Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ramai Isu Gerbong Surabaya, Manajemen Persis Solo: Kami Ambil Pemain Terbaik Berbasis Data

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Jumat, 26 Juni 2026 | 15:29 WIB
OPTIMISTIS: Kadek Raditya Maheswara resmi jadi pemain baru keenam Persis Solo di bursa transfer Super League 2025/2026.
OPTIMISTIS: Kadek Raditya Maheswara resmi jadi pemain baru keenam Persis Solo di bursa transfer Super League 2025/2026.

RADARSOLO.COM – Keputusan manajemen Persis Solo mempertahankan Yahya Alkatiri sebagai direktur olahraga usai kegagalan tim bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia memunculkan beragam pertanyaan dari suporter. Salah satu isu yang paling ramai diperbincangkan adalah kekhawatiran hadirnya "Gerbong Surabaya" dalam proses pembentukan skuad Laskar Sambernyawa untuk Liga 2 musim 2026/2027.

Isu tersebut mencuat dalam forum dialog terbuka antara manajemen Persis Solo dengan lima elemen suporter yang digelar beberapa waktu lalu. Perwakilan Ultras 1923 secara terbuka mempertanyakan alasan Yahya tetap dipertahankan meski gagal menyelamatkan Persis dari degradasi.

"Mengapa Pak Yahya masih dipertahankan? Beliau jelas gagal mempertahankan tim. Kami ingin mendengar alasan objektif dari manajemen," ujar perwakilan Ultras 1923 yang hadir dalam forum di Persis Store, Selasa (23/6/2026) malam. 

Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: Persib Bandung Lepas Kiper Asal Inggris Minum Kontribusi, Ini Alasan di Balik Keputusannya

Tak hanya itu, suporter juga menyoroti perubahan struktur sumber daya manusia di tubuh Persis. Mereka mempertanyakan perekrutan analis hingga kepala scouting yang disebut-sebut berasal dari lingkungan kerja Yahya Alkatiri saat masih bertugas di Persebaya Surabaya.

Kekhawatiran lain yang ikut mengemuka adalah proses perekrutan pemain. Suporter menilai evaluasi berbasis data seharusnya sudah diterapkan sejak Persis masih bersaing di Liga 1, bukan baru dilakukan setelah tim terdegradasi.

Menanggapi hal tersebut, Yahya Alkatiri memastikan proses perekrutan pemain di Persis kini dilakukan dengan sistem yang lebih terstruktur dan melibatkan banyak unsur di dalam klub. Menurutnya, keputusan tidak lagi ditentukan oleh satu orang.

"Di dalam perekrutan pemain ada analis, komisaris, direksi dan semuanya terlibat. Semua keputusan didasarkan pada data sehingga prosesnya berlapis-lapis dan hasilnya diharapkan lebih maksimal," ujar Yahya. 

Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: Salam Perpisahan Robi Darwis untuk Persib Bandung Bikin Bobotoh Haru

Ia sekaligus membantah anggapan bahwa Persis akan memboyong pemain-pemain eks Persebaya hanya karena dirinya pernah bekerja di klub asal Kota Pahlawan tersebut.

"Banyak beredar, 'Persis sekarang ambil pemain Persebaya'. Enggak ada. Kita tetap akan mengambil pemain terbaik yang kontraknya sudah habis atau pemain pinjaman dari klub lain. Target kami tetap realistis karena semuanya berbasis data," tegasnya.

Yahya juga menegaskan keberadaan departemen analis menjadi salah satu fondasi utama dalam pembangunan tim musim depan. Pengalamannya di klub sebelumnya membuatnya yakin sistem analisis merupakan kunci keberhasilan sebuah tim.

"Departemen analis menurut saya adalah kunci paling penting. Saya sudah membuktikannya sebelumnya. Dengan anggaran yang tidak terlalu besar pun kami bisa bersaing di papan atas," katanya.

Terkait anggapan bahwa dirinya membawa orang-orang dekat dari Surabaya, Yahya menyebut seluruh staf yang direkrut dipilih murni berdasarkan kompetensi, bukan karena kedekatan personal.

"Saya membawa orang ke sini karena mereka memang yang terbaik. Kalau tidak benar-benar kompeten, tentu tidak akan saya bawa," ujarnya.

Baca Juga: Persiku Kudus Harus Start dengan Minus 1 Poin di Liga 2 dan Cari Home Base Baru, Ini Alasannya

Dia juga mencontohkan dua pemain yang pernah direkrut dari Surabaya tetap memilih bertahan bersama Persis meski klub harus turun kasta. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan profesionalisme pemain, bukan karena kedekatan dengan dirinya.

Sementara itu, Komisaris Persis Solo Adityo Rimbo turut memberikan penjelasan mengenai alasan manajemen tetap mempertahankan Yahya Alkatiri. Dia mengaku mengikuti langsung kinerja Yahya selama menangani aspek teknis tim.

"Jujur saya sendiri yang melihat kinerja beliau. Hampir 24 jam beliau mengurus sepak bola dan selalu berkomunikasi dengan saya. Memang hasil musim kemarin mengecewakan, tetapi itu bukan sepenuhnya kesalahan Pak Yahya," ujar Rimbo. 

Baca Juga: Ingin Jadi Pemain PSIS Semarang? Manajemen Gelar Talent Scouting Besar-Besaran untuk Terjun di Liga 2: Catat Tanggal Seleksi, Lokasi, dan Persyaratannya

Menurutnya, kegagalan Laskar Sambernyawa bertahan di kasta tertinggi merupakan tanggung jawab seluruh elemen manajemen, termasuk dirinya sebagai komisaris. Karena itu, ia meminta suporter tidak menjadikan Yahya sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan.

Rimbo juga memastikan proses perekrutan pemain maupun pelatih dilakukan secara kolektif. Seluruh keputusan diambil melalui diskusi berbagai pihak dengan mempertimbangkan data yang dimiliki klub, bukan berdasarkan kepentingan individu ataupun kedekatan dengan klub tertentu.

"Saya pastikan ini bukan gerbong Surabaya. Pemilihan pemain dan pelatih bukan keputusan satu pihak, tetapi hasil pembahasan beberapa pihak. Ada data-data yang menjadi dasar dalam setiap keputusan," tandasnya.

Di lain sisi, pemain lama yang dipertahankan Persis Solo hingga hari ini baru Kadek Raditya. Musim lalu dia dipinjam dari Persebaya Surabaya, dan musim ini dia tetap akan berseragam Laskar Sambernyawa.

Nasib berbeda dirasakan oleh Sutanto Tan, dia dipastikan dilepas oleh manajemen. Beberapa pemain lama juga sudah mengucapkan salam perpisahan, salah satunya adalah M. Riyandi yang kini dikaitkan oleh Persib Bandung dan Persija Jakarta. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
#Bursa Transfer #persis solo #liga 2 #surabaya