
RADARSOLO.COM – PSBS Biak menghadapi jalan terjal di Pegadaian Championship 2026/2027. Setelah musim lalu terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia, wakil Papua itu kini harus memulai petualangan di Liga 2 dengan beban tambahan berupa pengurangan empat poin.
Sanksi tersebut dijatuhkan operator kompetisi, I.League. Kondisi itu membuat PSBS harus bekerja ekstra keras sejak awal musim. Sebab, setiap poin menjadi sangat berharga jika mereka tidak ingin kembali terjerumus ke kasta yang lebih rendah.
Persoalan PSBS tidak berhenti pada pengurangan poin. Klub berjuluk Badai Pasifik tersebut juga menghadapi sanksi FIFA yang membuat mereka tidak leluasa melakukan perekrutan pemain. Sanksi itu berkaitan dengan persoalan tunggakan gaji yang sebelumnya terjadi di internal klub.
Situasi tersebut membuat PSBS praktis harus mengandalkan pemain yang sudah berada di dalam skuad. Mereka juga memberikan ruang lebih besar kepada pemain-pemain muda untuk mengisi tim utama.
Komposisi skuad PSBS musim ini menunjukkan betapa mudanya kekuatan mereka. Dari 23 pemain yang tercatat, mayoritas berada pada rentang usia 17 hingga 21 tahun.
Baca Juga: Hasil Pekan Kedua Super League: Persija Tundukkan Persib, Bali United Makin Kokoh di Puncak Liga 1
Beberapa di antaranya bahkan masih berusia 18 tahun. Mereka adalah Wafi, M. Ilham, Naufal, Resaa, Negara, Maheswara, Fathan NP, serta M. Kevin yang baru berusia 17 tahun.
Ada pula pemain berusia 19 tahun seperti Gesang CRS, M. Rumbewas, Fajar Galih, Leo Andreas, Pasha, dan Keanu. Sementara Alfan Tri, Moses M., dan sejumlah pemain lainnya masih berada pada usia awal 20-an.
Di tengah dominasi pemain muda tersebut, PSBS memang masih memiliki beberapa pemain berpengalaman. Rumere Jr tercatat berusia 38 tahun, Nelson Alom 36 tahun, dan eks Winger Persis Solo musim 2021-2023, Heri Susanto 32 tahun.
Gwijangge juga menjadi salah satu pemain yang lebih matang dengan usia 25 tahun.
Namun, secara keseluruhan, komposisi tersebut memperlihatkan tantangan besar yang harus dihadapi PSBS. Pengalaman pemain senior harus mampu berpadu dengan energi dan minimnya jam terbang sebagian besar pemain muda.
Gambaran sulitnya situasi PSBS bahkan sudah terlihat pada laga perdana Pegadaian Championship 2026/2027. Bertandang ke Stadion Sriwedari, Solo, PSBS dihantam Deltras FC dengan skor telak 0-5.
Kekalahan tersebut membuat PSBS harus segera berbenah. Bukan hanya karena mereka belum mengoleksi poin, tetapi juga karena sejak awal sudah membawa defisit empat poin akibat sanksi.
Artinya, PSBS membutuhkan kerja ekstra untuk sekadar keluar dari posisi terbawah. Setiap pertandingan ke depan bakal menjadi ujian penting bagi skuad muda mereka.
Jika tidak segera menemukan formula permainan dan konsistensi, situasi PSBS berpotensi semakin sulit. Apalagi persaingan Championship 2026/2027 berlangsung panjang dan persaingan di papan bawah dipastikan ketat.
Dengan kondisi finansial dan regulasi yang membatasi pergerakan klub, PSBS kini dituntut memaksimalkan sumber daya yang tersedia. Pemain muda bukan lagi sekadar pelapis, melainkan menjadi bagian penting dari upaya mereka menyelamatkan musim.
Perjalanan Badai Pasifik pun baru dimulai. Setelah degradasi dari kasta tertinggi, pengurangan empat poin, serta keterbatasan dalam mendatangkan pemain, PSBS menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan musim ini tidak berakhir dengan cerita yang lebih pahit. (nik)
Editor : Niko auglandy