Muhammad Raffi Akbar selaku ketua panitia acara menyatakan, acara kemarin merupakan kolaborasi antara pemuda Mojosemar dengan Lembaga Percik Salatiga. "Tujuannya untuk mengajak anak-anak kami agar mau bersahabatan, tanpa membedakan latar belakang. Serta untuk mensyukuri perbedaan juga," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.
Sementara itu, Koordinator Lembaga Percik Salatiga Singgih Nugroho mengatakan, sebenarnya sudah sejak 2018 lembaganya bekerja sama dengan kawasan Mojosemar. "Awalnya kami melakukan diskusi. Dimana di kawasan tersebut terdapat kelompok-kelompok yang masih intoleran," tuturnya.
"Memang jumlahnya sedikit, namun kalau tidak ada pencegahan, bisa terus melebar. Dari situ, kita bersama warga sepakat, mencoba meminimalisir intolerasi di wilayah ini," imbuh Singgih.
Alasan anak dan remaja diajak, lanjut Singgih, karena mereka ini adalah masa depan bangsa. Apabila tidak dilakukan pencegahan, mereka akan buta akan dasar-dasar negara. "Seperti yang kita tahu, beberapa kasus terorisme saat ini sudah melibatkan anak. Hal ini karena paham ideologi sudah berhasil dirusak," kata Dia.
Dia ikut mengecam akan terjadinya kejadian tersebut. ”Akhirnya tadi para anak melakukan deklarasi. Dimana mereka tidak mau diadu domba untuk memecah belah, membangun persaudaraan tanpa memikirkan perbedaan, dan akan menggunakan medsos sebagai sarana membangun kebersamaan," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surakarta Ahyani mengapresiasi gerakan ini. Menurutnya baru kali ini ada kegiatan merajut kebhinekaan yang mengajak anak-anak secara langsung. "Kami harapkan kelurahan-kelurahan lain bisa meniru, sehingga semua anak Solo menjunjung tinggi tolerasi," katanya. (atn/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra