sama pemain PSSI-B, tetapi lemahnya finishing membuat banyak peluang terbuang sia-sia.
Baca Juga: Data Pemilih Pemilu Menyusut, KPU Klaten Bongkar Penyebabnya
Media tersebut juga mencatat bahwa setelah skor kembali imbang di babak kedua, Ferroviário tampil lebih dominan dan konsisten mengambil inisiatif serangan hingga memastikan kemenangan di Stadion Sriwedari.
Laga ini sekaligus menutup perjalanan Ferroviário di Indonesia—sebuah tur yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah awal sepak bola internasional di Tanah Air.
Persija Jadi Penutup Tur Ferroviário di Pulau Jawa
Klub asal Mozambik, Ferroviário, menutup rangkaian laga turnya di Pulau Jawa pada musim 1955–1956 dengan menghadapi Persija Jakarta di Stadion Ikada—lokasi yang kini berdiri Monumen Nasional (Monas)—pada 3 Januari 1956.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Persija tampil dominan dan agresif. Babak pertama sepenuhnya dikuasai tim ibu kota. Gol pembuka lahir pada menit ke-10 melalui Pattipeilohy, yang membuat Stadion Ikada bergemuruh. Tak butuh waktu lama, Wim Pie menggandakan keunggulan menjadi 2-0, memaksa Ferroviário menghadapi tekanan berat sejak awal.
Baca Juga: Hasil Lengkap Play Off Piala Dunia 2026: Italia Gagal Lolos lagi, Turkiye Akhiri Penantian Panjang
Memasuki babak kedua, Persija tak menurunkan tempo serangan. Wim Pie kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-46, disusul dua gol beruntun dari Djamiat (50’ dan 53’), menjadikan skor 5-0. Ferroviário baru mampu memperkecil ketertinggalan lewat penalti Pires di menit ke-53. Dua gol tambahan dari Onofre (75’) dan Veiga (88’) membuat skor akhir menjadi 5-3, namun tak cukup untuk mengubah kemenangan Persija.
Pertandingan ini menegaskan kelas Persija sebagai tim kuat ibu kota, sekaligus menutup tur Ferroviário di Pulau Jawa dengan catatan kemenangan dan kekalahan yang beragam, memberi pelajaran berharga bagi klub Mozambik tersebut.
Susunan Pemain:
- Persija: Davies; Saelan [46’ Chaeruddin], Dia Tjiang, Bandi, Kiat Sek, Liong Hew; Wim Pie, Amir Shah [46’ Hamdani], Djamiat, Pattipeilohy, Hong Sing
- Ferroviário: The Sa, Pontes, Franco, Pereira, Armando da Silva, Campelo, Ferreira, Onofre, Pires, Amaral, Veiga.
Gol:
- 10’ Pattipeilohy 1-0, 2-0 Wim Pie, 46’ Wim Pie 3-0, 50’ Djamiat 4-0, 53’ Djamiat 5-0, 53’ Pires (pen) 5-1, 75’ Onofre 5-2, 88’ Veiga 5-3
Skuad dan Catatan Tur Asia Ferroviário
Dalam laga tersebut, Persija menurunkan sejumlah nama penting seperti Davies, Saelan, Dia Tjiang, Kiat Sek, hingga Djamiat yang tampil menonjol. Sementara Ferroviário diperkuat pemain-pemain inti seperti Franco, Campelo, Pires, Amaral, hingga Veiga, yang juga berstatus sebagai kapten sekaligus pelatih tim.
Berdasarkan catatan RSSSF, Ferroviário juga disebut menjalani laga di Goa, dengan hasil imbang 2-2 atau kalah 1-5. Namun hingga kini, lokasi pasti pertandingan tersebut belum dapat dipastikan, termasuk apakah masih berlangsung di wilayah Indonesia atau luar negeri.
Selama tur Asia 1955–1956, Ferroviário membawa 18 pemain, dengan komposisi usia relatif muda namun berpengalaman. Di posisi penjaga gawang terdapat Severindo da Conceição (23) dan Octavio Augusto César de Sá (20). Lini belakang diisi Raul Franco (26) dan Francisco M. Pontes Ribeiro (27).
Sektor tengah diperkuat pemain seperti João Gouveia Campelo, Hernani da Silva, Armando Ferreira da Silva, Constancio Roque Ferreira, hingga Augusto Onofre.
Sementara lini depan diisi deretan penyerang tajam, termasuk Teixeira, Ismael Amaral, Fernando Ventura Low, Jorge da Costa Viana, hingga Dan Cândido da Silva Veiga (35)—figur sentral yang merangkap kapten dan pelatih.
Kemenangan Persija di Stadion Ikada menjadi penutup tur Ferroviário di Pulau Jawa, sekaligus menorehkan catatan penting dalam sejarah awal pertemuan sepak bola Indonesia dengan klub Afrika pada era 1950-an. (*)
Editor : Niko auglandy