Nova Arianto Murka! Aksi Tendangan “Kungfu” Laga Bhayangkara FC vs Dewa United di EPA U-20 Tak Bisa Ditoleransi: Nama eks Timnas U-17 Ikut Terseret
Niko auglandy• Senin, 20 April 2026 | 08:32 WIB
Tendangan kungfu di laga Bhayangkara FC vs Dewa United di Stadion Citarum Semarang.
RADARSOLO.COM - Pelatih Timnas U-20, Nova Arianto, ikut angkat suara terkait kericuhan yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy U-20 Super League antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya (@novarianto30), Nova melontarkan kritik keras terhadap aksi kekerasan yang terjadi, khususnya tendangan berbahaya yang diarahkan ke tubuh pemain lawan.
“Melihat yang terjadi di pertandingan EPA U-20 pastinya menjadi kejadian yang sangat disayangkan. Apa pun situasi dan alasannya, kejadian itu bukan menjadi contoh yang baik untuk ditiru pemain lainnya,” tulis Nova.
Ia juga menyoroti kabar yang menyebut adanya keterlibatan pemain yang memiliki latar belakang tim nasional kelompok usia. Nova menegaskan pihaknya tengah mendalami informasi tersebut.
“Saat ini kami sedang mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan kejadian itu bisa terjadi. Seandainya benar ada pemain timnas usia muda yang terlibat, pastinya ada konsekuensi yang akan diberikan. Karena sudah seharusnya pemain timnas usia muda memberikan contoh yang baik kepada pemain lainnya,” lanjutnya.
Nova menegaskan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas di lapangan. Ia berharap insiden ini bisa menjadi pelajaran bersama agar tidak terulang di masa mendatang.
“Selalu respect dengan apa pun yang terjadi di lapangan dan semoga menjadi pembelajaran bersama agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali. Maju terus sepak bola Indonesia,” tutupnya.
Ya, seperti diberitakan sebelumnya laga Elite Pro Academy U-20 Super League pekan ke-32 mempertemukan Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026).
Dalam pertandingan tersebut, Dewa United U-20 berhasil mencuri kemenangan tipis 2-1 atas tuan rumah. Tim tamu langsung membuka keunggulan cepat melalui gol Kelvin Ananda Hairulis saat laga baru berjalan satu menit.
Bhayangkara FC U-20 sempat membalas di babak kedua lewat gol Aqilah Lissunnah Aljundi pada menit ke-65, yang membuat pertandingan
Namun, hasil pertandingan bukan menjadi sorotan utama. Publik justru digegerkan oleh video kericuhan di stadion yang dengan cepat menyebar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, aksi kekerasan yang melibatkan pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 menjadi viral. Ironisnya, tindakan brutal itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang.
Laga Elite Pro Academy U-20 Super League yang mempertemukan Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, berubah menjadi catatan kelam bagi sepak bola Indonesia.
Bagaimana tidak, kamera menangkap momen saat seorang pemain Bhayangkara FC U-20 melayangkan tendangan keras ke arah punggung hingga leher bagian belakang pemain Dewa United. Aksi tersebut membuat korban langsung terkapar. Tindakan itu dinilai sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan cedera serius.
Padahal, sepanjang pertandingan, laga berjalan relatif normal. Namun situasi berubah setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Kedua tim terlibat cekcok di pinggir lapangan hingga memicu kerumunan.
Dari situlah insiden tak terpuji terjadi. Dalam rekaman video yang diunggah akun Instagram @smgfootball pada Minggu malam (19/4), terlihat jelas seorang pemain Bhayangkara FC U-20 berlari kencang sebelum melayangkan tendangan ke arah lawannya.
“Sementara itu pertandingan lanjutan EPA Liga 1 antara Bhayangkara FC U-20 vs Dewa United FC U-20 hari ini yang digelar di Stadion Citarum Semarang berakhir ricuh setelah tim tuan rumah kalah. Tampak pemain Bhayangkara FC melakukan tendangan kungfu ke arah pemain Dewa United FC,” tulis akun tersebut, sembari menandai PSSI dan Erick Thohir.
Identitas pelaku belum dapat dipastikan. Namun, warganet mulai berspekulasi dan menduga pelaku merupakan salah satu mantan pemain tim nasional kelompok usia.
Korban dari kubu Dewa United diketahui bernama Rakha. Dari foto yang beredar, wajahnya terlihat mengalami luka cukup serius. Situasi semakin memanas ketika setelah insiden tersebut, muncul sosok lain yang diduga bukan pemain dari kedua tim ikut melakukan kekerasan terhadap korban yang sudah terjatuh.
Aksi tersebut langsung memantik gelombang kecaman dari warganet, khususnya para penggemar sepak bola nasional. Banyak yang menyayangkan perilaku pemain muda yang seharusnya menjadi aset masa depan, namun justru menampilkan tindakan tidak terpuji di lapangan.
Publik pun mendesak adanya langkah tegas dari PSSI agar kejadian serupa tidak terulang. Apalagi, insiden kekerasan seperti ini bukan pertama kali terjadi di level kompetisi nasional.
Sebagai perbandingan, dalam sejumlah laga Liga 4 di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY musim ini, tercatat ada tiga kasus serupa yang berujung pada sanksi berat. Asosiasi provinsi setempat menjatuhkan hukuman larangan bermain seumur hidup bagi pemain yang terbukti melakukan aksi “tendangan kungfu” ke lawan.
Sanksi tersebut menjadi bukti bahwa tindakan berbahaya di lapangan bukan hanya mencoreng sportivitas, tetapi juga bisa mengakhiri karier seorang pemain secara instan. Karena itu, publik berharap kasus di ajang EPA U-20 ini juga ditangani secara serius dan transparan, demi menjaga masa depan sepak bola Indonesia. (nik)