Di Balik Medali Atlet Senam Ritmik Solo, Orang Tua Masih Menanggung Mimpi ke Pentas Dunia

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:01 WIB
Atlet-atlet senam ritmik Kota Solo tengah berlatih. (Hernindya Jalu/Radar Solo)
Atlet-atlet senam ritmik Kota Solo tengah berlatih. (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Prestasi yang terus ditorehkan atlet-atlet senam ritmik Kota Solo ternyata belum sejalan dengan dukungan pendanaan untuk menembus level internasional. Di balik setiap medali yang diraih, masih ada perjuangan besar yang harus dipikul keluarga atlet karena biaya mengikuti kejuaraan luar negeri sebagian besar masih ditanggung secara mandiri.

Humas Federasi Gymnastics Indonesia (FGI) Kota Solo Ana Herlina mengungkapkan, hingga kini orang tua masih menjadi penyokong utama ketika atlet mendapat kesempatan tampil di ajang internasional.

Sementara itu, federasi juga menghadapi kesulitan mencari sponsor yang mampu membantu biaya keberangkatan. 

"Sebenarnya kami sudah berusaha mencari sponsor. Tetapi mencari sponsor itu tidak gampang. Kebutuhannya kan besar, sementara yang membantu biasanya hanya sekira Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, jadi belum bisa menutup kebutuhan," ujar Ana kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (22/7/2026). 

Baca Juga: Bedah Bursa Transfer Persis Solo! Sudah Datangkan 18 Pemain, Kenapa Rekrutan Belum Berhenti?

Menurut Ana, biaya mengikuti satu kejuaraan internasional dapat mencapai lebih dari Rp 50 juta. Nominal tersebut jauh melampaui kemampuan federasi maupun bantuan sponsor yang selama ini diperoleh.

Akibatnya, kesempatan bertanding di level internasional tidak selalu bisa dimanfaatkan meski atlet telah memenuhi syarat atau memiliki prestasi yang layak.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi cabang olahraga senam ritmik yang masih mengandalkan pembiayaan secara mandiri.

Baca Juga: Update Pemain Baru Borneo FC: Bangun Kekuatan Baru, Rombak Total Tim Kepelatihan dan Datangkan 19 Amunisi Baru

Ana menjelaskan, ketika atlet mengikuti ajang nasional seperti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), seluruh biaya keberangkatan ditanggung pemerintah provinsi. Berbeda halnya dengan kejuaraan internasional yang sebagian besar masih menjadi tanggung jawab keluarga atlet.

"Kalau popnas semua ditanggung Jawa Tengah. Atlet tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Tetapi kalau ke luar negeri biasanya tetap orang tua yang menanggung," katanya.

Dia mencontohkan pada Vanessa Zaneta Herly saat mengikuti Asian Championship di Singapura beberapa waktu lalu, biaya yang harus disiapkan sekira Rp 20 juta. Nominal tersebut masih bisa diupayakan oleh keluarga atlet. 

Namun, ketika biaya keberangkatan meningkat hingga lebih dari Rp 50 juta seperti pada kejuaraan di negara lain, banyak keluarga akhirnya harus berpikir ulang.

"Kemarin waktu di Singapura sekitar Rp 20 juta masih bisa dijangkau. Tetapi kalau sudah lebih dari Rp 50 juta tentu berat bagi orang tua," ungkapnya.

Baca Juga: Update Pemain Baru Borneo FC: Bangun Kekuatan Baru, Rombak Total Tim Kepelatihan dan Datangkan 19 Amunisi Baru

Di sisi lain, federasi mengakui belum memiliki sumber pendanaan yang cukup untuk membantu kebutuhan tersebut. Bantuan dari KONI maupun pemerintah daerah selama ini lebih difokuskan untuk pembinaan, pembelian peralatan, serta kebutuhan operasional latihan.

Karena itu, Ana berharap ke depan ada perhatian lebih besar dari pemerintah, dunia usaha, maupun para pemangku kepentingan terhadap cabang olahraga senam ritmik. 

Menurutnya, dukungan tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk pembinaan, tetapi juga pembiayaan agar atlet-atlet berprestasi tidak kehilangan kesempatan tampil di panggung internasional.

"Dukungan tidak hanya dibutuhkan dalam pembinaan, tetapi juga agar atlet yang sudah berprestasi memiliki kesempatan tampil membawa nama Indonesia di ajang internasional," tutupnya. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
ritmik senam atlet Pembinaan