Naik Level ke Senior, Mental Jadi Ujian Terbesar Pemain Muda Persis Solo

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:54 WIB
Faizul Mukhlisin dan Daffa Habibullah dipromosikan ke tim senior Persis Solo. (Tim Media Persis Solo)
Faizul Mukhlisin dan Daffa Habibullah dipromosikan ke tim senior Persis Solo. (Tim Media Persis Solo)

RADARSOLO.COM – Bersinar di level akademi belum menjadi jaminan seorang pemain muda mampu langsung sukses di sepak bola profesional. Ketika naik ke tim senior, mereka menghadapi tuntutan berbeda. Persaingan lebih ketat, tekanan meningkat, sementara kesempatan bermain belum tentu datang sesuai harapan.

Direktur Akademi Persis Solo Rasiman menyebut fase transisi dari sepak bola usia muda menuju tim senior sebagai salah satu tahapan paling krusial dalam pengembangan pemain. Menurutnya, teknik, fisik, dan taktik bukan lagi satu-satunya ukuran ketika pemain mulai memasuki lingkungan profesional.

“Di senior ini bukan soal tiga tadi, bukan teknik, fisik, taktik. Ini is all about mental aspect. Bagaimana dia cope dengan situasi yang baru, confidence, communication, belief, dealing with struggle karena dia pasti akan struggle di situ. Terus bagaimana dia membawa diri di dalam tim itu yang akan menentukan,” ujar Rasiman kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Persis Solo Borong 4 Wajah Baru dalam Dua Hari, Total Sudah Datangkan 23 Rekrutan untuk Championship

Penilaian tersebut disampaikan Rasiman berkaitan dengan promosi dua pemain Persis U-20, Faizul Mukhlisin dan Dafa Habibullah, ke tim senior. Dia menilai keduanya sudah lebih siap dalam aspek teknik, fisik, dan taktikal setelah melewati proses pembinaan di akademi.

Namun, tantangan berikutnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pemain muda tidak selalu langsung mendapat menit bermain setelah bergabung dengan tim senior. Mereka bisa saja harus menunggu kesempatan, menghadapi masa kelelahan, hingga merasakan perubahan perhatian dari lingkungan sekitar. Situasi tersebut membutuhkan kesiapan mental agar pemain tidak kehilangan kepercayaan diri.

Baca Juga: Update Pemain Baru Persis Solo: Eks Arema Samuel Balinsa Merapat, Bidik Tiket Promosi

Rasiman menggambarkan fase itu sebagai perubahan status yang cukup besar. Dari pemain yang belum banyak dikenal di level akademi, mereka tiba-tiba berada di lingkungan sepak bola profesional dengan ekspektasi lebih tinggi.

“Dia mungkin lama tidak akan main atau segala macam, ataupun dia akan main bagaimana dia tiba-tiba from nobody become somebody. Itu juga akan menjadi beban sendiri untuk dia. Mindset, motivation, segala macam itu menjadi bagian yang sangat fundamental dalam transforming from youth footballer to professional footballer,” jelasnya.

Karena itu, promosi ke tim senior bukan akhir dari proses pembinaan. Akademi Persis tetap memantau perkembangan pemain yang berhasil naik level. Justru setelah promosi, pemain memasuki tahap baru untuk membuktikan apakah fondasi yang dibangun selama di akademi mampu diterapkan pada level profesional.

Dibentuk dengan Tuntutan Permainan

Selain aspek mental, tuntutan permainan di tim senior juga menjadi perhatian. Persis di bawah pelatih Ricky Nelson diproyeksikan mengandalkan intensitas pressing. Pemain dituntut cepat bereaksi setelah kehilangan bola dan mampu tetap bekerja dalam tekanan.

Kondisi tersebut membuat kesiapan fisik dan kemampuan membaca situasi pertandingan menjadi penting bagi pemain muda. Rasiman menegaskan Akademi Persis telah mempersiapkan pemain menghadapi tuntutan tersebut.

Program pembinaan tidak hanya berfokus pada teknik dan taktik, tetapi juga berbagai aspek yang dibutuhkan untuk menghadapi pertandingan profesional.

“Akademi ini sebetulnya kawah candradimuka, mempelajari semua aspect of the game, terutama demand of the game. Saya rasa anak-anak kita more than ready karena mereka selalu bermain dengan tipikal yang sama. Yang berbeda adalah opponent karena mungkin pemain senior benturannya lebih cepat,” terangnya.

Baca Juga: Sopo Sing Tekun Tekan: Faizul Mukhlisin Sukses Tembus Tim Senior Persis Solo di Liga 2 2026/2027

Persiapan fisik dilakukan melalui strength training secara rutin. Rasiman menyebut latihan kekuatan digelar dua kali dalam sepekan. Selama pramusim, porsinya bahkan ditingkatkan menjadi tiga kali.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk membangun kekuatan dan massa otot, tetapi juga membantu mengantisipasi risiko cedera ketika pemain menghadapi tuntutan pertandingan yang lebih tinggi.

Meski begitu, Rasiman menilai kekuatan fisik saja tidak cukup. Pemain muda juga membutuhkan kecerdasan bermain agar mampu mengambil keputusan lebih cepat dan menghindari benturan yang tidak perlu.

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika berhadapan dengan pemain senior, termasuk pemain asing yang memiliki massa otot lebih besar.

“Persoalan pemain muda adalah bagaimana dia mempunyai intelijen yang bagus karena menghindari benturan itu penting. Mereka harus mengambil keputusan lebih cepat karena tentunya massa otot pemain senior, apalagi pemain asing, jauh lebih besar. Itu penting untuk avoiding injury,” katanya.

Ujian dari Padatnya Kompetisi

Pengalaman pertandingan di level akademi menjadi modal lain sebelum pemain benar-benar masuk ke sepak bola senior. Rasiman menyebut pemain U-20 telah menjalani 32 pertandingan dengan jadwal padat, termasuk pertandingan back-to-back.

Beban kompetisi tersebut menjadi simulasi untuk menguji ketahanan pemain sekaligus melihat bagaimana mereka menghadapi tuntutan pertandingan dalam waktu berdekatan.

“Anak-anak kita mampu bermain 2x90 menit di hari Sabtu-Minggu. Itu sekalian tes yang bagus, jadi memang akan menghasilkan benar-benar pemain yang akan siap ke senior,” ungkapnya.

Baca Juga: Mental Jadi Penentu Pemain Muda Persis Solo Tembus Level Profesional

Pada akhirnya, kesiapan menuju level profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seorang pemain ketika berada di akademi. Mental untuk menghadapi persaingan, kecerdasan membaca permainan, kemampuan menjaga kondisi fisik, serta adaptasi terhadap lingkungan baru menjadi rangkaian ujian yang harus dilewati.

Bagi Akademi Persis, proses tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pemain muda yang naik ke tim senior tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki bekal untuk menghadapi kerasnya sepak bola profesional. (hj/nik)

 

Editor : Niko auglandy
persis solo EPA liga 2