RADARSOLO.COM – PSSI mulai mengubah paradigma pembinaan pemain usia muda. Tak hanya mengasah kemampuan di lapangan hijau, organisasi sepak bola nasional itu kini juga memastikan para pemain Timnas Indonesia U-17 tetap memperoleh pendidikan formal melalui kerja sama dengan SMA Negeri 4 Solo.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari program pembinaan jangka panjang Timnas Indonesia U-17 yang saat ini menjalani pemusatan latihan di Kota Solo. Selama mengikuti training camp, sebanyak 24 pemain Garuda Muda akan tetap menjalani proses belajar mengajar di SMAN 4 Solo tanpa meninggalkan kewajiban akademiknya.
Kolaborasi ini menjadi langkah baru dalam sistem pembinaan pemain muda yang tengah dibangun PSSI. Para pemain tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi berbagai agenda internasional, tetapi juga didorong agar tetap memperoleh pendidikan formal selama menjalani program latihan.
Direktur Teknik PSSI, Alexander Zwiers menegaskan, pengembangan pemain tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis sepak bola. Menurutnya, pendidikan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter sekaligus mempersiapkan masa depan para pemain di luar lapangan.
"Satu langkah maju. Kami bangga menjalin kolaborasi dengan SMA Negeri 4 Solo untuk memastikan para pemain PSSI Academy dapat terus menempuh pendidikan sekaligus mengembangkan karier sepak bolanya. Mengembangkan pemain berarti mendukung pertumbuhan mereka, baik di lapangan, di bangku sekolah, maupun dalam kehidupan. Semua berawal dari pemain," tulis Alexander melalui akun media sosial pribadinya.
Baca Juga: Persis Solo Menang Menyakinkan atas Dewa United, Performa Amunisi Baru Mulai Menjanjikan
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMA Negeri 4 Solo Veronika Dhian mengatakan, program tersebut menjadi pengalaman baru bagi sekolah sekaligus menjadi proyek perdana PSSI yang mengintegrasikan pembinaan Timnas dengan pendidikan formal.
Dia mengaku baru mengetahui bahwa dalam program terbaru ini para pemain Timnas diwajibkan tetap mengikuti pembelajaran di sekolah selama menjalani pemusatan latihan. Menurutnya, skema tersebut berbeda dengan pengalaman sebelumnya, ketika pemain yang dipanggil Timnas hanya mengandalkan pembelajaran dari sekolah asal.
"Ini saya juga baru tahu kalau ternyata di Timnas itu proyek pertama mereka. Anak-anak yang masuk Timnas itu juga sekolah. Pengalaman sebelumnya, bahkan anak kami yang ikut Timnas tetap sekolah di sekolah asal. Selama latihan itu tidak ada pembelajaran di tempat mereka berlatih," ujar Veronika kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Tiga Legiun Asing Baru Persis Solo Belum Diturunkan Saat Melawan Klub Liga 1
Veronika menjelaskan, gagasan tersebut lahir dari perhatian jajaran PSSI terhadap masa depan para pemain. Alexander Zwiers bersama tim pelatih ingin memastikan pendidikan tetap berjalan beriringan dengan proses pembinaan sepak bola.
Karena itu, para pemain tidak hanya menjalani latihan setiap hari, tetapi juga diwajibkan mengikuti proses belajar sebagaimana siswa pada umumnya. Dengan demikian, perkembangan mereka tidak hanya diukur dari kemampuan di lapangan, melainkan juga dari sisi akademik dan pembentukan karakter.
Menurut Veronika, Alexander bahkan memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya pendidikan bagi seorang atlet. Dia menyebut filosofi tersebut menjadi dasar lahirnya kolaborasi antara PSSI dan SMAN 4 Solo.
"Pak Alex menekankan pendidikan itu penting untuk atlet-atlet. Prestasi tanpa pendidikan itu zero, jadi nol. Mereka memang dibimbing supaya meskipun sukses sebagai atlet, pendidikannya juga tetap diperhatikan," tuturnya.
Veronika juga mengungkapkan alasan Kota Solo dipilih sebagai lokasi pembinaan Timnas U-17. Menurutnya, PSSI mempertimbangkan kemudahan mobilitas pemain, baik menuju lapangan latihan maupun fasilitas kesehatan.
"Kenapa dipilih Solo? Karena dari basecamp mereka ke tempat latihan lebih mudah. Kemudian akses ke rumah sakit juga dekat," jelasnya.
Selain faktor lokasi, penunjukan SMAN 4 Solo juga bukan tanpa pertimbangan. Sekolah tersebut dipilih karena telah memiliki Kelas Khusus Keolahragaan (KKO) di jenjang kelas X hingga XII.
Keberadaan kelas KKO dinilai mampu mengakomodasi kebutuhan para pemain Timnas. Jadwal belajar dapat disesuaikan dengan agenda latihan tanpa mengurangi materi yang harus ditempuh sesuai kurikulum.
Meski mengikuti pembelajaran di SMAN 4, para pemain tetap berstatus sebagai siswa di sekolah asal masing-masing. Seluruh proses pembelajaran, penugasan, hingga evaluasi akademik akan dilaksanakan di SMAN 4, kemudian hasilnya dikirimkan ke sekolah asal sebagai dasar pengisian nilai rapor.
Program pendidikan tersebut direncanakan berlangsung hingga November 2027. Melalui kolaborasi ini, PSSI berharap para pemain Timnas U-17 tidak hanya berkembang menjadi pesepak bola berprestasi, tetapi juga memiliki bekal pendidikan dan karakter yang kuat sebagai fondasi kehidupan mereka di masa depan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy