RADARSOLO.COM - Piala Dunia selalu mengalami perubahan dari masa ke masa.
Sejak pertama kali digelar, FIFA beberapa kali mengubah sistem kompetisi demi menyesuaikan perkembangan sepak bola dunia yang terus berkembang.
Namun, perubahan terbesar dipastikan hadir pada Piala Dunia 2026.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut bakal menggunakan format baru dengan jumlah peserta jauh lebih banyak dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Jika sebelumnya Piala Dunia hanya diikuti 32 negara, kini FIFA resmi memperluas peserta menjadi 48 tim.
Dampaknya sangat besar karena jumlah pertandingan meningkat drastis dari 64 menjadi 104 laga.
Tak hanya itu, format baru Piala Dunia 2026 juga menghadirkan 12 grup serta babak 32 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen.
Perubahan tersebut diyakini akan memengaruhi strategi permainan, peluang negara kecil, hingga persaingan perebutan gelar top skor.
Tim Kecil Diprediksi Lebih Bertahan
Dalam format baru Piala Dunia 2026, negara-negara dengan kualitas di bawah tim elite dunia diperkirakan akan lebih banyak mengandalkan strategi defensif.
Fenomena serupa sebelumnya terlihat di Piala Dunia Putri 2023 ketika jumlah peserta diperluas menjadi 32 tim.
Banyak pihak memprediksi bakal terjadi banjir gol, namun kenyataannya tim-tim debutan justru tampil disiplin dan sulit ditembus.
Hal yang sama diperkirakan terjadi pada Piala Dunia 2026. Negara seperti Irak, Yordania, Haiti, atau Tanjung Verde kemungkinan akan fokus mencuri poin saat menghadapi lawan selevel dan bermain aman ketika melawan unggulan grup.
Karena delapan tim peringkat ketiga terbaik juga berhak lolos ke fase gugur, selisih gol diprediksi menjadi faktor yang sangat menentukan.
Dalam situasi tertentu, kalah tipis dari tim besar bahkan bisa dianggap sebagai hasil positif bagi negara-negara kecil.
Persaingan Sepatu Emas Diprediksi Semakin Sengit
Format baru Piala Dunia 2026 juga membuka peluang lebih besar dalam perebutan gelar pencetak gol terbanyak.
Sebelumnya, pemain dari tim semifinalis atau finalis hampir selalu diuntungkan karena memainkan lebih banyak pertandingan. Kini situasinya berubah.
Dengan adanya tambahan babak 32 besar, pemain memiliki kesempatan ekstra menghadapi lawan yang relatif lebih lemah pada fase gugur awal.
Artinya, pemain dari tim yang tidak melaju terlalu jauh tetap memiliki peluang besar meraih Sepatu Emas jika tampil tajam sejak fase grup.
Situasi ini mengingatkan publik pada Piala Dunia 1994 ketika Oleg Salenko keluar sebagai top skor meski Rusia gagal lolos dari fase grup.
Fase Grup Akan Sangat Panjang
Salah satu dampak paling terasa dari format baru Piala Dunia 2026 adalah panjangnya fase grup.
Total akan ada 72 pertandingan hanya untuk menyaring peserta dari 48 menjadi 32 tim.
Jumlah tersebut bahkan lebih banyak dibanding total pertandingan pada beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya.
Karena banyak tim masih memiliki peluang lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik, tensi pertandingan grup diperkirakan tidak seintens format lama.
Bagi penonton, mengikuti seluruh pertandingan kemungkinan menjadi tantangan tersendiri karena jadwal yang sangat padat serta perbedaan zona waktu antarnegara tuan rumah.
Babak 32 Besar Diprediksi Jadi Arena Kejutan
Jika fase grup dianggap lebih panjang, maka babak 32 besar justru diprediksi menjadi fase paling menarik dalam format baru Piala Dunia 2026.
Pada fase ini, satu kesalahan kecil bisa langsung mengakhiri perjalanan tim unggulan.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi negara-negara menengah untuk menciptakan kejutan besar.
Publik tentu masih ingat ketika Arab Saudi mengejutkan Argentina pada Piala Dunia 2022.
Bedanya, pada format lama Argentina masih memiliki kesempatan bangkit karena laga tersebut terjadi di fase grup.
Dalam format baru, kekalahan serupa pada fase gugur akan langsung membuat tim favorit tersingkir.
Afrika Jadi Kawasan yang Paling Diuntungkan
Ekspansi peserta Piala Dunia 2026 juga membawa keuntungan besar bagi kawasan Afrika.
Jika sebelumnya hanya mendapat lima slot, kini wakil Afrika bertambah menjadi 10 negara.
Afrika memang dikenal memiliki banyak talenta hebat, tetapi selama ini ketatnya persaingan di babak kualifikasi membuat sejumlah tim kuat gagal tampil di putaran final.
Dengan format baru Piala Dunia 2026, peluang negara-negara Afrika untuk menciptakan kejutan tentu semakin terbuka.
Rotasi Pemain Diprediksi Jadi Faktor Kunci
Turnamen yang lebih panjang membuat kebugaran pemain menjadi faktor krusial.
Tim-tim unggulan diperkirakan tidak akan selalu memainkan skuad terbaik sejak laga pertama.
Pelatih kini memiliki ruang lebih besar untuk melakukan rotasi pemain sekaligus mencari kombinasi ideal selama turnamen berlangsung.
Argentina saat menjuarai Piala Dunia 2022 menjadi contoh bagaimana rotasi pemain mampu membantu menjaga konsistensi tim hingga akhir kompetisi.
Pendekatan seperti itu kemungkinan akan semakin sering digunakan pada Piala Dunia 2026.
Pada akhirnya, format baru Piala Dunia 2026 memang menghadirkan banyak perdebatan.
Sebagian pihak khawatir kualitas pertandingan akan menurun, namun di sisi lain peluang munculnya kejutan justru semakin besar.
Yang pasti, Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dunia dengan lebih banyak tim, lebih banyak pertandingan, dan lebih banyak cerita yang berpotensi dikenang sepanjang masa.(np)
Editor : Nur Pramudito