RADARSOLO.COM – Bersinar di level akademi belum menjadi jaminan seorang pemain mampu langsung menembus sepak bola profesional. Perbedaan intensitas permainan, persaingan, hingga tekanan di tim senior menjadi tantangan yang harus dilewati pemain muda.
Direktur Akademi Persis Solo, Rasiman, menyebut fase transisi dari sepak bola usia muda menuju tim senior sebagai salah satu tahapan paling krusial dalam pengembangan pemain. Menurutnya, teknik, fisik, dan taktik bukan lagi satu-satunya ukuran ketika pemain memasuki lingkungan profesional.
“Di senior ini bukan soal tiga tadi, bukan teknik, fisik, taktik. This is all about mental aspect. Bagaimana dia cope dengan situasi yang baru, confidence, communication, belief, dealing with struggle karena dia pasti akan struggle di situ. Terus bagaimana dia membawa diri di dalam tim itu yang akan menentukan,” ujar Rasiman kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Sopo Sing Tekun Tekan: Faizul Mukhlisin Sukses Tembus Tim Senior Persis Solo di Liga 2 2026/2027
Pernyataan tersebut disampaikan Rasiman berkaitan dengan promosi dua pemain Persis U-20, Faizul Mukhlisin dan Dafa Habibullah, ke tim senior. Dia menilai keduanya telah memiliki fondasi teknik, fisik, dan taktikal setelah menjalani proses pembinaan di akademi.
Namun, promosi ke tim senior justru membuka tantangan baru. Pemain muda harus mampu beradaptasi dengan lingkungan, karakter rekan setim, serta tuntutan kompetisi yang berbeda.
Pemain muda juga tidak selalu langsung mendapatkan menit bermain. Mereka bisa saja harus menunggu kesempatan, menghadapi periode kelelahan, atau beradaptasi dengan perubahan perhatian dari lingkungan sekitar. Situasi tersebut membutuhkan kesiapan mental agar kepercayaan diri tetap terjaga.
Baca Juga: Faizul Naik ke Tim Senior Persis Solo, Ricky Nelson Soroti Kecepatan dan Timing Bermain
Rasiman menyebut perubahan status dari pemain akademi menjadi bagian dari tim profesional dapat memberikan tekanan tersendiri.
“Dia mungkin lama tidak akan main atau segala macam, ataupun dia akan main. Bagaimana dia tiba-tiba from nobody become somebody. Itu juga akan menjadi beban sendiri untuk dia. Mindset, motivation, segala macam itu menjadi bagian yang sangat fundamental dalam merubah pemain muda menjadi pemain profesional,” jelasnya.
Karena itu, Rasiman memastikan perkembangan pemain yang promosi ke tim senior tetap mendapatkan perhatian. Baginya, promosi bukan akhir dari proses pembinaan, melainkan awal dari tahapan baru untuk membuktikan fondasi yang dibangun di akademi mampu diterapkan di level profesional.
Dituntut Cepat Beradaptasi
Selain aspek mental, tuntutan permainan di tim senior juga menjadi perhatian. Persis di bawah arahan Pelatih Kepala Ricky Nelson diproyeksikan mengandalkan intensitas pressing.
Pemain dituntut cepat bereaksi setelah kehilangan bola dan mampu bekerja dalam tekanan. Kondisi tersebut membuat kesiapan fisik sekaligus kemampuan membaca situasi permainan menjadi penting bagi pemain muda.
Rasiman menegaskan Akademi Persis telah mempersiapkan pemain untuk menghadapi tuntutan tersebut. Program pembinaan tidak hanya berfokus pada teknik dan taktik, tetapi juga berbagai aspek yang dibutuhkan dalam pertandingan profesional.
“Akademi ini sebetulnya kawah candradimuka, mempelajari semua aspect of the game, terutama demand of the game. Saya rasa anak-anak kita more than ready karena mereka selalu bermain dengan tipikal yang sama. Yang berbeda adalah opponent karena mungkin pemain senior benturannya lebih cepat,” terangnya.
Baca Juga: Dua Pemain Persis Solo U-20 Naik Kelas, Daffa dan Faizul Gabung Tim Senior
Persiapan fisik dilakukan melalui strength training secara rutin. Rasiman menyebut latihan kekuatan digelar dua kali dalam sepekan. Selama pramusim, porsinya bahkan ditingkatkan menjadi tiga kali.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk membangun kekuatan otot, tetapi juga membantu mengurangi risiko cedera ketika pemain menghadapi intensitas permainan senior.
Meski demikian, kekuatan fisik saja tidak cukup. Pemain muda juga harus memiliki kecerdasan bermain agar mampu mengambil keputusan lebih cepat dan menghindari benturan yang tidak perlu.
“Persoalan pemain muda adalah bagaimana dia mempunyai intelijen yang bagus karena menghindari benturan itu penting. Mereka harus mengambil keputusan lebih cepat karena tentunya massa otot pemain senior, apalagi pemain asing, jauh lebih besar. Itu penting untuk avoiding injury,” katanya.
32 Laga Jadi Bekal
Pengalaman bertanding di level akademi menjadi modal lain bagi pemain muda Persis. Rasiman menyebut skuad U-20 telah menjalani 32 pertandingan dengan jadwal cukup padat, termasuk pertandingan back-to-back.
Beban kompetisi tersebut dinilai menjadi simulasi penting untuk menguji ketahanan pemain sebelum benar-benar masuk ke lingkungan sepak bola senior.
“Anak-anak kita mampu bermain 2x90 menit di hari Sabtu-Minggu. Itu sekalian tes yang bagus, jadi memang akan menghasilkan benar-benar pemain yang akan siap ke senior,” ungkapnya.
Pada akhirnya, kesiapan menuju sepak bola profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis seorang pemain. Mental, kemampuan membaca permainan, pengelolaan kondisi fisik, serta adaptasi terhadap lingkungan baru menjadi rangkaian ujian yang harus dilewati.
Bagi Akademi Persis, proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pemain muda yang naik ke tim senior tidak sekadar mendapat promosi, tetapi juga memiliki fondasi untuk berkembang dan bertahan di level profesional. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy