Equestrian Solo Tertinggal dari Jakarta dan Bandung, Ini Kendala Utamanya

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 08:08 WIB
Atlet equestrian Kota Solo tengah mengikuti kejuaraan bergengsi. (Istimewa)
Atlet equestrian Kota Solo tengah mengikuti kejuaraan bergengsi. (Istimewa)

RADARSOLO.COM - Pola pembinaan yang berbeda juga terlihat pada cabang olahraga equestrian. Meski belum terlibat dalam kompetisi Popda maupun Porprov, pembinaan equestrian di Kota Solo masih menghadapi sejumlah tantangan.

Persoalannya bukan sekadar jumlah atlet, tetapi juga akses terhadap pengetahuan dan metode latihan yang terus berkembang.

Pelatih Solo Equestrian Center (SEC) Muhammad Hasan Saifullah atau Saiful menilai pembinaan equestrian di Solo masih tertinggal dibandingkan daerah seperti Jakarta dan Bandung.

Di dua daerah tersebut, kesempatan atlet dan klub untuk mendapatkan pengembangan ilmu maupun pelatihan dengan instruktur berpengalaman dinilai lebih terbuka.

“Kalau dibandingkan Jakarta atau Bandung, pembinaan equestrian di Solo masih tertinggal. Di sana latihan sudah lebih dulu dan pengetahuannya juga berkembang. Bahkan klub-klub di Jakarta bisa mengadakan coaching clinic dengan pelatih asing. Kami di Solo masih terus berproses untuk mengejar itu,” ungkap Saiful saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di Solo Equestrian Center, Selasa (9/9/2026).

Baca Juga: Aroma Persib Bandung Kental di PSGC Ciamis, Jadi Tim Satelit Maung Bandung di Liga 2

Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan pembinaan olahraga memang tidak bisa diseragamkan. Setiap cabor memiliki karakteristik, peralatan, serta kebutuhan latihan yang berbeda. Karena itu, dukungan yang diperlukan pun harus disesuaikan, baik melalui sekolah olahraga, klub, maupun program pembinaan lainnya.

Kepala Dispora Kota Solo Rini Kusumandari mengakui belum seluruh cabor memiliki fasilitas dan pola pembinaan yang ideal. Dengan jumlah cabang olahraga yang mencapai sekitar 62, pemerintah kota masih harus menyesuaikan dukungan berdasarkan kebutuhan masing-masing cabor dan kemampuan yang tersedia.

“Memang kalau kita lihat, ada beberapa cabang olahraga yang belum memiliki tempat atau pembinaan yang ideal. Karena jumlah cabor kita banyak, sekitar 62 cabor, sehingga belum semuanya bisa kita fasilitasi secara ideal. Tetapi kami tetap berupaya memberikan fasilitas sesuai kebutuhan dan kemampuan yang ada,” ujar Rini.

Baca Juga: Rekap Pemain Baru Deltras FC di Liga 2 : Eks PSS Sleman, Persija Jakarta, Persipura, dan Garudayaksa Merapat

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah di tengah upaya Surakarta mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan olahraga pelajar di Jawa Tengah. Raihan medali di Popda memang menjadi tolok ukur keberhasilan di arena pertandingan. Namun, capaian tersebut tidak berdiri sendiri.

Di belakang prestasi para atlet terdapat proses pembinaan yang panjang, mulai dari pencarian bibit, peningkatan kualitas latihan, ketersediaan fasilitas, hingga regenerasi. Tanpa dukungan yang berkelanjutan, prestasi yang diraih hari ini berisiko sulit dipertahankan ketika atlet memasuki jenjang berikutnya atau berganti generasi. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
equestrian popda pacuan kuda dispora