Pedagang di pusat sandang terbesar di Jawa Tengah itu meminta pemerintah melakukan langkah cepat agar perdagangan tak semakin terpuruk.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo, aktivitas perdagangan di Pasar Klewer permanen maupun pasar darurat untuk pedagang Pasar Klewer sisi timur di Alun-Alun Utara Keraton Solo tidak seramai biasanya. Kantong parkir kendaraan yang biasanya penuh sesak, kini lengang.
"Sepi nyenyet (sekali). Omzet harian yang biasanya sampai Rp 10 juta, ini cuma Rp 1 juta. Kendaraan yang parkir itu milik pedagang, bukan pembeli. Padahal kalau normal, itu parkirannya pasti membeludak," ujar salah seorang pegawai di kios pasar darurat yang namanya enggan dikorankan, Sabtu siang (21/3).
Menurut sumber tersebut, ketika ada kasus korona di Kota Solo, kerap dikaitkan dengan Pasar Klewer. Kondisi tersebut menyebabkan pelanggan dari luar kota tidak kulakan di Klewer.
Banyak pedagang di pasar darurat tutup lebih awal. Karena memang ditunggu hingga sore hari jarang pembeli datang.
"Mayoritas pelanggan dari luar kota takut dan menganggap virusnya (korona) dari Solo. Ini mungkin harus diluruskan. Pasarnya aman, pembeli tak perlu takut datang ke sini," tegas perempuan paro baya itu.
Sepinya transaksi diamini Asti, pegawai di kios CC 01 Pasar Klewer permanen. “Luar biasa sepinya. Ya harapannya masyarakat juga tak perlu takut ke pasar. Pokoknya hati-hati saja dan jaga kebersihan," katanya.
Pemiliki Toko Eka Satria di kios CC02-03, Dwi, 35, berani memastikan Pasar Klewer aman. Karena itu, para pedagang dari luar kota tak perlu takut datang ke Pasar Klewer. Selama ini, para pedagang selalu menjaga kebersihan kios dan ditingkatkan ketika pagebluk korona.
"Dibandingkan hari biasa, ini terbilang sangat sepi. Setelah ada berita korona jadi sepi sekali. Ya harapannya pemerintah mengeluarkan imbauan atau pernyataan kalau pasar itu aman biar masyarakat tidak takut datang ke pasar," ucapnya.
Menurut Dwi, pengelola pasar juga sudah menyiapkan sarana dan prasarana penunjang, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan lainnya.
Menurunnya omzet juga dirasakan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. Mengingat lokasi wisata setempat ditutup pasca penetapan kejadian luar biasa (KLB) korona.
"Waktu belum ramai korona, sehari itu bisa bawa Rp 100 ribu. Kalau seperti sekarang, kadang balik modal tidak bisa. Sepi sekali memang. Sebenarnya takut juga kalau kena korona. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak dagang nanti tak bisa makan. Dagang juga tidak laku," beber Sri Sartini, pedagang kuliner, warga Kampung Suronatan RT 01 RW 02, Kelurahan Baluwarti, Pasar Kliwon.
Menyikapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surakarta Heru Sunardi berupaya agar para pedagang tidak terlalu banyak mengalami kerugian. Pihaknya menggencarkan sosialisasi ke publik bahwa pasar tradisional tetap beroperasi.
"Kami terus kampanyekan dan sebar informasi soal pasar tradisional tetap buka. Ini penting karena sebagian masyarakat menduga kalau pasar juga tutup. Nanti juga ada kebijakan-kebijakan lain. Sementara kita masih kaji dulu. Yang pasti, aktivitas jual beli tetap jalan sambil tetap waspada dan melakukan pencegahan penularan korona dengan perilaku hidup bersih dan sehat,” urai Heru. (ves/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra