RADARSOLO.COM – Upaya banding yang ditempuh manajemen Persis Solo atas sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI berbuah pengurangan hukuman jumlah laga tanpa penonton. Namun, di balik keringanan tersebut, Laskar Sambernyawa justru harus menerima beban finansial yang jauh lebih besar.
Dalam putusan awal Komdis PSSI Nomor: 200/L1/SK/KD-PSSI/III/2026, Persis dijatuhi hukuman berat berupa larangan menggelar lima pertandingan kandang tanpa penonton serta denda Rp 50 juta. Sanksi itu merupakan buntut dari insiden yang terjadi saat Persis melakoni laga tandang di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara.
Tak tinggal diam, manajemen Persis Solo mengajukan banding. Hasilnya, Komite Banding (Komding) PSSI memutuskan memangkas jumlah laga tanpa penonton menjadi dua pertandingan kandang. Meski demikian, pengurangan tersebut diikuti dengan skema sanksi tambahan.
Baca Juga: Dana Transfer Pusat Turun Rp 1,5 Triliun, Sumanto Minta Pemprov Mandiri dan Kreatif Gali Potensi PAD
Dua pertandingan kandang berikutnya tetap dapat dihadiri penonton, namun dengan pembatasan ketat. Tribun utara dan Tribun Selatan (Mboergadoel/mburi gawang kidul, Red) Stadion Manahan wajib ditutup. Sementara penonton di tribun lain diperbolehkan masuk dengan syarat tidak mengenakan maupun membawa atribut Persis Solo.
Situasi ini membuat laga kandang Persis Solo melawan Semen Padang (12/4) dan Bhayangkara FC (22/4) akan digelar tanpa penonton. Sementara laga kandang selanjutnya melawan Persebaya Surabaya (9/5) dan DewaUnited (16/5) trbun utara dan selatan wajib ditutup.
Baca Juga: Jersey Persebi Boyolali Diburu Kolektor dan Dapat Apresiasi Gibran
Ini artinya komunitas suporter Ultras 1923 yang biasa berdiri di tribun selatan, hingga Pasoepati dan Garis Keras Sambernyawa di tribun utara harus pindah dukungan dari tribun utara atau barat di dua laga terakhir Persis di akhir musim ini. Sementara suporter Surakartans dan First Mangkoenagoro di tribun timur tetap bisa mendukung Persis saat melawan Persebaya maupun Dewa dari tribun timur.
Di lain sisi, komding justru menaikkan denda administratif menjadi Rp 150 juta atau tiga kali lipat dari putusan awal. Tak hanya itu, uang jaminan banding sebesar Rp 50 juta juga dinyatakan hangus dan masuk ke rekening PSSI.
Direktur Utama Persis Solo Ginda Ferachtriawan mengaku kecewa dengan putusan tersebut. Dia menilai terdapat ketidaksesuaian antara lokasi kejadian dengan bentuk sanksi yang dijatuhkan.
“Kalau melihat kronologinya, pelanggaran itu terjadi saat kami menjalani laga tandang. Tapi kenapa justru laga kandang yang disanksi? Ini yang menurut kami kurang tepat,” ujarnya.
Menurut Ginda, sebagai tim tamu Persis sebenarnya telah menjalankan prosedur sesuai regulasi, termasuk mengeluarkan imbauan resmi kepada suporter agar tidak hadir langsung di stadion. Namun, situasi di lapangan berkata lain.
Dia menyoroti peran panitia pelaksana tuan rumah yang dinilai membuka peluang hadirnya suporter Persis dengan tetap menjual tiket kepada pendukung dari Solo. “Kami sudah mengimbau agar suporter tidak datang. Tapi di sisi lain, panpel tuan rumah tetap menjual tiket kepada mereka. Artinya ada celah yang dibuka. Ini seharusnya juga menjadi bahan evaluasi,” tegasnya.
Ginda menambahkan, kasus ini menjadi pengalaman pertama bagi Persis di mana insiden saat laga tandang berimbas langsung pada hukuman di laga kandang. Dia menilai kondisi tersebut tidak lazim dibandingkan dengan kasus-kasus sebelumnya.
“Baru kali ini kejadian seperti ini. Biasanya kalau ada pelanggaran saat away, ya konsekuensinya juga berkaitan dengan laga tersebut. Ini malah berdampak ke home,” imbuhnya.
Meski demikian, manajemen Persis memastikan tetap menghormati dan menjalankan keputusan federasi. Klub juga berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi internal manajemen maupun komunikasi dengan kelompok suporter.
Menurut Ginda, sanksi tanpa penonton memberikan dampak besar, tidak hanya dari sisi finansial akibat hilangnya pemasukan tiket, tetapi juga dari sisi performa tim yang kehilangan dukungan langsung di stadion. “Bermain tanpa penonton tentu berbeda. Atmosfernya tidak sama, dan itu bisa memengaruhi mental pemain. Selain itu, dari sisi pemasukan juga jelas berkurang,” jelasnya.
Dia berharap kejadian ini menjadi momentum pembelajaran bagi seluruh elemen sepak bola, khususnya di lingkungan Persis Solo, agar lebih disiplin dan bijak dalam menyikapi setiap pertandingan. “Kami ingin semua pihak bisa mengambil hikmah. Baik manajemen maupun suporter harus punya kesamaan visi untuk menjaga tim ini agar tidak terus dirugikan oleh hal-hal seperti ini,” katanya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy