RADARSOLO.COM – Pertemuan antara pemilik Persis Solo Kaesang Pangarep, jajaran manajemen, dan perwakilan suporter belum serta-merta menghapus kekecewaan yang mengendap sejak Laskar Sambernyawa terdegradasi ke Pegadaian Championship 2026/2027. Ultras 1923 menegaskan akan terus mengawal setiap langkah manajemen agar komitmen yang disampaikan tidak berhenti sebatas janji.
Sikap itu disampaikan perwakilan Ultras 1923, Adit, usai mengikuti pertemuan dengan Kaesang Pangarep, Komisaris Adityo Rimbo, serta jajaran manajemen Persis. Menurutnya, pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari diskusi pertama yang digelar pada akhir Juni lalu.
Dalam dua pertemuan tersebut, Ultras 1923 mengaku menyampaikan berbagai evaluasi terhadap pengelolaan klub. Mulai dari aspek manajerial hingga pembentukan tim yang dinilai menjadi penyebab menurunnya performa Persis musim lalu.
"Pertemuan pertama kami menyampaikan beberapa evaluasi serta pandangan umum untuk kebaikan dan perbaikan, baik dari lini manajerial ataupun tim dari kacamata internal komunitas," ujar Adit kepada Jawa Pos Radar Solo usai pertemuan dengan manajemen di sebuah kafe, Sabtu (25/7/2026).
Pada pertemuan kedua, lanjutnya, kehadiran langsung Kaesang Pangarep menjadi sinyal positif. Sebab, selama beberapa waktu terakhir komunikasi antara pemilik klub dan suporter dinilai tidak berjalan dengan baik.
"Alhamdulillah Mas Kaesang selaku owner bisa hadir. Artinya ini menjadi ekosistem positif yang perlu kita lakukan terus-menerus," katanya.
Baca Juga: Update Bursa Transfer PSPS Pekanbaru di Liga 2: 12 Pemain Baru Merapat Demi Bidik Promosi ke Liga 1
Meski demikian, Ultras 1923 belum ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa seluruh persoalan telah selesai. Adit menegaskan suporter akan melihat terlebih dahulu realisasi berbagai rencana yang disampaikan manajemen.
Dia mengungkapkan, salah satu hal yang mendapat perhatian adalah pembentukan tim analis, tim scouting, serta sejumlah pembenahan di sektor strategis. Menurutnya, langkah tersebut bisa menjadi fondasi yang baik untuk membangun kembali kekuatan Persis setelah turun kasta.
"Harapan kami sama, ingin ada komitmen serta ketegasan secara sadar bahwa memang ada perbaikan yang dilakukan. Mulai dari pembentukan tim analis, kemudian tim scouting dan sebagainya. Saya rasa itu menjadi roadmap jangka pendek yang cukup bagus," ucapnya.
Namun, Adit mengingatkan bahwa kondisi Persis saat ini menuntut pembuktian, bukan sekadar rencana. Status sebagai tim yang baru terdegradasi membuat setiap kebijakan manajemen harus mendapat pengawasan dari suporter.
"Tapi perlu kita awasi juga karena memang tim ini baru saja degradasi dan perlu kita kawal sebagai kontrol sosial dari tim," tegasnya.
Menurut Adit, fungsi kontrol tersebut diperlukan agar manajemen tetap konsisten menjalankan komitmen yang telah disampaikan kepada publik. Jika nantinya komitmen itu tidak dijalankan, suporter akan kembali menyuarakan kritik.
"Kalau komitmen dari owner ataupun komisaris dan manajer kurang, kita perlu pertegas kembali apakah memang beliau benar-benar ingin memperbaiki. Pertanyaannya muaranya jelas, mau dibawa tim ini ke mana ketika mengarungi Liga 2," ujarnya.
Meski masih menyimpan keraguan, Ultras 1923 mengapresiasi kesediaan Kaesang untuk kembali berdialog secara langsung. Adit menilai komunikasi seperti ini menjadi langkah awal yang penting dalam memperbaiki hubungan antara klub dan suporter.
Dia mengakui rasa puas belum sepenuhnya muncul. Sebab, ukuran keberhasilan bukan ditentukan oleh hasil pertemuan, melainkan implementasi berbagai program yang dijanjikan manajemen sepanjang musim nanti.
"Kalau merasa puas tentu belum. Tapi setidaknya kami mendapat ketegasan dari owner, mendapat kepastian bahwa owner memberikan secercah harapan kembali. Minimal kami sudah tahu tim ini akan dibawa ke mana," katanya.
Ke depan, Ultras 1923 memastikan pengawalan tidak hanya dilakukan terhadap pembentukan skuad. Aspek lain seperti kedalaman tim, manajemen ticketing, hingga upaya mendatangkan sponsor juga akan menjadi perhatian selama Persis mengarungi kompetisi Liga 2.
Bagi Ultras 1923, degradasi musim lalu menjadi pelajaran yang tidak boleh terulang. Karena itu, mereka berharap komunikasi antara suporter dan manajemen tetap terbuka sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan tanpa kembali menimbulkan jarak seperti yang sempat terjadi setelah berakhirnya kompetisi musim lalu. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy