RADARSOLO.COM – Kehadiran Ahmad Mujadid menjadi salah satu secercah harapan baru bagi Persis Solo dalam menyusun kekuatan menghadapi Pegadaian Championship 2026/2027. Namun di balik status menterengnya sebagai top skor Elite Pro Academy (EPA) U-20 musim lalu, striker muda asli Solo Raya itu diminta menjalani proses secara bertahap tanpa dibebani ekspektasi yang terlalu tinggi.
Mujadid resmi menjadi bagian dari Laskar Sambernyawa setelah tampil gemilang bersama Persija Jakarta U-20. Penyerang berusia 18 tahun tersebut sukses mengantar timnya menjuarai EPA BRI Super League 2025/2026 sekaligus menyabet gelar top skor dengan torehan 27 gol dan dua assist dari 29 pertandingan.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 2: Skuad Lama Dipertahankan, Kendal Tornado FC Punya Strategi Tersembunyi?
Catatan impresif itu membuat namanya langsung menjadi sorotan publik sepak bola Solo. Terlebih Persis tengah membangun ulang kekuatan tim setelah terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Meski demikian, sosok yang mengenal perjalanan Mujadid sejak usia belia mengingatkan bahwa kompetisi profesional memiliki tantangan yang jauh berbeda dibanding level usia muda.
Pendiri Pandawa Football Academy (PFA) Sukoharjo sekaligus mantan pemain Persis Solo, Dwi Joko Prihatin, mengungkapkan bahwa Mujadid telah bergabung di akademinya sejak usia 13 tahun. Menurutnya, naluri mencetak gol pemain muda tersebut sudah terlihat sejak awal.
“Untuk Ahmad Mujadid sudah dari usia 13 tahun gabung dengan PFA Sukoharjo. Untuk talenta Mujadid, saya kira sebagai seorang striker dia bisa menjadi finisher di dalam kotak penalti sebagai penyelesai dan juga mampu membuka ruang,” ujar Dwi.
Baca Juga: Menuju Liga 2 2026/2027, Persis Solo Beberkan Pembenahan dan Jadwal Mulai Latihan
Kemampuan sebagai predator di kotak penalti bukan satu-satunya kelebihan yang dimiliki pemain kelahiran Solo tersebut. Dwi menilai ada faktor lain yang membuat perkembangan Mujadid menonjol dibanding pemain seusianya.
“Yang perlu digarisbawahi, nilai plus Ahmad Mujadid adalah fighting spirit yang cukup tinggi,” tegasnya.
Mental bertanding yang kuat itu dinilai menjadi modal penting saat Mujadid harus bersaing di level senior. Apalagi Persis dipastikan memasang target besar untuk segera kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional.
Meski datang dengan reputasi sebagai top skor EPA, Dwi meminta publik Persis tidak terburu-buru menaruh harapan berlebihan kepada sang pemain. Menurutnya, Liga 2 merupakan kompetisi yang menuntut kesiapan fisik, mental, serta pengalaman yang jauh lebih berat dibanding kompetisi kelompok umur.
“Kaitannya dengan Ahmad Mujadid yang didatangkan ke Persis Solo dengan background dia moncer sebagai top skor EPA U-20, sekarang Liga 2 adalah liga profesional. Saya harapkan kita tidak terlalu berekspektasi yang berlebihan untuk Mujadid,” katanya.
Dwi menegaskan bahwa bergabungnya Mujadid ke Persis seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran seorang pemain muda. Kesempatan bermain di tim senior menjadi tahapan penting untuk membentuk kematangan kariernya.
“Jadikan ini adalah tempat pematangan untuk Ahmad Mujadid. Sekali lagi, ini proses pematangan buat seorang pemain muda,” lanjutnya.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 2: PSMS Medan Datangkan Otak Baru dari Eropa!
Karena itu, ia berharap seluruh elemen Persis, mulai dari manajemen, tim pelatih hingga suporter, dapat memberikan dukungan penuh sekaligus ruang bagi Mujadid untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan.
“Harapan saya, kita mendukung proses pematangan ini karena dia juga talenta Solo Raya asli. Kita jangan terlalu berekspektasi yang terlalu tinggi. Jadi kita dukung proses pematangan ini di Persis Solo,” imbuhnya.
Bagi Mujadid sendiri, kesempatan mengenakan seragam Persis memiliki makna yang sangat spesial. Selain menjadi langkah baru dalam karier profesionalnya, ia juga berkesempatan membela klub kebanggaan daerah kelahirannya.
“Senang sekali bisa diberi kesempatan untuk bergabung dengan Persis, apalagi saya asli Kota Solo juga bisa membela tanah kelahiran juga. Saya sangat senang sekali,” ujarnya.
Adik kandung mantan pemain Persis Solo, Muhammad Isa, itu mengaku datang dengan misi membantu kebangkitan Laskar Sambernyawa setelah terdegradasi ke Liga 2.
“Targetnya tetap bisa mengembalikan ke Liga 1 dan bisa membantu tim menjadi lebih baik lagi,” katanya.
Kini, tantangan sesungguhnya menanti Ahmad Mujadid di Stadion Manahan. Status top skor EPA menjadi modal berharga, namun perjalanan menuju level tertinggi sepak bola profesional baru saja dimulai. Di tengah proses pembangunan ulang Persis Solo, publik berharap talenta asli Solo Raya itu mampu berkembang menjadi striker masa depan kebanggaan Kota Bengawan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy