RADARSOLO.COM - Polemik pengakuan mantan pemain Persis Solo Jordy Tutuarima terkait persoalan gaji selama berkarir bersama Laskar Sambernyawa, memicu kegaduhan di kalangan pecinta sepak bola nasional. Pernyataan tersebut mencuat dan cepat menyebar di media sosial.
Melalui wawancaranya dengan media Belanda, Gelderlander, pemain berusia 32 tahun itu mengaku tidak menerima gaji selama berbulan-bulan saat membela Laskar Sambernyawa. Pengakuan tersebut langsung menuai berbagai reaksi.
“Tidak ada gaji selama berbulan-bulan. Anda bisa membayangkan bagaimana dampaknya terhadap permainan,” ungkapnya.
Tutuarima tidak hanya menyoroti persoalan gaji, tetapi juga mengungkap kondisi internal tim yang menurutnya kurang stabil. Dia menilai tingginya frekuensi pergantian pelatih serta perombakan pemain membuat situasi di dalam skuad menjadi tidak kondusif.
Menurutnya, keadaan tersebut berdampak langsung terhadap performa di lapangan. Proses adaptasi yang tidak berjalan optimal membuat harapannya selama berkarier di Indonesia tidak sesuai dengan kenyataan.
Alih-alih menjadi pengalaman yang menyenangkan, periode tersebut justru ia rasakan sebagai fase yang 'aneh' dalam perjalanan kariernya. Pengalaman itu pun meninggalkan kesan tersendiri baginya.
Saat ini, pemain tersebut telah kembali ke Belanda dan melanjutkan kiprahnya di level amatir bersama GVVV. Jordy mengaku kembali merasakan kenyamanan setelah meninggalkan kompetisi di Indonesia.
Kini, Tutuarima telah kembali ke Belanda dan melanjutkan karier di level amatir bersama GVVV. Dia mengaku kembali menemukan kenyamanan setelah meninggalkan kompetisi di Indonesia.
Menanggapi pemberitaan tersebut, Direktur PT Persis Solo Saestu (PSS), Ginda Ferachtriawan memberikan respons singkat. Dia menegaskan bahwa manajemen saat ini memilih fokus pada kompetisi.
"Yang pasti, pertama Persis Solo lebih fokus kepada kompetisi. Artinya kami fokus di pertandingan-pertandingan yang akan kami jalani," tegasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (13/4/2026).
"Yang kedua, yang bisa kami sampaikan ketika saya dan mas Rimbo (komisaris Persis Solo Adityo Rimbo Galih Samudro, Red) masuk ke klub, kami memperbaiki segala macam yang bisa kami perbaiki," imbuhnya.
Baca Juga: Laga Deltras vs Kendal Tornado FC Harus Ngunsi ke Kota Solo, Imbas Piala AFF U-17
Terkait kemungkinan adanya klausul kontrak tertentu, Ginda menegaskan bahwa klub berkomitmen bekerja secara profesional. Dia memastikan setiap kewajiban akan dipenuhi sesuai aturan yang berlaku.
"Kami akan bekerja seprofesional mungkin. Jadi apa yang menjadi kewajiban klub pasti akan kami penuhi. Begitu juga sebaliknya apa yang menjadi hak klub, kami berharap dan hasil terbaik yang kami dapatkan," jelasnya.
Ginda juga mengaku tidak mengetahui secara detail konteks pernyataan yang disampaikan Tutuarima. Dia menilai situasi tersebut tidak perlu diperpanjang agar tidak mengganggu fokus tim.
"Jadi kalau Jordy menyampaikan sesuatu, saya tidak tahu apa yang dimaksud. Yang jelas saat ini tim lagi berusaha mencapai hasil yang semaksimal mungkin di sisa kompetisi ini. Kami berharap kegaduhan ini tidak mengganggu fokus tim di laga berikutnya."
"Jadi tentang rumor atau isu atau apa yang disampaikan mantan pemain, bukannya tidak mau menanggapi tapi kita tidak ingin menggangu konsentrasi tim saja," pungkasnya.
Baca Juga: Tanpa Dukungan Suporter, Persis Solo Tetap Perkasa di Manahan Kalahkan Semen Padang
Di tengah tren positif yang tengah diraih, Persis Solo justru dihadapkan pada isu kurang menyenangkan. Selain pernyataan Tutuarima, muncul pula sorotan terkait tunggakan pembayaran sewa Stadion Manahan yang menambah tekanan bagi manajemen klub.
Situasi tersebut berpotensi menjadi tantangan tersendiri bagi Laskar Sambernyawa dalam menjaga stabilitas tim. Publik berharap berbagai persoalan di luar lapangan tidak berdampak pada performa di kompetisi.
Apalagi, Persis akan menghadapi laga berat kontra Arema FC pada Sabtu (18/4/2026). Catatan pertemuan juga belum berpihak, setelah dalam delapan laga terakhir Persis belum mampu meraih kemenangan atas tim berjuluk Singo Edan tersebut. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy