RADARSOLO.COM – Laga antara Persis Solo melawan Semen Padang FC di Stadion Manahan belum lama ini menuai sorotan tajam. Pertandingan yang berlangsung dalam guyuran hujan lebat membuat kondisi lapangan tergenang air, sehingga aliran bola menjadi tersendat dan permainan sulit berkembang.
Genangan air di beberapa titik membuat bola kerap berhenti saat mengalir di permukaan lapangan. Pola permainan dari kaki ke kaki pun tidak berjalan optimal karena bola kerap “mandek” akibat kubangan air.
Usai pertandingan, petinggi Semen Padang, Andre Rosiade, bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut kondisi Stadion Manahan saat itu seperti “sawah”. Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian publik, mengingat Manahan selama ini dikenal sebagai stadion dengan kualitas drainase yang cukup baik.
Baca Juga: RASOHISTORI: Setelah PSIM Jogja, PersisSolo Kalah Lagi di Ajang Bergengsi Menyambut HUT PSSI
Kondisi ini tentu menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, beberapa tahun lalu Stadion Manahan sempat mendapatkan renovasi dengan anggaran besar, termasuk pembenahan pada sektor lapangan. Namun dalam beberapa laga terakhir yang digelar saat hujan, daya serap lapangan dinilai tidak lagi seoptimal sebelumnya.
Menariknya, kejadian serupa ternyata bukan pertama kali terjadi. Tepat 20 tahun silam, momen hampir identik pernah terjadi dalam laga yang juga melibatkan Persis.
Pada 16 April 2006, pertandingan Divisi I antara Persis Solo melawan Persiba Bantul di Stadion Manahan harus dihentikan sebelum waktu normal berakhir.
Baca Juga: RASOHISTORI: Drama Di Menit ke-40! Dua Pemain Diusir, Persis Solo Tetap Tak Berdaya di Tanah Papua
Saat itu, hujan deras yang mengguyur Kota Surakarta membuat lapangan dipenuhi genangan air. Kondisi tersebut membuat bola sulit dikontrol dan jalannya pertandingan tidak lagi normal.
Wasit akhirnya mengambil keputusan menghentikan laga pada menit ke-71 demi keselamatan pemain. Hampir seluruh sisi lapangan tergenang, sehingga pertandingan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan pada hari yang sama.
Penyelenggara kemudian menjadwalkan ulang pertandingan tersebut untuk dilanjutkan keesokan harinya setelah kondisi lapangan dinilai membaik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa faktor cuaca masih menjadi tantangan besar dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola, bahkan di stadion yang sebelumnya dikenal memiliki kualitas lapangan yang baik. (nik)
Editor : Niko auglandy