RADARSOLO.COM.– Persebi Boyolali gagal memaksimalkan keuntungan bermain di kandang sendiri saat menjalani laga perdana Grup U babak 32 Besar Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026. Menjamu Wamena United di Stadion Kebo Giro, Boyolali, Rabu (10/6/2026) sore, Laskar Pandanarang harus puas berbagi angka setelah pertandingan berakhir imbang 1-1.
Hasil tersebut membuat Persebi kehilangan kesempatan meraih tiga poin penting pada laga pembuka. Padahal, tim asuhan Indriyanto Nugroho sempat tampil cukup dominan dan mendapat dukungan penuh dari publik Boyolali yang memadati stadion.
Laga berlangsung dalam tensi tinggi sejak awal. Persaingan ketat di atas lapangan membuat sejumlah insiden terjadi, termasuk gesekan antarpemain yang berujung keluarnya kartu merah untuk masing-masing tim. Situasi itu membuat pertandingan semakin panas hingga peluit panjang dibunyikan.
Pelatih Persebi Boyolali, Indriyanto Nugroho, mengaku cukup puas dengan kerja keras anak asuhnya. Namun, mantan striker Timnas Indonesia tersebut tidak menutupi kekecewaannya terhadap sejumlah keputusan wasit yang dinilai memengaruhi jalannya pertandingan.
Menurut Indriyanto, kedua tim sebenarnya menampilkan permainan yang menarik dan berimbang. Sayangnya, beberapa keputusan pengadil lapangan dianggap menimbulkan tanda tanya.
"Pertandingan cukup bagus. Tapi jujur, kepemimpinan wasit menurut saya kurang seperti yang kita harapkan. Banyak hal yang seharusnya kita dapat sesuatu, tetapi ya sudah, ini sepak bola," ujar Indriyanto seusai pertandingan.
Sorotan utama Indriyanto tertuju pada kartu merah yang diterima pemain Persebi, Ilham Tri Ario Lopez. Hingga laga usai, ia mengaku belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan mengenai dasar keputusan tersebut.
Tak hanya itu, Indriyanto juga mempertanyakan situasi yang melibatkan pemain Wamena United bernomor punggung 27, Yan Sama. Menurutnya, pemain tersebut sempat keluar lapangan sebelum kembali bermain, yang memunculkan pertanyaan terkait penerapan regulasi pertandingan.
"Saya juga tidak tahu kartu merah itu dari mana. Saya terus menanyakan kepada wasit. Nomor 27 sempat keluar lalu masuk lagi. Saya tanyakan regulasinya bagaimana, tetapi tidak ada jawaban," ungkapnya.
Meski kecewa dengan beberapa keputusan yang terjadi di lapangan, Indriyanto memilih menerima hasil akhir pertandingan.
Baginya, yang terpenting Persebi masih mampu mengamankan satu poin dan menjaga peluang lolos ke babak berikutnya.
"Namun inilah sepak bola. Hasil ini tetap kami terima. Yang penting kami tidak kalah dan akan memaksimalkan dua pertandingan berikutnya," tegasnya.
Senada dengan sang pelatih, kapten Persebi Boyolali, Wahyu Hendra, menilai seluruh pemain telah memberikan kemampuan terbaik selama 90 menit pertandingan. Ia menyebut rekan-rekannya sudah tampil habis-habisan demi mengamankan kemenangan perdana di fase 32 besar.
Namun Wahyu mengakui beberapa keputusan wasit sempat memengaruhi psikologis tim di lapangan. Menurutnya, momentum permainan Persebi beberapa kali terputus akibat situasi tersebut.
"Dari segi permainan anak-anak sudah all in semua. Beberapa momen memang terkendala oleh wasit. Saat kami protes langsung ditegur, sehingga mental pemain sempat turun lagi," ujarnya.
Meski gagal meraih kemenangan, hasil imbang ini masih menjaga peluang Persebi untuk bersaing memperebutkan tiket ke babak 16 besar. Laskar Pandanarang kini harus segera mengalihkan fokus ke dua laga sisa Grup U yang dipastikan tidak kalah berat.
Dengan dukungan penuh publik Boyolali dan status sebagai tuan rumah grup, Persebi masih memiliki kesempatan besar untuk memperbaiki posisi di klasemen. Namun, tidak ada lagi ruang untuk kehilangan poin jika ingin terus menjaga mimpi melangkah lebih jauh di Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy