Sopo Sing Tekun Tekan: Faizul Mukhlisin Sukses Tembus Tim Senior Persis Solo di Liga 2 2026/2027

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:42 WIB
UNJUK GIGI: Faizul Mukhlisin saat bermain untuk Persis Solo U-20 di ajang EPA 2026. (TIM MEDIA PERSIS SOLO)
UNJUK GIGI: Faizul Mukhlisin saat bermain untuk Persis Solo U-20 di ajang EPA 2026. (TIM MEDIA PERSIS SOLO)

RADARSOLO.COM – Tidak selalu pemain yang paling menonjol sejak awal akan menjadi yang pertama menembus level profesional. Perjalanan Faizul Mukhlisin bersama Akademi Persis Solo menjadi gambaran bahwa ketekunan bisa mengubah peta persaingan. Pemain muda tersebut akhirnya mendapat promosi ke tim senior Persis setelah melewati proses panjang dalam pembinaan usia muda.

Direktur Akademi Persis Solo Rasiman melihat ada satu karakter yang membuat Faizul berbeda. Bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kemauan untuk terus bekerja dan bertahan dalam proses. Filosofi tersebut bahkan dirangkum Faizul dalam kalimat Jawa yang sederhana, tetapi sarat makna: sopo sing tekun tekan.

Rasiman mengungkapkan, perkembangan Faizul terbilang unik. Sejak bergabung dengan akademi pada 2022 hingga naik ke level U-20, namanya belum banyak mencuri perhatian. Bahkan, menurut Rasiman, ada sejumlah pemain lain di kelompok usia tersebut yang secara talenta lebih menonjol.

“Faizul sendiri unik pemain ya, yang dari tahun 2022 sampai dia promosi ke 20 dia nggak terlihat. Dia memang punya filosofi yang cukup baik, the power of patience and perseverance. Kalau di Jawa dia selalu tulis ‘sopo sing tekun tekan’. Itu soal grit saja kalau Zul,” ujar Rasiman kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Kamis (20/8).

Baca Juga: Update Bursa Transfer Madura United di Liga 1: Belasan Pemain Dilepas, Aroma Persib Bandung dan Persebaya Surabaya Terasa

Situasi berubah ketika Faizul mendapatkan program pembinaan yang lebih terarah. Aspek teknik, taktik, hingga fisik terus dibentuk. Rasiman menilai akselerasi perkembangan Faizul kemudian menjadi salah satu yang paling cepat karena sang pemain memiliki kemauan untuk bekerja.

“Tapi ketika dia mendapatkan proper training, development dari teknik, taktik, fisik, dia salah satu pemain yang punya akselerasi paling cepat. Kenapa? Karena dia mau bekerja, dia tekun. Hampir tidak pernah miss latihan,” jelasnya.

Kedisiplinan tersebut juga terlihat dari caranya menyikapi latihan. Ketika berhalangan mengikuti sesi pada pagi hari, Faizul tidak sekadar absen. Dia justru berusaha mencari jadwal pengganti dan meminta kesempatan untuk tetap menjalani program latihan pada sore hari.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Bali United di Liga 1: 5 Pemain Baru Merapat ke Bali United, Asing Baru Dari Belanda hingga Thailand Gabung

Bagi Rasiman, sikap semacam itu menjadi bagian penting dalam proses pembentukan pemain. Sebab, perkembangan di level akademi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar bakat yang dimiliki seorang pemain. Konsistensi menjalani program dan kemauan memperbaiki kekurangan menjadi modal yang tidak kalah penting.

More talented players than him di under 20 sebetulnya. Tapi kategori ‘sing tekun tekan’ itu memang istiqomah menjadi senjata yang paling ampuh sebetulnya di development. Ini harus menjadi motivasi buat anak-anak kita di akademi,” terang Rasiman.

Menariknya, karakter tersebut kemudian ikut terlihat ketika Faizul mendapat kesempatan trial bersama tim senior. Rasiman mengaku turut memantau proses tersebut bersama pelatih kepala Persis Ricky Nelson. Selama sekitar satu bulan, kemampuan Faizul mulai terlihat dalam konteks kebutuhan tim senior.

Rasiman bahkan memiliki penilaian khusus terhadap kontribusi yang bisa diberikan Faizul. Pemain muda itu bukan hanya dinilai sebagai talenta yang perlu dikembangkan, tetapi sosok yang mampu membantu permainan tim melalui karakter kerja kerasnya.

“Saya sudah jelaskan juga bahwa mungkin banyak pemain bagus di dalam tim, tapi Zul itu adalah pemain yang akan menolong tim kita. Artinya dia hilang bola langsung counter-pressing, dia memang pemain yang patuh dan mengerti tentang instruksi pelatih. Nah, itu different level of players menurut saya,” katanya.

Baca Juga: Update Bursa Transfer PSM Makassar di Liga 1: Bintang Timnas Malaysia, dan eks Bek Persis Solo Merapat

Karakter tersebut menjadi semakin relevan dengan tuntutan permainan Persis di bawah Ricky Nelson. Intensitas permainan dan pressing membutuhkan pemain yang mampu segera merespons ketika kehilangan bola.

Bagi Rasiman, kepatuhan terhadap instruksi dan kemauan bekerja membuat Faizul memiliki nilai tersendiri meski secara fisik masih harus berkembang.

Faizul juga masih memiliki pekerjaan rumah. Rasiman menyebut massa otot pemain yang lebih muda dua tahun dari Dafa Habibullah tersebut masih relatif kecil.

Namun, kekurangan itu tidak menghapus keyakinannya terhadap potensi perkembangan Faizul. Justru proses panjang yang sudah dilalui menjadi alasan Rasiman optimistis pemain tersebut masih bisa berkembang lebih jauh.

Perjalanan Faizul sekaligus menjadi bukti bagi sistem pembinaan Akademi Persis. Rasiman ingin anak-anak binaannya memahami bahwa jalur menuju sepak bola profesional tidak selalu lurus dan tidak hanya dimiliki pemain yang sejak awal terlihat paling berbakat. Ada pemain yang membutuhkan waktu lebih panjang sebelum akhirnya menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Persebaya Surabaya di Liga 1: 11 Pemain Baru Masuk, Eks PSM Makassar dan Pemain Asing Eropa Ramaikan Skuad 2026/2027

“Ini bukti bahwa not all talent. Kita punya talented player Dafa, kita punya non-talented footballer Faizul yang nyatanya Faizul sampai lebih cepat karena dia punya grit. Ini memang harus menjadi motivasi buat anak-anak kita di akademi bahwa ‘sopo sing tekun tekan’ itu harus menjadi filosofinya kita semua, bukan cuma di sepak bola,” tegas Rasiman.

Kini, tantangan Faizul berubah. Setelah melewati fase panjang di akademi, dia harus beradaptasi dengan lingkungan tim senior. Rasiman menilai persoalan berikutnya bukan lagi sekadar teknik, fisik, maupun taktik.

Mental menjadi tahap penting yang akan menentukan apakah seorang pemain muda mampu benar-benar melakukan breakthrough menuju sepak bola profesional.

“Di senior ini bukan soal tiga tadi, bukan teknik, fisik, taktik. Ini is all about mental aspect. Bagaimana dia cope dengan situasi yang baru, confidence, communication, belief, dan dealing with struggle. Itu yang akan menentukan,” tutur Rasiman.

Bagi Akademi Persis, promosi Faizul bukan sekadar keberhasilan satu pemain. Cerita tersebut menjadi contoh bahwa proses pembinaan membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran.

Dari pemain yang sempat tidak terlihat hingga akhirnya mendapat tempat di tim senior, Faizul kini membawa satu pesan sederhana yang terus dipegangnya siapa yang tekun akan sampai. (hj/nik)

 

Editor : Niko auglandy
Faizul persis solo liga 2