RADARSOLO.COM — Status Argentina sebagai satu-satunya wakil Amerika Latin yang tersisa di babak semifinal Piala Dunia 2026 ternyata tidak membuat mereka banjir dukungan.
Alih-alih menjadi kebanggaan kawasan, sang juara bertahan justru panen sentimen negatif dan penolakan masif dari para pencinta sepak bola dari negara tetangga meraka.
Laporan dari The New York Times mengungkapkan sebuah anomali unik, tradisi mendukung sesama wakil benua yang biasanya terjadi ketika sebuah negara tersingkir, kini mati total bagi Argentina.
Di jagat maya, netizen Kolombia, Peru, hingga Ekuador terang-terangan membuat lelucon.
Bahwa mereka lebih sudi mendukung tim Eropa seperti Norwegia ketimbang melihat Lionel Messi dan kawan-kawan kembali mengangkat trofi.
Gelombang antipati ini bahkan memuncak menjadi desakan dari sebagian suporter ekstrem yang meminta skuad La Albiceleste didepak dari turnamen.
Baca Juga: Persis Solo Wajib Waspada! Deltras FC Datangkan Pelatih dengan Ambisi Besar
Lantas, apa saja faktor utama yang membuat Argentina mendadak jadi musuh bersama di Piala Dunia 2026?
1. Sindiran "VARgentina" dan Isu Settingan FIFA
Laju Argentina ke semifinal terus dibayangi oleh keputusan pengadil lapangan yang dinilai kontroversial.
Muncul julukan miring "VARgentina" di media sosial karena sejumlah peninjauan Video Assistant Referee (VAR) dianggap selalu menguntungkan mereka.
Kehebohan pertama mencuat di babak 16 besar saat Mesir kalah comeback 2-3 dari Argentina.
Pelatih Mesir Hossam Hassan dan strikernya, Mostafa Ziko, menuduh Piala Dunia 2026 sengaja disetting agar Argentina keluar sebagai juara.
Tudingan ini kian panas di perempat final ketika Swiss dipaksa bermain dengan 10 orang usai Breel Embolo dikartu merah akibat dugaan simulasi yang dikonfirmasi VAR baru.
Baca Juga: Status Kontrak Dejan Tumbas Terkuak, Jadi Sinyal Masa Depannya di Persis Solo?
Auran VAR baru 2026-2027 ini sempat dikritisi analis peraturan ITV, Christina Unkel, karena dinilai terlalu luas hingga mampu mengubah keputusan dasar laga.
"Kita bukan hanya mengganti siapa yang mendapat kartu, tetapi juga mengubah keputusan dasar pertandingan. Di sinilah VAR mulai masuk ke wilayah 'mengadili ulang' pertandingan," papar Unkel, yang juga mantan wasit FIFA itu.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, pasang badan dan membantah keras tuduhan tersebut.
Menurutnya, keberadaan teknologi kamera membuat tudingan itu tidak masuk akal.
"Dengan VAR, sulit untuk mendapatkan bantuan; tidak ada ruang untuk salah tafsir. Tidak ada favoritisme. Ada banyak orang yang memang tidak ingin kami menang, dan kritik ini kami jadikan bahan bakar untuk bermain lebih baik," tegas Scaloni.
2. Citra "Superior"
Faktor sosiologis juga memicu keretakan hubungan antarnegara tetangga.
Banyak warga Amerika Latin, seperti fans asal Meksiko Coni Reyes dan pengamat pemasaran Kolombia Nestor Ibarra, menilai sebagian orang Argentina kerap bersikap arogan dan memandang rendah negara lain di kawasannya.
Secara demografi, Argentina memang didominasi oleh keturunan imigran asal Spanyol dan Italia, berbeda dengan negara seperti Brasil yang etnisnya jauh lebih heterogen.
Baca Juga: Juan Mera Masuk Radar Legiun Asing Persis Solo, Agennya Ungkap Fakta Ini
Hal ini memunculkan stereotipe bahwa orang Argentina merasa identitas mereka "lebih Eropa" ketimbang Amerika Latin.
Meskipun klaim ini dibantah oleh para akademisi Argentina yang menyebut negaranya murni bagian dari Amerika Latin yang memiliki riwayat migrasi panjang, citra sombong tersebut terlanjur melekat kuat di mata para rival.
3. Dominasi yang Membosankan di Lapangan Hijau
Faktor kecemburuan olahraga tidak bisa dikesampingkan.
Argentina saat ini merupakan penguasa sepak bola global dengan status juara bertahan Piala Dunia dan Copa America.
Dipimpin oleh megabintang Lionel Messi, mereka berkali-kali menjegal asa juara negara tetangga dalam satu dekade terakhir.
Ditambah lagi dengan kultur suporter mereka yang sangat militan dan nekat, dominasi ini memicu rasa frustrasi kolektif dari negara-negara pesaing yang ingin melihat adanya jawara baru.
4. Rentetan Skandal Rasisme yang Memperburuk Citra
Di luar urusan taktik lapangan, citra moral timnas Argentina merosot tajam akibat rentetan isu rasial.
Pasca-kemenangan Copa America 2024 lalu, para pemain Argentina sempat dikecam secara global karena terekam menyanyikan yel-yel diskriminatif bernada rasis yang menyasar para pemain timnas Prancis keturunan Afrika.
Teranyar, FIFA dilaporkan tengah mengusut kasus dugaan pelecehan rasial oleh seorang oknum suporter wanita berjersey Argentina terhadap konten kreator terkenal asal Amerika Serikat, IShowSpeed, saat laga melawan Tanjung Verde.
Komentator televisi asal Brasil, Henrique Porto, mengakui bahwa rentetan insiden rasisme inilah yang membuat publik internasional—bahkan fans yang mengagumi magis Lionel Messi sekalipun—merasa berat hati untuk memberikan simpati kepada Tim Tango.
Editor : Syahaamah Fikria