
RADARSOLO.COM - Lebih dari lima dekade kemudian, kisah perjalanan Persis Solo di kompetisi Perserikatan musim 1968/1969 masih menjadi potongan sejarah yang menarik untuk dikenang. Di masa ketika sepak bola Indonesia masih berada dalam era Perserikatan, Persis berusaha keras menembus persaingan ketat demi mencapai babak nasional.
Musim 1968/1969, Persis Solo diperkuat sejumlah pemain terbaiknya. Di bawah mistar berdiri penjaga gawang Biek Tjong. Lini pertahanan diisi oleh Djumadi, kapten tim Sie King Tjong, Sulardi, Hong Widodo, serta Sujamto. Sementara di sektor tengah dan depan terdapat Darwin, Anwar, Bakdo, Sukardi, serta Frans Setiabudi yang akrab disapa Wewek.
Baca Juga: 9 Laga Penentuan! Persis Solo Gaspol Usai TC, Milo: Harus 110 Persen!
Perjalanan Persis dimulai dengan hasil menggembirakan. Tim kebanggaan Kota Bengawan tersebut berhasil keluar sebagai juara zona Jawa Tengah. Gelar tersebut membuka jalan bagi Persis untuk melanjutkan perjuangan ke babak Interzone PSSI Wilayah II.
Babak Interzone digelar di Subang pada 20 hingga 24 Maret 1969. Dalam fase ini, Persis tergabung bersama dua tim lainnya, yakni Sukabumi dan Palembang. Persaingan di grup ini berlangsung sengit, karena setiap tim berusaha mengamankan tiket menuju fase berikutnya.
Baca Juga: NAM ABP Surakarta Segera Finalisasi 18 Pemain Jelang Debut di Women Pro Futsal League
Pada 21 Maret 1969, Persis Solo membuka pertandingan dengan hasil meyakinkan. Menghadapi Palembang, Persis berhasil meraih kemenangan dengan skor 4-2. Hasil tersebut memberi harapan besar bagi Laskar Sambernyawa untuk melangkah lebih jauh.
Namun dua hari kemudian, tepatnya 23 Maret 1969, Persis harus menghadapi ujian berat saat bertemu Sukabumi. Pertandingan berjalan ketat, tetapi Persis akhirnya harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah dengan skor 1-2. Hasil tersebut membuat Persis menutup babak Interzone sebagai runner-up grup.
Baca Juga: Ada catatan Besar Usai Laskar Sambernyawa Jalani TC di Jogja, Ini Kata Pelatih Persis Solo
Meski demikian, posisi tersebut masih cukup untuk membawa Persis melaju ke tahap berikutnya, yakni kompetisi PSSI Wilayah II musim 1968/1969. Pada fase ini, lawan yang dihadapi jauh lebih kuat. Persis harus bersaing dengan sejumlah klub besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIM Jogja, serta kembali bertemu Sukabumi.
Seluruh pertandingan pada babak tersebut digelar di Stadion Diponegoro, Semarang. Di sinilah Persis menghadapi tantangan yang lebih berat.
Laskar Sambernyawa harus menerima kekalahan 0-3 dari PSIM Yogyakarta, serta kalah telak 0-6 saat menghadapi Persija Jakarta.
Persis Solo hanya mampu menahan imbang Persib Bandung dengan skor 1-1, sebelum akhirnya mencatat kemenangan tipis 2-1 atas Sukabumi.
Rangkaian hasil tersebut membuat Persis hanya mampu menempati posisi keempat klasemen akhir.
Dengan demikian, langkah Persis kembali terhenti sebelum mencapai babak nasional Perserikatan.
Meski gagal melangkah lebih jauh, perjalanan Persis Solo pada Maret 1969 tetap menjadi bagian penting dalam sejarah klub. Kisah tersebut menjadi bukti bagaimana Persis pernah berjuang di tengah ketatnya persaingan sepak bola Indonesia pada era Perserikatan.
Hingga kini, cerita-cerita seperti inilah yang membentuk identitas panjang perjalanan Laskar Sambernyawa dari masa ke masa. (nik)
Editor : Niko auglandy