Gereja Bunga Bakung, Pajang mulai dipadati jamaah, kemarin sore. Silih berganti para jamaah datang untuk mengikuti misa Natal. Turut serta jamaah anak-anak yang ikut bersama orang tuanya. Awalnya, suasana gereja tampak seperti hari-hari biasanya. Hanya lebih ramai karena saat itu adalah malam Natal. Namun kehebohan tiba-tiba terjadi.
Dua sinterklas datang ke gereja tersebut. Masing-masing membawa karung yang berisi hadiah. Satu sinterklas berpakaian biru, satunya lagi berwarna merah. Dengan gaya tawa yang khas ala sinterklas, keduanya melambaikan tangan ke anak-anak di sana. “Halo, ada yang mau hadiah?” katanya.
Anak-anak pun terkejut. Alih-alih segera mendekat ke sinterklas, mereka justru terdiam dan memandangi dari kejauhan. Namun ada juga anak-anak yang senang bukan kepalang kedatangan sinterklas di perayaan hari besar agamanya.
“Aku dapat buku tulis sama jajanan dari sinterklas. Mau aku makan setelah misa. Tidak boleh ada yang minta. Karena ini dari sinterklas. Aku senang sekali ketemu sinterklas. Selama ini cuma mendengar lewat cerita saja,” ujar salah seorang bocah Tata Cecilia kepada Jawa Pos Radar Solo sesaat setelah mendapat bingkisan dari sinterklas.
Kedua sinterklas itu tidak datang berdua. Mereka mengajak satu superhero idola anak-anak, spiderman. Spiderman membantu sinterklas membagi-bagikan bingkisan ke anak-anak. “Ayo jangan takut. Sini, sinterklas dan spiderman bawa banyak hadiah,” ajak salah seorang sinterklas.
Aksi unik ini dilakukan pasangan suami istri (pasutri), Agus Widanarko dan Fifit Sari. Keduanya ingin membahagiakan anak-anak dengan mewujudkan kehadiran sinterklas saat malam Natal. Istimewanya, keduanya adalah seorang muslim.
“Aksi ini sebenarnya rutin kami lakukan. Tiap seminggu sekali, kami berdua memberi kejutan kepada anak-anak tidak mampu, anak yatim, dan anak difabel yang berulang tahun. Kami memberikan kado ulang tahun buat mereka dengan romantis. Nah, dua tahun terakhir ini tiap Desember, banyak permintaan dari anak-anak yang merayakan Natal. Mayoritas mereka ingin bertemu sinterklas,” beber Agus Widanarko.
Danar, sapaan akrabnya, lantas mengajak sang istri tercinta untuk berkostum sinterklas saat melakukan aksi tiap Desember. Mereka datang memberi kejutan kepada anak-anak tersebut yang tidak pernah merasakan merayakan ulang tahun. Selain memberi hadiah, juga mendatangkan sinterklas.
“Aksi ini sebenarnya semata-mata hanya ingin mewujudkan mimpi anak-anak untuk bertemu sinterklas. Menghibur mereka saat Natal. Terlebih bagi anak-anak yang berulang tahun juga makin bahagia. Pesan toleransi yang ingin kami sampaikan adalah mari kita saling menghormati,” jelasnya.
Danar dan istri menyiapkan 60-70 kado untuk anak-anak yang berulang tahun. Berisi buku, tas, dan alat tulis. Khusus untuk anak-anak jamaah gereja, disediakan bingkisan snack. Seluruhnya, Danar dan istri menggunakan uang pribadinya sendiri.
“Aksi ini adalah bagian dari nazar kami berdua. Dulu nazarnya ingin diberi kelancaran saat menikah. Sekarang nazarnya ingin segera diberi momongan. Karena setahun menikah kami belum diberi anak,” sambungnya.
Biasanya, di luar momen Natal, Danar dan istri mengenakan kostum superhero sesuai permintaan anak-anak. Kostum badut pun Danar sanggup. Dengan catatan, kehadiran Danar dan istri yang berkostum harus dirahasiakan ke anak agar kesan kejutannya semakin terasa. Danar dan istri juga menyampaikan ke anak yang berulang tahun bahwa acara kejutan adalah ide dari sang bunda.
“Biar anak-anak semakin sayang sama ibunya. Kami kan ingin segera punya anak. Makanya kami ingin membahagiakan anak orang dulu,” imbuhnya. (*/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra