RADARSOLO.COM - Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 akhirnya buka suara terkait insiden kericuhan dalam laga melawan Dewa United Banten FC U-20 pada ajang Elite Pro Academy U-20 Super League.
Melalui pernyataan resmi, manajemen tim youth Bhayangkara menyampaikan penyesalan atas insiden yang mencoreng jalannya pertandingan tersebut. Laga yang awalnya berlangsung kompetitif disebut berubah tidak kondusif akibat sejumlah situasi di lapangan yang memicu ketegangan antar pemain.
Dalam pernyataannya, Bhayangkara menegaskan komitmennya dalam pembinaan pemain muda, tidak hanya dari sisi teknik, tetapi juga sikap dan karakter. Nilai disiplin, respek, dan sportivitas disebut sebagai fondasi utama dalam setiap proses pembinaan.
“Kami menegaskan bahwa Bhayangkara Presisi Lampung FC Youth tidak mentolerir segala bentuk kekerasan dalam pertandingan. Di sisi lain, kami juga mengecam keras segala bentuk provokasi dan tindakan rasis yang terjadi dalam insiden tersebut,” tulis pernyataan resmi klub.
Baca Juga: Misi Mustahil Belum Usai: Milomir Seslija Ingatkan Persis Solo Masih di Ujung Tanduk
Manajemen juga mengakui bahwa situasi di lapangan berlangsung emosional. Meski demikian, mereka menegaskan tidak membenarkan reaksi berlebihan dalam bentuk apa pun. Evaluasi internal pun tengah dilakukan untuk menindaklanjuti keterlibatan sejumlah pemain.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Bhayangkara memastikan akan mengambil langkah tegas melalui proses disiplin internal sesuai regulasi yang berlaku. Selain itu, pembinaan lanjutan juga akan diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
Baca Juga: Kritik Keras 'Tiki-Taka' Persis Solo, Milomir Seslija: Terlalu Rumit, Minim Eksekusi
Saat ini, pihak klub juga tengah mengumpulkan bukti-bukti terkait insiden tersebut. Seluruh data nantinya akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk diproses secara profesional dan adil.
Di akhir pernyataannya, Bhayangkara mengajak semua pihak untuk tetap menjaga sportivitas serta menjunjung tinggi nilai fair play dalam sepak bola.
Ya, seperti diberitakan sebelumnya laga Elite Pro Academy U-20 Super League pekan ke-32 mempertemukan Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026).
Dalam pertandingan tersebut, Dewa United U-20 berhasil mencuri kemenangan tipis 2-1 atas tuan rumah. Tim tamu langsung membuka keunggulan cepat melalui gol Kelvin Ananda Hairulis saat laga baru berjalan satu menit.
Bhayangkara FC U-20 sempat membalas di babak kedua lewat gol Aqilah Lissunnah Aljundi pada menit ke-65, yang membuat pertandingan
Namun, hasil pertandingan bukan menjadi sorotan utama. Publik justru digegerkan oleh video kericuhan di stadion yang dengan cepat menyebar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, aksi kekerasan yang melibatkan pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 menjadi viral. Ironisnya, tindakan brutal itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang.
Laga Elite Pro Academy U-20 Super League yang mempertemukan Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, berubah menjadi catatan kelam bagi sepak bola Indonesia.
Bagaimana tidak, kamera menangkap momen saat seorang pemain Bhayangkara FC U-20 melayangkan tendangan keras ke arah punggung hingga leher bagian belakang pemain Dewa United. Aksi tersebut membuat korban langsung terkapar. Tindakan itu dinilai sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan cedera serius.
Padahal, sepanjang pertandingan, laga berjalan relatif normal. Namun situasi berubah setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Kedua tim terlibat cekcok di pinggir lapangan hingga memicu kerumunan.
Dari situlah insiden tak terpuji terjadi. Dalam rekaman video yang diunggah akun Instagram @smgfootball pada Minggu malam (19/4), terlihat jelas seorang pemain Bhayangkara FC U-20 berlari kencang sebelum melayangkan tendangan ke arah lawannya.
Baca Juga: Akui Ini Penampilan Terburuk Persis Solo, Milomir Seslija: Arema FC Memang Pantas Menang
“Sementara itu pertandingan lanjutan EPA Liga 1 antara Bhayangkara FC U-20 vs Dewa United FC U-20 hari ini yang digelar di Stadion Citarum Semarang berakhir ricuh setelah tim tuan rumah kalah. Tampak pemain Bhayangkara FC melakukan tendangan kungfu ke arah pemain Dewa United FC,” tulis akun tersebut, sembari menandai PSSI dan Erick Thohir.
Identitas pelaku belum dapat dipastikan. Namun, warganet mulai berspekulasi dan menduga pelaku merupakan salah satu mantan pemain tim nasional kelompok usia.
Korban dari kubu Dewa United diketahui bernama Rakha. Dari foto yang beredar, wajahnya terlihat mengalami luka cukup serius. Situasi semakin memanas ketika setelah insiden tersebut, muncul sosok lain yang diduga bukan pemain dari kedua tim ikut melakukan kekerasan terhadap korban yang sudah terjatuh.
Aksi tersebut langsung memantik gelombang kecaman dari warganet, khususnya para penggemar sepak bola nasional. Banyak yang menyayangkan perilaku pemain muda yang seharusnya menjadi aset masa depan, namun justru menampilkan tindakan tidak terpuji di lapangan.
Publik pun mendesak adanya langkah tegas dari PSSI agar kejadian serupa tidak terulang. Apalagi, insiden kekerasan seperti ini bukan pertama kali terjadi di level kompetisi nasional.
Sebagai perbandingan, dalam sejumlah laga Liga 4 di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY musim ini, tercatat ada tiga kasus serupa yang berujung pada sanksi berat. Asosiasi provinsi setempat menjatuhkan hukuman larangan bermain seumur hidup bagi pemain yang terbukti melakukan aksi “tendangan kungfu” ke lawan.
Sanksi tersebut menjadi bukti bahwa tindakan berbahaya di lapangan bukan hanya mencoreng sportivitas, tetapi juga bisa mengakhiri karier seorang pemain secara instan. Karena itu, publik berharap kasus di ajang EPA U-20 ini juga ditangani secara serius dan transparan, demi menjaga masa depan sepak bola Indonesia. (nik)
Editor : Niko auglandy