Kereta uap buatan Hanomag Hannover, Linden, Jerman 1921 ini melaju dengan kecepatan pelan dari Stasiun Purwosari menuju depan Loji Gandrung. Dengan menarik dua gerbong berwarna hijau, lokomotif kuno ini tiba di depan rumah dinas wali kota ukul 07.00.
Masyarakat yang sedang menikmati suasana car free day (CFD) ini pun langsung mendekat penasaran ingin melihat dari dekat kehadiran lokomotif berwarna hitam ini. Kereta api uap ini pun diserahkan langsung oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonia (KAI) Edi Sukmoro kepada Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo.
Setelah diresmikan, kereta ini langsung menghidupkan mesin untuk melanjutkan perjalanan membawa rombongan ke Stasiun Kota di Sangkrah. Dengan kecepatan rendah, kereta ini membelah lautan masyarakat yang berkerumum di kawasan CFD.
Tak kalah mewah, gerbong kereta juga didesain istimewa. Kayu jati menjadi interior utama pada gerbong berkapasitas 50 orang ini. Terdapat meja panjang yang dilengkapi dengan kursi melingkar, sehingga cocok dipakai untuk tempat rapat. Terdapat juga minibar di bagian belakang gerbong.
Edi mengatakan, Solo menjadi kota yang beruntung. Sebab, loko D1410 ini menjadi satu-satunya lokomotif uap yang masih bisa beroperasi. “Sebenarnya seri D14 ini ada 23 unit, namun tinggal sisa ini yang masih berjalan, sehingga harus kita jaga bersama,” ucapnya.
Ibarat orang, lanjut Edi, KA Djoko Kendil ini sudah berusia 99 tahun. Tentunya sudah langka. Meski sudah langka dan tua, kereta uap dengan panjang 20 Meter ini bisa dihidupkan kembali berkat para pensiunan PT KAI yang konsen dengan kereta lama.
“Saya berterima kasih kepada baik pegawai kita, dengan dibantu teman-teman pensiun turun tangan memperbaiki ini supaya jalan,” ucapnya.
Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo mengatakan, hadirnya kereta ini akan menambah pariwisata di Kota Bengawan. Kereta dengan kecepatan 45 kilometer per jam ini akan beroperasi Solo-Wonogiri. “Ya tergantung keinginan wisatawan lokal, nasional, dan internasional mintanya seperti apa. Tiket apa bisa dijual perorangan atau rombongan masih dilakukan kajian,” jelasnya.
Kepada Dinas Pariwisata Kota Surakarta Hasta Gunawan menambahkan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Sukoharjo dan Wonogiri apakah memungkinkan ada destinasi wisata sehingga kereta bisa berhenti. Seperti yang dilakukan di Solo. “Ya kita tidak memaksakan,” tuturnya. (atn/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra