Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pasoepati Minta Maaf soal Flare di Manahan, Sebut Aksi Dipicu Ajakan Media Sosial

Niko auglandy • Senin, 18 Mei 2026 | 14:10 WIB
Suporter Persis Solo menyalakan flare usai tim kebanggaannya melawan Dewa United di Stadion Manahan (16/5/2026). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
Suporter Persis Solo menyalakan flare usai tim kebanggaannya melawan Dewa United di Stadion Manahan (16/5/2026). (M. IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Insiden penyalaan flare dan smoke bomb saat laga kandang terakhir Persis Solo di Super League 2025/2026 melawan Dewa United di Stadion Manahan, Sabtu (16/5), turut mendapat sorotan dari kelompok suporter Pasoepati.

Presiden DPP Pasoepati Arif Djodi Purnomo mengaku menyayangkan aksi penyalaan flare yang berujung adanya korban sesak napas dan ancaman sanksi bagi klub.

Djodi mengatakan, munculnya aksi flare tersebut tidak lepas dari derasnya ajakan di media sosial yang menginginkan adanya pesta flare sebagai penutup kompetisi.

Menurutnya, keinginan dari arus bawah suporter tersebut sulit dibendung meski sebelumnya sudah ada imbauan untuk tidak menyalakan flare.

“Secara pribadi saya menyayangkan. Tapi memang kehendak arus bawah yang menginginkan pesta flare sebagai penutup kompetisi cukup sulit dibendung, apalagi ajakannya ramai di media sosial,” ujarnya, Minggu (17/5).

Baca Juga: Hasil Lengkap Pekan Ke-33 Liga 1: Persib Bandung, Borneo FC, Persis Solo, Madura United, dan PSIM Jogja Beda Nasib

Atas kejadian tersebut, Djodi juga menyampaikan permohonan maaf kepada para penonton yang terdampak asap flare, termasuk mereka yang mengalami sesak napas saat pertandingan usai.

 “Kami memohon maaf kepada para korban terdampak asap akibat penyalaan flare kemarin,” katanya.

Baca Juga: Persis Solo Harus Ucapkan Terimakasih ke PSIM Jogja: Madura United Tumbang di Bantul, Drama Papan Bawah Semakin Memanas

Menurut Djodi, sebelum pertandingan berlangsung, pihak Pasoepati sebenarnya sudah melakukan koordinasi internal dengan para koordinator wilayah (korwil) dan kelompok suporter agar tidak terlibat dalam aksi penyalaan flare.

Langkah itu dilakukan setelah muncul berbagai ajakan di media sosial beberapa hari sebelum pertandingan.

“Kami sudah mengingatkan korwil maupun suku-suku di Pasoepati terkait dampak flare terhadap tim dan potensi kerawanan yang bisa muncul. Alhamdulillah korwil dan suku Pasoepati kompak untuk tidak ikut serta,” jelasnya.

Djodi mengklaim, dalam pemeriksaan body checking yang dilakukan aparat keamanan di Stadion Manahan, tidak ada anggota Pasoepati yang kedapatan membawa flare maupun petasan.

Dia menyebut evaluasi dan penegasan kepada anggota selama ini terus dilakukan, termasuk adanya ancaman sanksi internal dari organisasi suporter.

“Kalau dari Pasoepati ada sanksinya, termasuk pengurangan kuota tiket untuk korwil. Makanya kemarin alhamdulillah tidak ada anggota Pasoepati yang tertangkap membawa flare saat pemeriksaan,” terangnya.

Baca Juga: Nodai Kemenangan Persis Solo, 33 Oknum Suporter Diamankan Polresta Solo

Terkait ancaman sanksi dari Komite Disiplin PSSI kepada Persis Solo, Djodi menilai flare sebenarnya bukan tindakan kriminal karena dinyalakan setelah pertandingan selesai dan tidak mengganggu jalannya laga.

 Menurutnya, di sejumlah negara, flare bahkan dianggap sebagai bagian dari seni dan kreativitas dalam mendukung sepak bola.

“Kalau melihat di luar negeri, flare sering dianggap bagian dari seni mendukung sepak bola. Kemarin juga flare dinyalakan setelah pertandingan selesai dan tidak mengganggu jalannya laga. Tapi apa pun dampak dan sanksinya nanti, kami siap berbenah,” ucapnya.

Baca Juga: Jan Olde Blak-blakan! Dewa United Kalah dari Persis Solo karena Tak Bermain dengan Hati

Meski demikian, Djodi mengakui aspek keselamatan tetap harus menjadi perhatian utama. Dia menilai kreativitas tribun perlu diimbangi dengan edukasi kepada suporter agar tidak menimbulkan korban maupun gangguan kesehatan akibat asap flare.

“Menurut saya itu bagian dari kreativitas tribun, tapi ke depan harus dibarengi evaluasi dan edukasi soal keselamatan penonton supaya kejadian seperti kemarin tidak terulang,” katanya.

Baca Juga: Sentilan Pedas Alexis Messidoro: Persis Solo Terpuruk Karena Manajemen yang Buruk

Djodi juga menilai pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian dan panitia pelaksana pertandingan sebenarnya sudah cukup ketat. Namun ia mengaku heran masih ada flare yang bisa lolos masuk ke dalam stadion.

“Body checking menurut saya sudah sesuai SOP. Tapi ternyata masih ada yang bisa lolos masuk. Semoga ini jadi pembelajaran untuk kompetisi musim depan,” ujarnya.

Di sisi lain, Pasoepati tetap mengajak seluruh pendukung Persis Solo untuk terus memberikan dukungan kepada tim dalam laga terakhir musim ini melawan Persita.

Djodi berharap para suporter tetap menjaga atmosfer dukungan yang positif dan tidak merugikan klub.

“Kami mengajak seluruh pecinta Persis Solo tetap memberikan dukungan dan kepercayaan kepada tim. Di mana pun musim depan Persis bermain, kami akan tetap kembali ke Manahan untuk menjaga marwah sepak bola Kota Solo dengan dukungan yang lebih atraktif dan lebih peka terhadap sekitar,” tandasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#Dewa United #persis solo #stadion manahan #Flare #pasoepati