RADARSOLO.COM – Di balik keberhasilan Taufik Nur Hidayat menembus jajaran staf kepelatihan Timnas Indonesia U-17, tersimpan cerita panjang tentang kejelian seorang pelatih dalam melihat potensi anak didiknya. Sosok itu adalah pelatih Persiharjo Sukoharjo sekaligus pendiri Pandawa Football Academy (PFA), Dwi Joko Prihatin.
Jauh sebelum dipercaya menjadi video analis Timnas Indonesia U-17 dalam staf kepelatihan David Nascimento, Taufik ternyata telah diarahkan untuk meniti karier sebagai pelatih. Keputusan itu diambil ketika ia masih aktif sebagai pemain di PFA Sukoharjo.
Dwi Joko mengaku sejak awal melihat Taufik memiliki kelebihan yang berbeda dibanding pemain seusianya. Bukan dari kemampuan teknis di lapangan, melainkan kecerdasan dalam memahami sepak bola.
"Untuk Taufik, perjalanannya sampai ke Timnas, dari awal memang dia menunjukkan kecerdasan yang luar biasa," ujar Dwi Joko kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (13/7).
Melihat potensi tersebut, jajaran pelatih PFA tidak hanya membina kemampuan bermain Taufik. Mereka juga mulai mempersiapkan jalur pengembangan lain agar potensinya berkembang secara maksimal.
"Dari waktu dia jadi pemain, terus kita arahkan jadi pelatih, dan kita arahkan untuk kuliah di olahraga," katanya.
Baca Juga: Rekap Bursa Transfer Dewa United di Liga 1: Bongkar Skuad Usai Gagal Juara, 11 Pemain Resmi Dilepas
Menurut Dwi Joko, keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menilai kemampuan teknis Taufik sebagai pemain berada pada level yang cukup, namun kecerdasan dalam memahami permainan membuatnya jauh lebih berpotensi berkembang sebagai pelatih.
"Dia menunjukkan bahwasanya dia ada potensi yang cukup bagus untuk menekuni dunia kepelatihan olahraga," lanjutnya.
Keyakinan tersebut kini terbukti. Setelah melalui proses panjang, Taufik dipercaya bergabung dalam staf kepelatihan Timnas Indonesia U-17 sebagai video analis, posisi yang menuntut kemampuan membaca permainan, menganalisis pertandingan, dan menyusun berbagai data teknis untuk kebutuhan tim.
Dwi Joko mengenang, sejak masih menjadi pemain di PFA, Taufik selalu cepat menangkap materi latihan yang diberikan pelatih.
"Bisa sampai titik ini, dia membuktikan bahwa keyakinan kami waktu itu memang benar. Saat masih bermain sepak bola, kami melihat kecerdasannya cukup luar biasa," ungkapnya.
Tak hanya memahami instruksi, Taufik juga dinilai mampu mengolah informasi menjadi analisis yang mudah dipahami.
"Materi-materi yang kami berikan bisa dia rangkum, kemudian dijelaskan kembali secara detail sesuai apa yang kami inginkan sebagai pelatih," tambahnya.
Kemampuan itulah yang akhirnya membuat tim pelatih PFA mengubah arah perjalanan karier Taufik. Mereka meyakini kontribusi terbesarnya bagi sepak bola justru berada di balik layar, bukan sebagai pemain profesional.
"Secara kemampuan sepak bola, dia hanya rata-rata. Karena itu kami melihat Taufik lebih cocok berada di tim kepelatihan. Akhirnya kami arahkan ke jalur tersebut," beber Dwi Joko.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan Taufik di dunia kepelatihan. Berbekal dukungan dari PFA dan kemauan belajar yang tinggi, ia mulai mengambil lisensi kepelatihan, mendalami bidang analisis pertandingan, hingga akhirnya mendapat kesempatan bergabung bersama Timnas Indonesia kelompok usia.
Bagi Dwi Joko, kisah Taufik menjadi bukti bahwa kesuksesan di dunia sepak bola tidak selalu harus diraih sebagai pemain. Dengan mengenali potensi sejak dini dan mengembangkannya di bidang yang tepat, seseorang tetap dapat memberikan kontribusi besar bagi kemajuan sepak bola Indonesia. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy