RADARSOLO.COM -Keputusan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan menuju ASEAN Championship 2026 (Piala AFF) menghadirkan sejumlah kejutan. Salah satunya di sektor penjaga gawang.
Tak ada nama kiper yang berkarier di Eropa seperti Maarten Paes maupun Emil Audero. Keduanya diperkirakan tetap difokuskan membela klub masing-masing di kompetisi domestik yang tengah berjalan.
Maarten Paes yang masih membela Ajax Amsterdam di Liga Belanda dan Emil Audero yang tengah berjuang dengan Cremonese agar tak terdegradasi dari Liga Italia.
Sebagai gantinya, tiga kiper lokal dipercaya mengisi slot utama. Mereka adalah Cahya Supriadi (PSIM Yogyakarta), Muhammad Riyandi (Persis Solo), dan Nadeo Argawinata (Borneo FC Samarinda). Ketiganya sama-sama berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Sorotan pun mengarah pada sosok Muhammad Riyandi. Kiper berusia 26 tahun itu bukan nama baru di skuad Garuda. Ia telah malang melintang sejak kelompok usia, mulai dari Timnas U-19 hingga U-23, sebelum menjalani debut di tim senior pada 2021.
Namun, performanya musim ini bersama Persis Solo terbilang naik turun. Dari 22 penampilan, Riyandi sudah kebobolan 40 gol dan hanya mencatatkan tiga clean sheet.
Baca Juga: Dari Big Match hingga Misi Bangkit: Maestro Solo FC, Proton FC dan Hampton Dapat Lawan Berat
Secara tim, Persis juga masih berkutat di papan bawah klasemen Super League 2025/2026, tepatnya di posisi ke-16 dengan 27 poin dari 30 laga.
Meski demikian, posisi Riyandi di bawah mistar tetap tak tergantikan. Ia bahkan kembali merebut tempat utama setelah sempat tergeser oleh kiper asing Vukasin Vranes yang didatangkan pada paruh musim. Dalam delapan laga terakhir, Riyandi kembali dipercaya sebagai starter.
Menariknya, keputusan memanggil tiga kiper ini juga diiringi absennya sejumlah nama senior. Teja Paku Alam yang tampil impresif bersama Persib Bandung dengan 16 clean sheet dari 26 laga tak masuk daftar. Begitu pula Andritany Ardhiyasa (Persija Jakarta) yang minim menit bermain musim ini.
Di sisi lain, kondisi cedera membuat Ernando Ari (Persebaya Surabaya) tak dilirik. Padahal sebelumnya ia tampil cukup konsisten. Sementara performa apik Andhika Ramadhani juga belum cukup untuk menarik perhatian tim pelatih.
Dengan komposisi ini, persaingan di bawah mistar Timnas Indonesia dipastikan terbuka lebar. Bagi Riyandi dan dua kiper lainnya, ini bukan sekadar pemusatan latihan, tetapi juga ajang pembuktian—siapa yang paling layak menjadi benteng terakhir Garuda di panggung Asia Tenggara.
Lini Belakang Berubah Total
Pemusatan latihan Timnas Indonesia di Jakarta pada 26–30 Mei 2026 menghadirkan kejutan besar, khususnya di sektor lini belakang. Pelatih kepala John Herdman memilih komposisi pemain yang berbeda dari biasanya.
Sebanyak delapan pemain dipanggil untuk mengisi sektor pertahanan. Mereka adalah Alfahrezzi Buffon (Borneo FC), Brian Fatari (Dewa United FC), Fajar Fathurrahman (Persija Jakarta), Muhammad Ferarri (Bhayangkara FC), Shayne Pattynama (Persija Jakarta), dan Wahyu Prasetyo (Dewa United FC).
Pemanggilan Muhammad Ferarri ke skuad Timnas Indonesia untuk pemusatan latihan jelang ASEAN Championship 2026 memantik tanda tanya besar.
Secara kualitas, Ferarri memang bukan nama sembarangan. Bek muda ini sudah mengoleksi tujuh caps bersama timnas senior, bahkan menyumbang dua gol—catatan yang cukup impresif untuk seorang pemain bertahan.
Baca Juga: Hasil Atletico Madrid vs Arsenal Imbang 1-1, Pertarungan Ketat Liga Champions Berlanjut ke Leg Kedua
Namun, situasi terkininya justru jauh dari kata ideal.
Bersama Bhayangkara FC, Ferarri terakhir kali tampil pada 24 Januari 2026 saat menghadapi Persita Tangerang. Setelah itu, ia menghilang dari lapangan hijau akibat cedera panjang.
Dalam rentang tiga bulan terakhir, Bhayangkara FC telah menjalani 11 pertandingan. Dan dalam seluruh laga tersebut, nama Ferarri tak sekali pun masuk dalam daftar pemain yang tampil. Sebuah fakta yang tak bisa diabaikan.
Kondisi ini membuat publik bertanya-tanya. Bagaimana mungkin pemain yang lama absen justru kembali mendapat panggilan tim nasional?
Di tengah persaingan ketat menuju skuad utama, keputusan pelatih John Herdman jelas menyimpan pertimbangan tersendiri. Bisa jadi, pengalaman dan rekam jejak Ferarri di level internasional masih dianggap relevan. Atau, justru ada kebutuhan taktik tertentu yang hanya bisa diisi oleh sang bek.
Yang pasti, pemanggilan ini menghadirkan satu pesan tegas: di Timnas Indonesia, nama besar dan statistik bukan satu-satunya ukuran. Ada faktor lain yang bekerja di balik layar—dan publik kini menunggu, apakah Ferarri mampu menjawab kepercayaan itu di lapangan.
Di lain sisi, yang paling mencolok dalam pemanggilan pemain kali ini justru absennya deretan nama besar yang selama ini identik dengan lini belakang Garuda.
Tak ada Elkan Baggott, Jay Idzes, hingga Sandy Walsh. Bahkan pemain-pemain diaspora lain seperti Justin Hubner, Kevin Diks, dan Nathan Tjoe-A-On juga tak masuk dalam daftar.
Nama-nama yang sebelumnya tampil di FIFA Series 2026, Maret lalu seperti Rizky Ridho hingga Dony Tri Pamungkas pun ikut menghilang dari skuad kali ini.
Situasi ini seolah menegaskan arah baru yang tengah dibangun John Herdman. Dia tak lagi bergantung pada nama besar atau pemain yang berkarier di luar negeri. Sebaliknya, pelatih asal Kanada itu memberi ruang lebih luas bagi pemain-pemain yang tampil reguler di kompetisi domestik.
Pilihan ini tentu mengundang tanda tanya. Di satu sisi, absennya para bek top bisa dimaknai sebagai strategi rotasi atau menjaga kebugaran pemain diaspora yang tengah berkompetisi di klub masing-masing.
Baca Juga: Kiper Persis Solo, PSIM Jogja dan Borneo FC Dipanggil TC Timnas
Namun di sisi lain, ini juga bisa menjadi sinyal bahwa persaingan di lini belakang Timnas Indonesia kini benar-benar terbuka.
Bagi para pemain yang dipanggil, ini adalah kesempatan emas. Mereka bukan hanya mengisi kekosongan, tetapi juga diuji untuk membuktikan bahwa lini belakang Garuda tak selalu harus bergantung pada nama-nama besar.
Dengan komposisi yang lebih “lokal”, pemusatan latihan kali ini bisa menjadi titik awal regenerasi—atau justru perjudian besar—menuju ASEAN Championship 2026 (Piala AFF).
Tanpa Ivar Jenner dan Verdonk! Lini Tengah Timnas Indonesia Berubah Drastis
Sektor gelandang Timnas Indonesia dalam pemusatan latihan 26–30 Mei 2026 menuju ASEAN Championship 2026 (Piala AFF) menghadirkan kombinasi menarik antara pemain muda, lokal, hingga yang merumput di Eropa. Pelatih John Herdman tampak ingin membangun keseimbangan baru di jantung permainan Garuda.
Beberapa nama dipanggil untuk mengisi lini tengah, antara lain adalah Yance Sayuri (Malut United FC), Marselino Ferdinan (AS Trencin), Arkhan Fikri (Arema FC), Marc Klok (Persib Bandung), Ricky Kambuaya (Dewa United), Rizky Eka Pratama (PSM Makassar) Rivaldo Pakpahan (Borneo FC Samarinda), Thom Haye (Persib Bandung), serta Witan Sulaeman (Persija Jakarta).
Komposisi ini menunjukkan perpaduan pengalaman dan energi muda. Nama seperti Klok dan Kambuaya memberi stabilitas, sementara Marselino, Witan, hingga Arkhan Fikri membawa kreativitas dan mobilitas tinggi.
Sosok yang berpotensi mencuri perhatian adalah Rizky Eka Pratama. Bersama PSM Makassar, ia mencatatkan 22 penampilan dengan torehan 1 gol dan 1 assist. Angka yang terbilang sederhana untuk ukuran striker tim nasional.
Namun seperti di lini belakang, kejutan justru datang dari daftar pemain yang tidak dipanggil. Beberapa nama yang sebelumnya cukup dekat dengan skuad utama harus tersisih. Di antaranya Eliano Reijnders (Persib Bandung), Ivar Jenner (Dewa United), hingga Jordi Amat (Persija Jakarta) yang kerap diplot fleksibel ke lini tengah.
Tak hanya itu, dua pemain abroad yakni Calvin Verdonk dan Joey Pelupessy juga tak masuk dalam daftar. Absennya nama-nama ini memunculkan spekulasi bahwa Herdman tengah menyusun skema berbeda—atau memang sengaja memberi ruang lebih bagi pemain yang aktif dan siap secara fisik di kompetisi domestik.
Pilihan ini bisa dibaca sebagai sinyal perubahan gaya bermain. Dengan materi yang ada, Timnas Indonesia berpotensi tampil lebih dinamis, mengandalkan kecepatan transisi dan kreativitas lini kedua, alih-alih bergantung pada pengalaman pemain diaspora.
Kini, lini tengah menjadi arena pembuktian. Siapa yang mampu mengunci posisi utama, dialah yang akan menjadi motor permainan Garuda di ASEAN Championship 2026.
Nama-Nama Besar di Liga Luar Negeri Justru Tak Dilirik
Keputusan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan menuju ASEAN Championship 2026 benar-benar memantik perhatian. Terutama di sektor lini depan yang menghadirkan kejutan besar.
Tiga striker yang dipilih di posisi striker terbilang di luar ekspektasi. Mereka adalah Eksel Runtukahu, Jens Raven, dan Rizky Eka Pratama. Jika melihat statistik, ketiganya memang belum benar-benar “meledak” musim ini.
Eksel Runtukahu tampil cukup konsisten bersama Persija Jakarta dengan catatan 21 penampilan, 6 gol, dan 3 assist. Sementara Jens Raven bersama Bali United masih belum menunjukkan performa yang menggigit. Dari 21 laga, ia baru mencetak 1 gol dan 2 assist, bahkan lebih sering turun sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir.
Dilain sisi Hokky Caraka dari Persita Tangerang ikut dipanggil. Eks striker PSS Sleman tersebut memang bermain cukup bagus di Persita musim ini. Dia sudah bermain 27 kali bersama Pangeran Cisadane, dan sukses menyumbangkan 4 gol dan 1 assist.
Dua winger lincah Egy Maulana Vikri (Dewa United) dan Saddil Ramdani (Persib Bandung) juga akhirnya kembali dipanggil gabung Timnas.
Namun justru di situlah letak kejutan terbesar. Di saat nama-nama dengan reputasi lebih besar justru tersisih. Pemain seperti Ramadhan Sananta, Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny, hingga Beckham Putra Nugraha yang sebelumnya tampil di FIFA Series Maret 2026, tak masuk dalam daftar kali ini. Bahkan nama-nama lain seperti Mauro Zijlstra dan Yakob Sayuri juga ikut tersingkir.
Keputusan ini seolah menegaskan arah baru yang ingin dibangun Herdman. Timnas Indonesia tak lagi semata mengandalkan nama besar, tetapi lebih pada kebutuhan taktik dan kesiapan pemain di lapangan.
ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF sendiri dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang playoff antara Brunei Darussalam atau Timor Leste.