Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Apparel Asal Sukoharjo Tersemat di Jersey Timnas Timor Leste: Berangkat dari Hobi Jadi Kebanggaan, Ini Kisah Inspiratif Oliver

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Selasa, 7 April 2026 | 18:10 WIB
BERSAING: Huda Sulistyo membawa brand Oliver menjadi apparel Timnas Timor Leste. (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)
BERSAING: Huda Sulistyo membawa brand Oliver menjadi apparel Timnas Timor Leste. (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Jalan panjang ditempuh apparel lokal Oliver. Dari sekadar hobi, Apparel yang berkantor di Gendengan, Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut, ternyata kini kembali dipercaya menjadi bagian dari perjalanan Timnas Timor Leste.

Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah tentang relasi, peluang, serta keberanian bersaing di tengah dominasi brand besar.

Owner Oliver, Huda Sulistyo mengungkapkan, semua bermula dari langkah kecil yang tak terduga.

Baca Juga: Kalahkan Malaysia, Pemain Asal Sragen Jadi Penyelamat Timnas Futsal Indonesia di ASEAN Futsal Championship 2026

Kerja sama Oliver dengan Timor Leste ternyata tidak terjadi secara instan. Huda menyebut hubungan tersebut sudah terjalin sejak beberapa tahun lalu melalui cabang futsal. Dari sana, kepercayaan perlahan dibangun hingga membuka peluang yang lebih besar.

“Pertama kali bekerja sama dengan Timnas Timor Leste sebenarnya tahun 2022. Waktu itu kita diberi kesempatan kolaborasi atau menjadi sponsor Timnas Futsal Timor Leste,” ujar Hudam kepada Jawa Pos Radar Solo.

bagian depan jersey Timnas Timor Leste yang menggunakan apparel Oliver. (DOK. OLIVER)
bagian depan jersey Timnas Timor Leste yang menggunakan apparel Oliver. (DOK. OLIVER)
Setelah kerja sama awal tersebut, komunikasi sempat terhenti selama satu tahun. Namun peluang kembali datang ketika federasi sepak bola Timor Leste membuka tender untuk apparel tim nasional. Momen ini menjadi titik krusial bagi Oliver untuk naik level.

“Setelah itu berselang satu tahun tidak ada komunikasi. Lalu di tahun berikutnya, pihak Timor Leste mengadakan tender untuk mencari sponsor Timnas Sepak Bola,” jelasnya.

Baca Juga: Jadwal Proliga Seri Solo dan Hasil Seri Surabaya: Tim Megawati Waswas dan Dalam Tekanan

Huda mengakui proses tender tidak mudah karena ada syarat khusus yang harus dipenuhi, salah satunya peserta harus memiliki kewarganegaraan Timor Leste. Hal ini membuat Oliver tidak bisa langsung terlibat secara mandiri.

Peluang itu akhirnya datang melalui relasi bisnis yang dimilikinya. Seorang rekannya yang memenuhi syarat berhasil memenangkan tender tersebut. Dari situlah Oliver kemudian dilibatkan dalam proses produksi.

“Yang ikut itu teman saya dan dia menang tender karena memang salah satu syaratnya berkewarganegaraan Timor Leste. Di situ juga ada ketentuan produksi, yakni 60 persen dilakukan di Timor Leste dan 40 persen di luar negeri. Kemudian saya dihubungi untuk membantu proses produksinya,” ucap Huda.

Meski terlibat dalam produksi, Oliver sempat tidak bisa mencantumkan nama brand mereka di jersey.

“Sebenarnya dari awal kami tidak bisa membawa nama Oliver. Kemudian kami melakukan negosiasi supaya nama Oliver bisa tercantum pada jersey Timnas Timor Leste,” ungkapnya.

Kerja sama itu kemudian berlanjut dalam kontrak jangka panjang. Huda menyebut kesepakatan awal berlaku selama lima tahun, meski tetap bergantung pada kebijakan federasi di masa mendatang. Saat ini, Oliver sudah memasuki tahun ketiga kerja sama tersebut.

“Kontrak itu informasinya berlaku lima tahun. Tapi dengan catatan, bisa berubah jika ada pergantian kepemimpinan di federasi sepak bola Timor Leste,” jelasnya.

Baca Juga: RASOHISTORI, 6 Januari 2005: Agung Setyobudi Datang ke Persis Solo sebagai Kapten Timnas, Pensiun Sebagai Legenda

Dari sisi desain, Oliver mengusung konsep berbeda untuk jersey musim ini. Huda menekankan pendekatan yang lebih sederhana, namun tetap elegan, dengan inspirasi dari tren sepak bola Eropa.

Meski mengadopsi tren global, Oliver tetap mempertahankan identitas lokal Timor Leste. Unsur budaya menjadi elemen penting dalam setiap detail desain, baik dari warna maupun motif yang digunakan.

“Untuk tahun ini, motifnya lebih simple dan elegan seperti tim-tim Eropa, tapi tidak melupakan unsur budaya Timor Leste. Itu terlihat pada jersey home lewat perpaduan warna merah, hitam, dan kuning yang identik dengan bendera Timor Leste,” ujarnya.

Baca Juga: Polemik Paspor Pemain Timnas Indonesia di Belanda PSSI Akhirnya Buka Suara, Begini Responnya

Tak hanya desain, Oliver juga memperhatikan aspek teknologi dalam produksi jersey. Huda memastikan kualitas bahan dan detail tidak kalah dengan brand besar. Bahkan, beberapa inovasi terbaru telah diterapkan.

“Untuk inovasi, kami menggunakan detail logo tiga dimensi dan bahan terbaru seperti jacquard. Bahan ini juga sudah digunakan oleh tim-tim Eropa, termasuk brand besar seperti Nike,” ujarnya.

Menurutnya, brand lokal sebenarnya memiliki potensi besar untuk bersaing. Meski dari sisi teknologi masih berkembang, kreativitas menjadi senjata utama yang terus dioptimalkan oleh Oliver.

Brand lokal tidak kalah secara ide dan kreativitas. Mungkin dari sisi teknologi mereka lebih unggul, tapi kami  bisa beradu dalam hal desain,” tegasnya.

Di balik pencapaian tersebut, perjalanan Oliver yang berawal dari hobi mengoleksi jersey tidak lepas dari berbagai tantangan. Huda menyebut persaingan harga hingga kenaikan biaya produksi menjadi hambatan utama. Namun, inovasi menjadi kunci agar bisnis tetap bertahan.

Terciptanya Oliver dimulai dari hobi mengoleksi jersey. Dari situ kemudian berkembang menjadi bisnis seperti sekarang. Kendala dalam berbisnis pun cukup banyak, mulai dari kompetitor, perang harga, bahan baku yang terus naik, hingga biaya operasional yang juga meningkat.

"Berangkat dari itu, tantangannya itu Oliver selalu berinovasi supaya bisa tampil beda dengan kompetitor lain. Itu mungkin bisa menjadi kunci supaya bisnis tetap berjalan dari gempuran-gempuran tadi," imbuhnya.

Baca Juga: Satu Poin Tak Cukup Buat Persis Solo! Tiga Poin Jadi Harga Mati Lawan Semen Padang

Selain Timnas Timor Leste, Oliver juga mulai merambah kerja sama dengan klub lokal. Beberapa tim di wilayah Solo Raya telah menjadi mitra mereka untuk kompetisi musim ini, seperti Persiharjo Sukoharjo dan Persebi Boyolali yang terjun di Liga 4 Jateng. Hal ini menjadi langkah penting untuk memperluas jaringan.

“Tahun ini kita diberi kesempatan oleh beberapa klub, salah satunya Persiharjo Sukoharjo di bawah naungan PT GMabar. Kami juga bekerja sama untuk Liga 4 musim 2025/2026. Selain itu, ada Persebi Boyolali yang juga berpeluang lolos ke putaran nasional,” ujarnya.

Di masa depan, Huda melihat peluang besar bagi apparel lokal untuk berkembang. Dia optimistis brand dalam negeri mampu bersaing di level nasional hingga internasional. Kuncinya terletak pada relasi, modal, serta konsistensi dalam berinovasi.

“Potensinya sangat terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita membangun relasi dan menjaga kreativitas,” pungkasnya. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
#apparel #timnas #oliver kahn #timor leste